Geng Motor jadi Ustad - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Geng Motor jadi Ustad

Geng Motor jadi Ustad

Written By Mang Raka on Jumat, 28 Oktober 2016 | 18.40.00

-Pelopor Tahfiz Quran Metode Tamyiz

Tak ada satupun manusia bisa tahu nasibnya di masa depan. Kadang perilaku baik berujung jahat. Dan yang jahat bisa menjadi baik. Itulah kehidupan.
Seperti yang dialami Jeje Fauzi, pemuda asal Telukjambe Timur. Dia tidak menyangka bisa menjadi lentera bagi anak didiknya. Padahal, jauh sebelum dari kehidupannya saat ini, kerap berurusan dengan aparat kepolisian. "Dulu waktu saya SMA pas kelas 2 sering ribut. Dan juga parahnya pas masuk geng motor sering dicari-cari orang ke rumah," ungkapnya kepada Radar Karawang, Kamis (27/10).
Saat itu, kenang Jeje, tepatnya tahun 2004, kedua orangtua pemuda yang lahir tahun 1990 itu mengusirnya dari rumah. Umpatan kekecewaan orangtuanya terus terngiang saat Jeje pergi meninggalkan rumah. Dalam perjalanan, akhirnya dia memilih bermuara ke Pondok Pesantren Al Mushlih Telukjambe Timur. "Saya inget dulu waktu SMP pernah pesantren di Al Mushlih, akhirnya kembali lagi ke sana," tuturnya.
Di pesantren itulah titik balik kehidupannya. Seiring waktu, hasil gemblengan pesantren akhirnya mengubah sikap dan prilaku anak kedua dari tiga bersaudara tersebut. "Karena tujuan saya ingin merubah hidup saya yang tadinya terasa seperti sampah, maka pekerjaan di pabrik saya tinggalkan agar bisa fokus belajar di pesantren," ucapnya.
Tidak cukup satu pesantren, Jeje juga menimba ilmu dari KH Abaza di Indramayu. Hasilnya luar biasa. Ia menjadi pelopor metode Tamyiz yaitu metode pintar menerjemahkan Alquran dan kitab kuning di Kabupaten Karawang. "Metode Tamyiz yang saya dapatkan di Indramayu dulu, selama 2 bulan mampu saya terapkan di pondok yang saya tempati saat ini. Karena untuk paham metodenya, ada tahapan 1,2,3 dan 4. Semua mudah dipahami santri, karena caranya melalui perantara dinyanyikan," katanya.
Ia melanjutkan, metode yang dibawanya tersebut, membuat santrinya mampu menyebarkan metodenya ke berbagai kalangan yang ada di wilayahnya masing-masing. "Tekad saya cuma satu, ingin memasyarakatkan metode Tamyiz ini ke seluruh santri yang ada Indonesia. Tidak perlu pesantren, siapapun bisa memahami dengan cepat, karena ada cara khusus untuk belajar memahami isim dan Fi'il dalam metode ini," katanya.
Kendati demikian, dari seluruh usahanya mendalami agama, ada satu hal yang bisa membuatnya bahagia. Yaitu maaf dari kedua orangtuanya, yang selama sekian tahun menganggapnya seperti sampah. "Sekarang orangtua sudah tidak lagi kecewa. Bahkan, sekarang kedua adik saya membanggakan saya sebagai kakaknya," pungkasnya. (ian)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template