Santri Bukan Hanya Milik Pesantren - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Santri Bukan Hanya Milik Pesantren

Santri Bukan Hanya Milik Pesantren

Written By Mang Raka on Sabtu, 22 Oktober 2016 | 12.30.00

TELAGASARI, RAKA - Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai hari Santri Nasional. Sebutan status santri identik dengan murid di pondok pesantren. Namun, para peserta didik di Madrasah Diniyah Taklimiyah Awwaliyah (DTA) yang lazim masih disebut siswa, sebenarnya sudah lama juga disebut santri di lingkungan Kementrian Agama. Namun pengakuan siswa DTA disebut santri ini masih belum banyak tersosialisasikan.
Dikatakan Ketua Kelompok Kerja Kepala DTA (KKDT) Kecamatan Telagasari H Ibnu Hajas AS, sebutan bagi peserta didik di DTA sebenarnya adalah santri, karena di lingkungan Kemenag tidak ada yang menyebut siswa DTA tetapi disebutnya adalah santri DTA. Penyematan santri bagi peserta didik DTA ini sudah lama, yang tujuannya hanya untuk membedakan siswa di lembaga pendidikan formal dengan non formal.
Apalagi status pendidikan DTA berbasis pondok pesantren. " DTA itu berbasis pontren, maka peserta didiknya bukanlah siswa tapi santri. Ini sudah lama sebagai pembeda antara siswa pendidikan formal dan nonformal," ungkap Kepala DTA Ghoyatul Jihad Pasirtalaga ini.
Sementara itu, Pimpinan Pondok pesantren Al Burdah Desa Bayurkidul, Kecamatan Cilamaya Kulon, KH Aning Amrullah mengatakan, santri akan semakin dikenal masyarakat luas setelah statusnya dijadikan hari penting nasional. Tapi yang terpenting soal hari santri ini pemerintah dimintanya harus konsisten memfolow up semua komponen yang terlibat dalam sistem kesantrian.
Baik soal sarana prasarananya, peluang yang sama dan pengakuan secara eksplisit atas keberadaan aset besar di daerah dan nasional. Sehingga, output yang dihasilkan, santri yang matang mendalami agama dan berpkepribadian luhur ini siap bersaing dengan lulusan pendidikan pada umumnya. "Yang terpenting di hari santri itu adalah dukungan dan pengakuan pemerintah terhadap sistem kesantrian," ujarnya.
Lebih jauh Aning menambahkan, terlepas sejarah dari mana asal-usul bisa muncul nama santri, yang jelas santri ini bisa membawa cahaya setelah dari pesantren. Katanya, bekal yang disyukuri dalam tatanan kehidupan sehari-hari adalah  iman, Islam dan ihsan. Modal penting ini sebut Aning, dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan berbangsa, beragama dan bernegara.
Prosesnya harus digembleng latihan-latihan kepemimpinan, kewirausahaan, kewiraan dan terus mengulik pemahaman ayat, hadits dan fatwa yang mendukung hal itu semua. "Agama adalah universal bisa mengikuti kemodernan zaman. Modal penting ini sudah ada. Yang kita yakini santri ini lebih siap menghadapi zaman," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template