Jurusan Pertanian, Hidup Segan Mati tak Mau - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Jurusan Pertanian, Hidup Segan Mati tak Mau

Jurusan Pertanian, Hidup Segan Mati tak Mau

Written By Mang Raka on Jumat, 28 Oktober 2016 | 18.42.00

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan pertanian seharusnya bisa diandalkan melahirkan para petani intelektual. Terobosan di bidang pertanian berteknologi mutakhir bukan mustahil bisa terwujud.
Namun harapan tinggal harapan, karena dari dua sekolah yang memiliki jurusan pertanian, tidak satupun menjadi favorit para siswa. Sekalipun ada yang mendaftar, hanya sebagai alternatif terakhir setelah gagal masuk jurusan lain semisal otomotif atau teknik komputer jaringan. Hal itu diakui Ketua Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMKN 1 Cikampek tahun 2016-2017, Martias Ali Umar. Ia mengatakan yang paling banyak diminati adalah jurusan otomotif, baru kemudian memilih jurusan lain, dan pilihan terakhir adalah pertanian. "Kalau dari pertama (tujuan ngambil jurusan pertanian) mungkin nggak. Karena kalau dilihat passing grade, mesin yang awal diburu, kemudian saat tidak diterima pindah ke jurusan lain, baru ke pertanian," ujar Martias kepada Radar Karawang, Kamis (27/10).
Meski demikian, ada siswa yang memang dari awal memilih jurusan pertanian. Meski hanya sebagian kecil. Itupun karena saat ini lulusan pertanian juga bisa kerja di pabrik otomotif. Artinya jurusan pertanian tidak didiskriminasikan. "Kalau kerja untuk jadi operator, terkadang jurusan tidak dilihat. Yang penting memiliki kemampuan. Kalau saat training ternyata bagus, maka bisa kerja di pabrik otomotif," ujarnya.
Dia juga menyampaikan, dari tahun ke tahun minat peserta didik mengambil jurusan pertanian semakin meningkat. Terlebih setelah Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) sudah menjadi negeri. Sehingga mereka yang mengambil jurusan pertanian, memiliki target bisa melanjutkan kuliah ke Unsika. "Yang memilih jurusan pertanian dari awal rata-rata mereka bukan ingin kerja. Tapi ingin melanjutkan kuliah ke Unsika, dengan mengambil jurusan pertanian," paparnya.
Ketua Program Keahlian, Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura, dan Pembenihan dan Kultur Jaringan SMKN 1 Cikampek,
Yayah Djuariah menyampaikan, rata-rata siswa yang daftar jurusan pertanian ragu-ragu. Karena mereka awalnya memilih jurusan teknik, dan pertanian alternatif terakhir. "Yang murni memiliki keinginan untuk masuk jurusan pertanian paling di bawah 50 persen. Itu bisa dilihat saat PPDB online, di hari terakhir baru pada daftar ke pertanian. Tapi saat mereka sudah masuk, ternyata betah sampai lulus. Bahkan yang keluar karena tidak suka (ngambil jurusan pertanian) hanya satu dua orang saja," jelasnya.
Hal serupa juga dialami SMKN Pertanian Karawang. Meski setiap tahun jumlah siswa sekolah berlokasi di Rawagabus, Kecamatan Karawang Timur, itu meningkat, tapi rata-rata lulusannya tidak kembali ke ladang. Melainkan kerja di pabrik.
Wakasek Kesiswaan SMKN Pertanian Karawang Didin Jaenudin S.Pt mengatakan, dalam dua waktu tahun terakhir jumlah siswa yang terdaftar meningkat, karena ada tiga jurusan baru yaitu teknik sepeda motor, teknik komputer jaringan, serta teknologi pangan dan hasil pertanian. "Keberadaan 3 jurusan baru membuat keberadaan jurusan pertanian masih mampu bertahan, dengan jumlah siswa yang cukup tinggi setiap tahunnya," paparnya.
Namun, Didin tidak menampik jika lulusan SMKN Pertanian lebih memilih kerja di pabrik, dibanding menjadi petani. Bahkan, tujuan sekolahnya saat ini adalah mempersiapkan siswanya menjadi tenaga kerja di industri. "Kalau lulusan yang kemarin sebanyak 42 orang, hanya 10 orang saja yang melanjutkan kuliah (jurusan pertanian). Itu kebanyakan anak-anak yang memang orangtuanya merupakan Gapoktan (gabungan kelompok tani) yang ada di Karawang," katanya.
Jadi Bahan Olok-olok
Siswa SMKN 1 Cikampek jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura kelas XII, Muhammad Alghani, Haderi Akbar dan Muhammad Rizki Agustia, ketiganya mengaku memiliki minat yang tinggi dari awal daftar sekolah mengambil jurusan pertanian. "Kami dari awal memang minat kejurusan pertanian. Nanti kedepan, ingin menjadi generasi petani yang labih baik lagi. Apalagi jurusan pertanian di sekolah itu sangat jarang," ujarnya.
Bahkan mereka juga mengaku merasa bangga dengan sekolah mengambil jurusan pertanian. Disamping jurusan pertanian itu sangat jarang, pertanian menjadi identitas bagi bangsa Indonesia khususnya Karawang. Meski mereka mengaku sangat banyak dicemooh, atau diledek oleh siswa jurusan lain, bahkan oleh warga yang ada di lingkungan tempat mereka tinggal. "Kami bangga, soalnya jurusan pertanian jarang. Kalau yang ngeledek itu sudah biasa. Kita menyikapinya tinggal tujukin kualitas saja," ucapnya.
Ia melanjutkan, ada perbedaan yang sangat mencolok antara petani yang terdidik, dengan petani yang tidak terdidik. Kalau petani biasa atau yang tidak terdidik hanya mengandalkan satu O yaitu otot saja, sedangkan kalau yang terdidik menggunakan dua O, yaitu otot dan otak. "Kami ingin ciptakan petanian modern. Atau disebut juga dengan industri pertanian. Kami juga ingin meciptakan petani yang berdasi. Seperti di negara-negara maju," ujarnya.
Lain dari itu, dukungan pemerintah terhadap siswa jurusan pertanian cukup baik. Karena semua siswa jurusan pertanian mendapatkan beasiswa berupa uang pendidikan sebesar Rp 1 juta setiap tahun. "Kami sudah dapat beasiswa dari pemerintah pusat dua kali. Kelas XI dan kelas XII. Sebutannya beasiswa khusus siswa jurusan pertanian. Jadi diluar BSM atau KIP," pungkasnya.
Sedangkan Ketua OSIS SMKN Pertanian, Kikin mengaku selepas lulus memilih melanjutkan ke perguruan tinggi. "Kalau saya sendiri ingin kuliah. Melanjutkan pendidikan di pertanian, tapi bagaimana nanti juga, tergantung keadaan," pungkasnya. (zie/ian)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template