Hijaukan Kembali Hutan Sanggabuana - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Hijaukan Kembali Hutan Sanggabuana

Hijaukan Kembali Hutan Sanggabuana

Written By Mang Raka on Senin, 31 Oktober 2016 | 16.00.00

PANGKALAN, RAKA - Penanaman ribuan pohon selain akan memberi manfaat dikemudian hari, hal lain adalah menciptakan lapangan bagi masyarakat setempat. Karenanya diharapkan agar ada aturan setiap perusahaan membuat ruang terbuka hijau dan harus dilaksanakan, minimal agar lingkungan tidak rusak terus menerus. Melalui program ini bukan saja saja akan menciptakan kantung-kantung air baru di wilayah tersebut, tetapi juga menjadi penyaring udara.

Hal itu diungkapkan Marta, pemerhati masalah lingkungan, belum lama ini. Warga Kecamatan Pangkalan ini mengatakan jika mengamati siklus air, maka di tempat-tempat yang hutannya masih bagus, maka air akan terus mengalir di sungai meskipun musim kemarau. Pertanyaannya, dari manakah air tersebut berasal. Air tersebut berasal dari dalam tanah yang subur dan banyak akar pohon. Ketika hujan jatuh membasahi tanah yang subur, air tersebut akan disimpan di dalam serasa dan humus yang masih kasar.
"Tanah yang subur seperti spons ajaib, yang dapat menyimpan air sampai sepuluh kali dari beratnya. Tanah subur ini, tidaklah tebal. Ia hanya selapis tipis yang menjadi gudang penyimpan air," ucapnya.
Menyinggung kondisi Pegunungan Sanggabuana saat ini, diperoleh informasi kerusakan parah yang terjadi di puncak gunung Sanggabuana seolah dibiarkan tiga Kesatuan Pemangku Hutan (KPH), yang bertanggung jawab atas keberadaan gunung berketinggian 1.291 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Disebutkan aktivis lingkungan Oepas Korak, Ahmad, berada di tiga wilayah kawasan hutan KPH Purwakarta, KPH Bogor, dan KPH Cianjur, ternyata tidak membuat puncak gunung Sanggabuana terjaga baik, bahkan terkesan ditelantarkan.
Padahal, kelestarian gunung tersebut sangat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan hidup masyarakat yang tinggal di kaki gunung seperti masyarakat Kampung Jayanti, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru. Berdasarkan penelusuran RAKA bersama tim Oepas Korak beberapa waktu lalu, kondisi puncak gunung tertinggi di Kabupaten Karawang itu mengkhawatirkan. Selain disulap menjadi pemukiman plus warung, di beberapa titik terlihat perkebunan kopi. Bahkan, keberadaan 'maqam' di puncak tersebut mendukung kerusakan lebih parah, karena mayoritas peziarah nakal kerap membuang sampah, mengambil kulit kayu, dan membakar batang pohon untuk perapian. Selain itu ditemukan pula pakaian dalam perempuan dan laki-laki di aliran hulu sungai Cigentis. "Kami sudah beberapa kali mengadukan hal ini kepada KPH Purwakarta melalui Asisten Perhutani (Asper) Pangkalan, namun tidak ada tindakan nyata," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Bahkan, beberapa waktu lalu warga beserta aparat Desa Mekarbuana sempat bermusyawarah dan meminta agar status gunung tersebut dirubah menjadi hutan lindung. "Memang Sanggabuana hingga saat ini statusnya sebagai hutan produktif, hal itupula yang menyebabkan seolah hutan ini sengaja dibiarkan. Tapi melihat kenyataan sekarang, gunung ini menjadi harapan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, semisal kebutuhan air. Selain itu, kestabilan ekosistem yang ada, sangat berpengaruh terhadap kehidupan warga setempat," ungkapnya.
Dikatakan Kepala Desa Mekarbuana, Andi, perubahan status tersebut akan mempermudah pihaknya untuk melakukan konservasi, dan menindak pelaku perusakan hutan dengan mendirikan bangunan di wilayah Gunung Sanggabuana. "Sampai kapanpun, apabila status Sanggabuana belum berubah, maka selamanya petugas dan pemerhati lingkungan akan terkendala dalam melakukan pengarahan dan perbaikan," tandasnya.
Sementara kawasan pegunungan Sanggabuana yang menjadi lahan penanaman kopi kini semakin meluas. Jika petugas terkait tidak segera mengambil tindakan dimungkinkan di puncak Gunung Sanggabuana tidak akan ada lagi pohon konservasi.  Suhartono, anggota komunitas Pemuda Peduli Lingkungan Telukjambe Barat, mengatakan itu. Dia menyadari gunung Sanggabuana bukan ada pada satu daerah administrasi saja, tetapi terbagi atas empat kabupaten. Mulai kabupaten Karawang, Purwakarta, Cianjur dan Bogor. Malah terindikasi bahwa banyaknya perubahan atau over alih fungsi lahan di bagian punak Gunung Sanggabuana, secara administrasi masuk wilayah kabupaten Bogor.
Kendati demikian imbasnya tetap akan terpengaruh hingga Karawang. Karenanya Suhartono berharap untuk permasalahan over alih fungsi lahan di puncak Gunung Sanggabuana pihak propinsi harus turun tangan, karena menyangkut empat kabupaten.
Pemuda inipun menyampaikan bahwa untuk diwilayah administrasi Karawang relatif cukup aman, sebab seperti yang diketahuinya, ketika ada yang mendirikan saung dan tinggal di wilayah Karawang masyarakat dan aparatur pemerintahnya bekerjasama menurunkan pemilik saung tersebut.
Dikatakan Suhartono, keadaan Gunung Sanggabuana sangatlah memprihatinkan. Hal itu, karena sudah banyak orang yang berupaya  mengalihfungsikan lahan, dimana pegunungan yang seharusnya sepi ini malah dijadikan sebagai tempat berjualan. Bukannya tidak boleh akan tetapi sedikit banyak berdampak pada ekosistem yang ada di Gunung Sanggabuana semakin berkurang, baik flora maupun fauna. "Saya harap pihak perhutani dapat memberikan ketegasan terhadap para warga yang sudah menetap di puncak gunung sanggabuana demi terjaganya ekosistem yang ada. Terutama pada Perhutani di kabupaten masing-masing agar melakukan kerja sama yang baik dalam menjaga Gunung Sanggabuana," ungkap Suhartono. (ari)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template