Repotnya, Ngurus Anak Kurang Mampu Ber-IQ Tinggi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Repotnya, Ngurus Anak Kurang Mampu Ber-IQ Tinggi

Repotnya, Ngurus Anak Kurang Mampu Ber-IQ Tinggi

Written By Mang Raka on Selasa, 04 Oktober 2016 | 18.31.00

Sekolah Dasar dan SMP Hanya Dihuni 23 Siswa

PUNYA murid bodoh, menyebalkan. Namun, kalau murid kelewat cerdas, malah bisa bikin repot. Seperti yang dialami para pengajar di Cugenang Gifted School, sekolah khusus untuk anak genius dengan intelligence quotient (IQ) di atas 130.
Gifted children bisa diartikan anak genius. Memiliki IQ di atas 130. Namanya juga anak genius, mereka punya kemampuan inteligensi dan bakat spesifik di atas rata-rata anak sepantaran.  Di Indonesia, perhatian untuk gifted children masih sangat minim. Sebab, populasi gifted children hanya 2–5 persen. Kondisi tersebut membuat anak-anak yang sebenarnya genius dicap bandel, pemberontak, dan sulit diatur.
Nah, Cugenang Gifted School (CGS) sengaja didirikan untuk mewadahi anak-anak ”bandel” itu. Sekolah untuk anak-anak genius tersebut didirikan pada 2010 oleh seorang pengacara sekaligus pemerhati pendidikan anak, Rikrik Rizkiyana.
Berlokasi di daerah Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sekolah itu memiliki lingkungan yang sangat nyaman untuk belajar. Dari segi fasilitas, CGS sangat baik. Ada 18 ruang kelas pembelajaran. Selain itu, ada sebuah laboratorium, ruang perpustakaan, masjid, ruang makan bersama, aula serbaguna, teater multifungsi, serta sebuah gedung asrama bertingkat untuk para murid dan guru pendamping.
Tidak hanya memperhatikan sisi fungsi, bangunan CGS juga didesain sedemikian rupa sehingga menarik secara penampilan. Semua bangunan didesain dengan nuansa segi tiga. Terbilang elite untuk sekolah yang tidak memungut biaya alias menggratiskan muridnya.
Kepala Sekolah (Kasek) CGS Cipto Triyugo menyatakan, meski sekolah digratiskan, mendapatkan murid bukan urusan mudah bagi pihaknya. Hingga saat ini, total murid CGS dari kelas I SD hingga VIII SMP hanya 23 anak. ”Kenapa sulit? Sebab, tidak banyak orang paham apa itu gifted children,” ujar Cipto.
Kasek 42 tahun itu menuturkan, untuk mencari anak-anak gifted tersebut, pihaknya kerap melakukan road show ke sejumlah PAUD. Baik di Cianjur maupun daerah lain. Mereka juga berkampanye ke sekolah-sekolah umum untuk mencari anak-anak gifted itu.
Alumnus Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada itu menuturkan, publikasi di media juga cukup membantu sosialisasi CGS kepada masyarakat. Para orang tua dari luar daerah, bahkan luar Jawa, beberapa kali mengunjungi CGS untuk berkonsultasi.
Namun, tidak semua anak gifted bisa bersekolah di CGS. Ada beberapa tes yang harus diikuti calon murid. Salah satunya tes IQ. Calon murid setidaknya memiliki IQ di atas 130. Kemudian, ada juga tes kreativitas dan komitmen. Semua tes tersebut didampingi psikolog. Ada juga sesi wawancara dengan orang tua untuk mengetahui latar belakang keluarga calon murid.
”Satu lagi yang paling penting, usia calon murid tidak lebih dari delapan tahun. Karena kalau sudah di atas itu, susah ngebentuknya. Jadi, ada beberapa yang berkonsultasi ke kami, tapi terpaksa tidak kami terima. Sebab, meski IQ-nya tinggi, usianya sudah melewati delapan tahun,” tuturnya.
Ayah satu putri itu menjelaskan, membentuk anak-anak gifted sehingga mampu memaksimalkan potensi bukan hal mudah. Sebab, sekali anak gifted menyukai sesuatu, kemampuannya bisa melesat luar biasa di bidang tersebut. Dia mengungkapkan, pada awal bergabung dengan CGS, bisa dibilang anak-anak gifted itu liar. Bahkan, mereka tidak segan untuk bertindak ekstrem ketika marah. Di samping itu, anak-anak genius terkenal moody. Mereka juga terbiasa mengungkapkan apa pun yang ada dalam pikiran.
Keunikan-keunikan anak gifted tersebut ternyata tidak mudah dipahami semua orang, termasuk para guru. Cipto menuturkan, mencari pengajar yang betah mendampingi para murid gifted sangat sulit. Bukan hal baru bahwa pergantian guru di CGS cukup cepat. Sebab, mereka tidak terbiasa dan kaget dengan perilaku murid gifted yang memang berbeda dengan anak kebanyakan.
”Bahkan, ada yang baru tes calon guru tapi sudah kabur besoknya. Karena ya anak-anak gifted ini moody. Juga, kadang kalau gurunya nggak cocok, mereka bisa marah. Wong pernah ibu asramanya itu digigit kok,” tutur Cipto.
Begitu juga pimpinan sekolah. Cipto adalah kepala sekolah kelima sejak CGS didirikan. Sebelum dia, pemilik jabatan kepala sekolah itu berasal dari kalangan pakar pendidikan yang paham betul dunia anak-anak gifted. Secara ilmu, mereka cukup mumpuni. Namun, praktik langsung tampaknya tidak semudah yang dibayangkan. ”Ya, memang tidak mudah menghadapi anak-anak seperti ini. Saya ini kepala sekolah kelima,” ujar Cipto, lalu tersenyum.
Menurut Cipto, guru anak-anak gifted harus ekstrasabar dan kreatif. Sebab, karakteristik tiap-tiap anak sangat berbeda. Dia mencontohkan, ada murid bernama Iwang yang memang tidak mau mencatat materi pelajaran, namun ketika diberi pertanyaan selalu bisa menjawab. Waktu ujian pun, nilainya selalu bagus. Ada juga Irsyad. Bocah sembilan tahun itu sudah mahir dengan Corel Draw. ”Kalau kami tidak siap membawa keadaan, mereka akan bosan. Juga, dalam mengajar itu, mereka nggak suka yang bertele-tele, maunya yang lugas, langsung ke intinya. Saya pernah dikatain lebay sama mereka,” katanya.
Hal tersebut juga dirasakan salah seorang guru CGS, Bety Agustiani. Guru berusia 24 tahun itu sudah dua tahun mengabdi di CGS. Guru bahasa Indonesia tersebut mengungkapkan, meski dalam satu kelas yang diajarnya hanya dua orang, dirinya sempat kesulitan pada awalnya.
”Awalnya, murid saya cuma satu, namanya Veli. Dia ini tipikalnya suka asyik sendiri dan sukanya nulis terus. Jadi, mau saya nyanyi atau joget di depan dia sampai saya bikin yel-yel, dia ya nggak peduli, terus nulis aja. Jadi, untuk mata pelajaran yang seharusnya diselesaikan dalam waktu enam bulan, dia dalam tiga bulan sudah selesai,” paparnya.
Masalah muncul ketika Veli mendapat teman bernama Bunga. Berkebalikan dengan Veli, Bunga adalah siswi yang gemar mengobrol. Bahkan, saking sukanya, dia sering meminta Bety untuk terus bercerita sepanjang pelajaran. ”Makanya, kami dituntut harus kreatif dan bisa nuruti mood si anak. Kalau sudah bisa, biasanya mereka akan nurut kok,” ujarnya.
Selain Bety, ada Iwan Gunawan. Dia juga merupakan guru yang tergolong betah di CGS. Guru yang berusia 26 tahun tersebut bergabung sejak CGS didirikan. Dia pun terbiasa menghadapi berbagai macam anak gifted di sekolah tersebut. Alumnus Jurusan PGSD Universitas Pasundan, Bandung, itu menuturkan, kunci mendidik anak-anak gifted adalah sabar dan ikhlas. ”Karena mereka itu awalnya biasanya cukup liar,” katanya.
Iwan mencontohkan seorang siswa bernama Rama. Awalnya, Rama gemar mengancam dengan pisau ketika marah. Sejak kedatangan siswa tersebut, para guru pun harus pandai menyembunyikan senjata tajam seperti pisau. Namun, siswa itu sangat jago bermain catur. ”Misalnya diisengi sama seniornya atau kalah main catur, dia akan ngamuk. Sekarang, setelah lama di sini, paling-paling dia nangis. Kalau sudah begitu, dibiarkan saja, nanti juga dia akan mendekat sendiri. Karena nangisnya itu bisa bersambung,” kata Iwan.
Beda lagi pengalaman Rifky Tabrizi. Guru sains yang berusia 26 tahun itu adalah pengajar yang baru bergabung dengan CGS. Dia mengakui, di awal mengajar, dirinya sempat kaget dengan keterusterangan siswa dan kadar moody murid yang cukup tinggi. Namun, lama-kelamaan, dia terbiasa. ”Sekarang mulai biasa. Jadi, semoga saya betah di sini,” katanya. (ken)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template