Pabrik Lebih Menggiurkan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Pabrik Lebih Menggiurkan

Pabrik Lebih Menggiurkan

Written By Mang Raka on Jumat, 28 Oktober 2016 | 18.40.00

-Anak Petani Tinggalkan Sawah
-Anak Nelayan Enggan Melaut

KARAWANG, RAKA - Deru mesin pabrik semakin hari kian terdengar kencang hingga ke pelosok desa dan pesisir laut Kabupaten Karawang.
Upah menjadi buruh dianggap lebih menjanjikan, modern, tidak kotor, apalagi berurusan dengan hama atau ganasnya gelombang laut. Bayang-bayang hidup nyaman menjadi buruh pabrik, kini melunturkan semangat pemuda untuk bertani dan melaut di daerah yang dikenal sebagai lumbung padi ini.
Lahan pertanian seluas 97 ribu hektare hanya diisi oleh para orangtua yang sudah uzur. Ombak ganas tidak lagi diarungi laki-laki berbadan kuat. Hanya guratan lengan terlatih selama puluhan tahun, yang masih setia menarik jaring-jaring lusuh. Berharap ikan atau rajungan di laut seluas 82,3 mil bisa dibawa pulang, untuk menyambung kerasnya hidup sebagai nelayan.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karawang, Enjam Jamsir mengakui minat anak muda terhadap dunia pertanian sangat minim. Data yang dimilikinya, dari 2,2 juta jiwa penduduk Karawang, hanya 281 ribu orang yang menggeluti sektor pertanian. Dari jumlah itu, tidak semua anak petani meneruskan usaha orangtuanya. Mereka justru lebih tertarik menjadi konsultan pertanian. Jika persoalannya begitu, kata Enjam, maka petani tua akan habis, dan yang muda tidak mau bertani. "Solusi yang harus dilakukan pemerintah adalah pengadaan alat mesin pertanian, agar Karawang tetap sebagai pemasok beras nasional," ungkapnya kepada Radar Karawang, Kamis (27/10) kemarin.
Persoalan seretnya tenaga muda juga dialami di laut. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jejen Jaenal Mutakin mengatakan, dari 9.227 nelayan di Karawang, yang tergolong usia muda atau belum berkeluarga hanya 3.940 orang. "Lulusan SD 55 persen, dan buta huruf 20 persen," ujarnya.
Ia menilai, kondisi itu terjadi karena para nelayan tidak ingin anak-anaknya berprofesi seperti mereka, dan berharap bekerja di pabrik dengan gaji tinggi. "Kurang dari 15 persen nelayan yang ingin anaknya tetap jadi nelayan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Karawang, Kadarisman mengatakan, kesulitan mencari generasi muda yang berminat menggeluti dunia pertanian, bukan terjadi hanya di Karawang melainkan sudah menjadi isu nasional. Pemuda lebih memilih kerja di pabrik, karena menganggap penghasilan petani tidak menentu, pekerjaannya kotor, dan tidak keren. "Ya realitanya memang industri menjadi pilihan anak muda dibanding menjadi tani," terangnya.
Meski begitu, pihaknya tidak menyerah. Kadarisman mengaku sudah berupaya menggenjot minat anak-anak muda agar tertarik bertani. Diantaranya meregenerasi kepengurusan organisasi tani, dan menggelar berbagai macam pelatihan pertanian yang melibatkan anak muda. "Kita juga terus memberikan inovasi peralatan yang terbaru," terangnya.
Salah satu pemuda Desa Kalidung, Kecamatan Cibuaya, Irwandi Idris (25) mengaku tidak pernah terlitas dalam pikirannya menjadi petani, karena menjadi buruh pabrik lebih enak. "Selain tidak perlu modal besar dan memikirkan rugi, penghasilan buruh pabrik lebih jelas," ujarnya.
Alasan yang diutarakannya, kata Irwan, juga serupa dengan kebanyakan pemuda di desanya. Buktinya banyak anak muda yang mati-matian cari kerja di pabrik, dibanding jadi petani. "Ya kita bisa lihat di lapangan. Anak petani saja tidak mau jadi petani, apalagi jadi buruh tani," jelasnya. (dri/rud)

Pertanian
Luas lahan
97 ribu hektare
Petani
281 ribu orang

Perikanan
Luas laut
82,3 mil
Nelayan
9.227 orang
-Berusia muda
3.940 orang
-Pendidikan
Lulusan SD
55 persen
Buta huruf
20 persen

Industri
Jumlah pabrik
1.529 perusahaan
Luas lahan
19 ribu hektare
Bekerja
808.590
Pengangguran
141.345


Perbandingan Upah
Buruh pabrik
Upah
Rp 3.330.505
Biaya produksi
-

Petani
Upah
Rp 1,2 juta per bulan
Biaya produksi
Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per hektar


Nelayan
Upah
Rp 1,1 juta per bulan
Pengeluaran
Rp 561 ribu per bulan
Hasil survei Pendapatan Rumah Tangga Pertanian 2011
-Penghasilan
Rp 28 juta per tahun

Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Subsidi dan Edukasi diperlukan kepada petani, Jika dua hal tersebut dilaksanakan niscaya penghasilan petani dan nelayan akan melebihi penghasilan buruh pabrik dalam sebulan.

    Jangan sampai identitas Karawang hilang karena sistem ekonomi kapitalis.

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template