Alih Fungsi Sektor Agraris ke Industri Belum Memberi Manfaat - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Alih Fungsi Sektor Agraris ke Industri Belum Memberi Manfaat

Alih Fungsi Sektor Agraris ke Industri Belum Memberi Manfaat

Written By Mang Raka on Selasa, 08 November 2016 | 13.30.00

PANGKALAN, RAKA - Karawang lumbung padi nasional, namun kondisi obyektif Karawang saat ini lebih dikenal sebagai Kota industri. Alih fungsi sektor agraris ke industri modern menjadi tumpang tindih antara kemajuan dan pengangguran.

Fenomena seperti ini sekarang ini mengemuka apabila berbicara tentang Karawang. Padahal, selain nilai-nilai sejarah, nilai yang sangat vital dan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat adalah nilai sosial-ekonomi. Lumbung padi sekarang tinggal nama, sementara peran aktif pemerintah yang harus menyaring para investor yang masuk ke Karawang guna terciptanya stabilitas kesejahteraan dikalangan petani juga belum bisa diharapkan.
"Konsep kebijakan yang salah kaprah membuat petani terasingkan oleh pelaku-pelaku industri modern dengan sistem kapitalisme yang unggul. Penerapan kebijakan ini harus dimusyawarahkan dan prospek pembangunan daerah harus mempunyai arah. Apakah kearah industri atau kearah agraris," ucap Enda, pemerhati pertanian Karawang, belum lama ini.
Enda malah mengkhawatirkan jika tidak secepatnya diantisipasi keadaan akan semakin memburuk dan Karawang akan kehilangan identitasnya sebagai daerah lumbung padi nasional. "Kalau terus dibiarkan kondisi obyektif karawang saat ini dan nanti akan kehilangan identitas daerah," ucapnya.
Ditambahkan Enda, karakteristik masyarakat Karawang terutama dalam mata pencaharian secara mayoritas menggantungkan penghasilannya pada hasil pertanian. Sedangkan, fokus pemerintah lebih tertuju pada industri. Ketidakseimbangan ini berdampak pada meningkatnya pengangguran dikalangan petani. Masalah lain ketika berbicara tenaga kerja, banyak lulusan SMA, SMK dan sederajat asal Karawang yang terasingkan ketika melamar ke tempat-tempat industri di daerah sendiri. "Banyak dari lulusan sekolah-sekolah Karawang luntang-lantung mencari pekerjaan diluar Karawang. Seperti Kawasan Jababeka dan sekitarnya. Sementara yang bernasib baik dan bisa bekerja di Karawang terhitung hanya sekitar 20%-30% saja," katanya.
Kaum urban yang berada di Karawang memunculkan permasalahan baru, dimana permasalahan tersebut terasa dampaknya kepada petani dan tenaga kerja lainnya. Tentu ini akan mengundang para investor untuk membangun perumahan layak huni untuk masyarakat urban dari kelas menengah sampai kelas atas. "Kondisi strategis dan letak geografis yang membuat investor berlomba-lomba untuk mengembangkan sahamnya dalam bentuk usaha nyata di karawang terasa menguntungkan," ucapnya.
Banyaknya kaum pendatang yang datang ke karawang akan berpengaruh terhadap budaya setempat, kini budaya konsumerisme lebih unggul dibandingkan budaya memanusiakan manusia. Karawang terkenal dengan Goyang Karawang, Topeng Banjet, Jaipongan, dan kebudayaan tradisional lainya yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun. Tidak hanya itu, permainan modern lebih unggul dibandikan permainan tradisional. Gotong royong masyarakatpun hampir tidak ada.
Untuk itu pemerintah kabupaten sebagai pemegang kekuasaan harus partisipatif dalam menumbuhkan kearifan lokal Karawang, agar kelestarian sejarah, sosial-ekonomi dan budaya menjadi kunci utama dalam mengembangkan identitas daerah menuju karawang yang indah, tertib, aman, bersih (interasih). (ari)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template