6.373 Warga Mengungsi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » 6.373 Warga Mengungsi

6.373 Warga Mengungsi

Written By Mang Raka on Selasa, 15 November 2016 | 19.07.00

Banjir yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Karawang sejak Minggu (13/11) sekitar pukul 15.00 WIB, ternyata belum surut hingga Senin (14/11) pukul 22.12 WIB. Ribuan warga diketahui masih bertahan di pengungsian, karena khawatir banjir semakin parah.
Berdasarkan pantauan Radar Karawang, banjir terparah melanda warga Desa Karangligar dan Mekarmulya di Kecamatan Telukjambe Barat, serta Kelurahan Karawang Kulon, Tanjungpura, dan Tanjungmekar di Kecamatan Karawang Barat. Ketinggian air di pemukiman warga yang dekat dengan pertemuan Sungai Citarum dan Cibeet, mencapai 3 meter. Ribuan warga mengungsi ke kantor desa, masjid, puskesmas, dan sebagian mengungsi ke rumah keluarga terdekat.
Hidup di pengungsian juga tidak nyaman. Selain rawan terkena penyakit diare, nasib korban banjir juga tidak menentu. Mereka terpaksa tidak bekerja, hingga makan alakadarnya. "Sejak Minggu jam dua siang, kita sudah mulai ngungsi sampai sekarang," ungkap Misnan (34) warga Mekarmulya.
Sedangkan di Karangligar, sebanyak 1.666 jiwa sudah angkat kaki dari rumah ke lokasi aman dari banjir. Warga mengaku khawatir ketinggian air akan terus bertambah, dan biasanya air lama akan surut. "Biar tidak hujan daerah kami ini selalu kebanjiran jika Sungai Citarum dan Cibeet meluap, karena hujan di daerah lain. Bukan hanya rumah, namun ratusan hektare sawah kami juga ikut terendam. Pemerintah harus memberikan solusi karena banjir selalu terjadi di wilayah kami," kata Asep, warga setempat.
Hal serupa juga dialami warga Perumahan Karaba Indah, Desa Wadas, Kecamatan Telukjambe Timur. Ratusan warga masih bertahan di sejumlah tempat pengungsian. Pasalnya, banjir yang menggenangi perumahan tersebut sejak Minggu (13/11) siang, belum surut.
Khusus di Kecamatan Telukjambe Timur, selain merendam Perumahan Karaba, banjir juga menggenangi Perumahan Bintang Alam yang berlokasi di Desa Telukjambe. Sekitar 4 ribu warga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan, karena ketinggian air mencapai 1,5 meter.
Kepala Desa Telukjambe, Uji Ujiana mengatakan, pihaknya terpaksa memaksa warga untuk mengungsi, karena ketinggian air sudah mencapai 1,5 meter. Ketinggian air dikhawatirkan akan terus bertambah seiring dengan curah hujan yang cukup tinggi di daerah hulu. "Wilayah kami dilalui oleh Sungai Citarum dan Cibeet, dan setiap musim hujan selalu terjadi banjir. Namun untuk tahun ini banjirnya cukup besar, sehingga kami meminta bantuan pemerintah untuk membantu warga kami," kata Uji kepada wartawan, Senin (14/11) kemarin.
Banjir juga memaksa sebagian warga Kelurahan Karawang Kulon, dan Tanjungmekar, Kecamatan Karawang Barat untuk mengungsi. Apalagi ketinggian air mencapai satu hingga 3 meter. Sebanyak 481 jiwa terpaksa mengungsi ke posko pengungsian Pendopo Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Warga sudah melakukan pengungsian Senin (14/11) pagi, ketika air mulai masuk ke rumah karena khawatir bertambah tinggi.
Lurah Tanjungmekar, Ahmad Ridwan BSc, mengatakan, banjir sudah menjadi bencana tahunan. Pihaknya mengupayakan pengadaan bantuan pangan diantaranya mie instan, kecap dan saos, minyak sayur, beras, air mineral, makanan kaleng, terpal dan tikar. "Kelurahan menghimbau agar masyarakat tetap waspada," ucapnya.
Banjir juga membuat pemilik kendaraan roda empat kelimpungan. Seperti yang terjadi Jalan Interchange Karawang Barat, mobil berbagai merek berjejer di pinggir jalan.
Asep Saefuddin (34) warga setempat mengatakan, puluhan mobil tersebut merupakan kendaraan yang diungsikan karena Desa Purwadana digenangi air setinggi pinggang orang dewasa. "Puluhan mobil ini dinaikan, kalau direndam air nanti mati," ucapnya.
Ia melanjutkan, sudah hampir 12 jam lamanya genangan air dari luapan Sungai Citarum belum surut. "Untuk mobil yang ada saya tidak tahu punya siapa, tapi ada sebagian milik warga," ucapnya.
Wakil Bupati Karawang Ahmad Zamakhsyari memantau kondisi masyarakat Karawang yang terkena bencana banjir di beberapa titik. Seperti Desa Karangligar dan Perumahan Bintang Alam. Jimmy beserta Ketua DPRD Toto Suripto, Wakil Ketua DPRD Sri Rahayu Agustina, Ketua Komisi C Elievia Khrissiana dan anggota DPRD lainya serta Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Karawang Asip Suhendar, juga mengunjungi posko pengungsi yang berada di Aula Kantor Disbudpar Karawang. "Kami minta petugas kesehatan siap siaga membantu korban banjir, begitu pun instansi lainnya seperti Dinas Sosial," ujar Jimmy.
Ia melanjutkan, Pemkab Karawang tidak bisa sendirian mengatasi banjir akibat luapan Sungai Citarum dan Cibeet. Menurut Jimmy harus ada kebijakan yang terintegrasi antara pemerintah daerah yang dilalui oleh aliran Sungai Citarum dan Cibeet. Ada sekitar 7 kabupaten/kota yang dilewati sungai tersebut yaitu Karawang, Purwakarta, Subang, Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat. "Ketujuh daerah ini yang harus membuat kebijakan bersama-sama dengan gubernur, untuk membuat kebijakan yang terintegrasi satu sama lainnya. Karawang ini posisinya di wilayah hilir dibanding kabupaten yang lain, sehingga aliran air lebih banyak meluap ke Karawang," katanya. (ops/dri/mg2/psn)

Korban Banjir
Kecamatan Karawang Barat
Nagasari
Tanjungmekar
Tunggakjati
Tanjungpura
Karawang Kulon

Kecamatan Pakisjaya
Telukbuyung
Segaran

Kecamatan Telukjambe Barat
Karangligar
Parungsari

Telukjambe Timur
Purwadana
Wadas
Sukaluyu


19.669 jiwa
6.373 orang mengungsi


5.776 rumah
4 sekolah
12 masjid
133 hektare sawah

*) sumber Badan Nasional Penanggulangan Bencana


Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template