Kecamatan Batujaya Mulai Langka Gas - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Kecamatan Batujaya Mulai Langka Gas

Kecamatan Batujaya Mulai Langka Gas

Written By Mang Raka on Selasa, 11 Oktober 2016 | 14.00.00

BATUJAYA,RAKA- Menjelang Hari Raya Idul Fitri, gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kg mulai langka di beberapa lokasi di Utara Karawang. Selain langka, bahan bakar kebutuhan dapur itu harganya di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah dibuat Pemerintah Kabupaten Karawang. Keadaan ini membuat sejumlah warga kembali beralih menggunakan kompor tradisional.
Pantauan di lapangan langsung dari beberapa lokasi kecamatan di Karawang Utara, diantaranya di sekitaran Pasar Batujaya dan wilayah Kecamatan Cibuaya, gas 3 kg terlihat mulai langka di beberapa kios pengecer yang ada. Akibatnya, para ibu rumah tangga harus membeli dari tengah sentral kota seperti Rengasdengklok, dan perbatasan Bekasi-Kaawang. Ironisnya, harga beli para konsumen mencapai Rp18000-Rp21.000 per tabung, padahal HET sebenarnya adalah Rp15.000 per tabung.
Seperti yang dikatakan Nurhalimah (45) Warga Batujaya, tabung elpiji yang berukuran 3 kg, menjelang Idul Fitri saat ini sudah mulai langka dan harganya pun sudah mulai melambung tinggi.  “Biasanya suka ada pemainan oleh pedagang jika menjelang hari raya seperti ini. Karena kondisi ini hampir serupa ketika memasuki bulan puasa. Tetapi pada pertengahan puasa gas kembali normal,"ungkap Limah.
Dikatakannya, untuk mengganti kelangkaan ini, masyarakat diwilayahnya mulai kembali beralih menggunakan kompor tradisional. Dirinya juga sangat mengeluhkan dengan harga gas elpiji yang semakin mahal dan keberadaannya pun semakin susah didapat. Kelangkaan ini diperkirakan terjadi sepekan sebelum lebaran. "Semakin dibutuhkan semakin sulit gas 3 kg itu didapatkan. Padahal saya sering lihat banyaknya mobil pengisian gas LPG mondar-mandir ketiap agen, namun gas masih tetap langka saja,"terangnya.
Sementara itu beberapa pemilik kios pengecer gas elpiji 3 kg dari dua lokasi itu menyebutkan, jika pasokan gas bersubsidi dari pangkalan belum datang sehingga stok barang habis. Soal harga di atas HET, mereka tidak mau berkomentar lebih rinci. “Kita hanya penjual tentu ingin mencari keuntungan,” ujar Solihin pedagang gas 3 kg bersubsidi, diwilayah Batujaya singkat.
Di sisi lain, kelangkaan LPG membuat banyaknya masyarakat yang beralih mengunakan kompor tradisional tanah liat. Hal itu juga membawa rejeki tersendiri bagi penjual kompor tradisional. Jumardi misalnya, salah seorang penjual tungku atau kompor tadisional mengaku, dalam satu bulan terakhir ini permintaan tungku buatannya mulai banyak lagi dan digandrungi pembeli. Jika dua bulan lalu penjualan tungku semen buatannya berkisar antara 5-10 unit, dalam satu bulan terakhir ini permintaan tungku semennya melonjak sampai 10 hingga 15 unit per hari. “Saya sudah meprediksi kalau menjelang lebaran pasti akan banyak yang pesan. Ini dipelajari oleh saya dari tahun-tahun sebelumnya,"ungkapnya.
Biasanya, lanjut dia, menjual tungku ini dengan harga yang variatif, dari harga Rp 40 ribu hingga Rp60 ribu rupiah saja per buah. Bahan bakar tungku itu pun hanya menggunakan serbuk bekas gergajian kayu yang mudah didapatkan di tempat-tempat penggergajian kayu di desa-desa. Dan memanpaatkan ranting-ranting kayu yang jatuh. "Sedikit banyaknya tungku yang dijual oleh saya bisa membantu permasalahan masyarakat kecil untuk memasak. Apalagi ditengah tekanan harga gas LPG yang mulai merangkak naik dan keberadaannya pun sangat sulit didapat," pungkasnya. (fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template