Perajin Wayang Golek Hampir Terlupakan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Perajin Wayang Golek Hampir Terlupakan

Perajin Wayang Golek Hampir Terlupakan

Written By Mang Raka on Senin, 24 Oktober 2016 | 15.00.00

KLARI, RAKA – Selama puluhan tahun  Ana Sumarna (72) warga Kampung Jatirasa, RT 04/02 Desa Duren,  Kecematan Klari, menekuni profesi sebagai pembuat wayang golek. Namun salama itu juga, perhatian Pemerintah Daerah terhadap profesi itu dirasa amat kurang. Padahal, apa yang dilakukan Ana merupakan upaya menjaga kelestarian budaya sunda.

“Sudah dari tahun 60 an, saya melakoni profesi sebagai pembuat wayang golek. Tapi selama itu juga belum pernah ada satu pun pihak Pemerintah Daerah datang kesini,” tutur Ana. Bahkan, mesti satu satunya perajin wayang golek di wilayah Kecamatan Klari, hanya dilakukannya.
Hingga saat ini puluhan karya wayang golek yang dibuatnya, belum pernah mendapatkan respon dari pemerintah Setempat hingga Pemerintah Daerah. “Padahal, saya sudah pernah berkali kali mengajukan bantuan, agar saya punya tempat sanggar pembuatan tapi, tetap saja, hasilnya nihil. Pemerintah tidak ada yang peduli ,” ucapnya.
Dikatakan Ana, dirinya merasa iri dengan rekan-rekan seprofesinya di Kabupaten Purwakarta. Pemerintah disana bahkan memiliki kebijakan untuk melestarikan profesi langka tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap pekerjaan itu. “Kadang saya suka iri, kenapa orang yang membuat kipas dari bambu hingga asepan bisa diberikan fasilitas kalau di Purwakarta, tapi di Kabupaten Karawang, yang warganya punya keahlian membuat wayang golek, tanpa harus melihat contoh, tidak ada respon dari pemerintah,” ucapnya.
Anehnya, sambung dia, tidak hanya dari tingkat Pemerintah Daerah yang kurang perhatiannya dalam melestarikan budaya yang ada diwilayahnya. Akan tetapi, para pemuda saat ini, sudah sangat tidak lagi yang menyenangi budaya sunda merupakan budaya leluhurnya. “Masa, orang cina saja, yang buka usaha di Karawang, mereka sampai cari cari saya dulu ke rumah, ini pemerintah saya yang merupakan warga aslinya, tidak ada perhatian,” katanya.
Namun, dia mengatakan, mesti merasa kurang adanya kepedulian dari Pemerintah Daerah, akan tetapi,  dalam melestarikan budaya sunda, di perwayangan. Mesti dengan kondisi sanggar atau pembuatan wayang dengan tempat yang seadanya. Alhasil,  buatan wayangnya sudah mampu menembus keberbagai wilayah. “Kalau untuk pembuatan golek, saya sudah hampir ke luar provinsi kalau dulu waktu tahun 2000 an, tapi sekarang sudah sepi,” terangnya.
Kendati demikian, dia menambahkan, dalam pembuatan wayang golek yang dilakukannya. Hal tersebut tanpa mesti adanya contoh wujud wayang, pembuatan yang dilakukannya dapat dengan sempurna. “Kalau membuat wayang saya tidak perlu harus ada contoh gambar, sudah ada dalam pikiran,” katanya.
Hal senada diungkapkan Lili Sukarli tokoh Masyarakat sekaligus aparatur Desa Duren. Keinginannya agar dapat bisa terus melestarikan budaya sunda, dengan adanya pengrajin wayang golek di wilayah ini. Sangat diharapkannya, agar kepedulian pemerintah dapat mampu mengakui keberadaannya. Karena selama ini, puluhan tahun kerajinan yang dilakukan warga diwilayahnya, belum adanya perhatian dari Pemerintah Daerah. “Hebatnya, Abah Ana yang satu satunya pengrajin wayang golek di wilayah Kecamatan Klari, dalam membuat 100 golek dalam 1 paketnya, tanpa harus melihat contoh, sehingga orang orang seperti ini, mesti dijaga, dan karyanya harus dilestarikan,” katanya.
(ian)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template