Dirut RSUD Tampik Menolak Pasien - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Dirut RSUD Tampik Menolak Pasien

Dirut RSUD Tampik Menolak Pasien

Written By Mang Raka on Jumat, 21 Oktober 2016 | 12.00.00

KARAWANG, RAKA - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang, agaknya belum terbebas dari tudingan miring. Herannya, tuduhan tersebut selalu sama dengan tuduhan-tuduhan sebelumnya, yakni rumah sakit menolak pasien. 


Terkait itu, Direktur Utama RSUD Karawang dr Asep Lukman mengatakan Rumah Sakit plat merah itu tidak akan pernah menahan dan menolak pasien. Terkait pemberitaan viral di media sosial tenang penolakan terhadap pasien bernama Ramdhani (2) dan Indirani (9). Lukman mengatakan, pemberitaan yang muncul tidaklah benar, karena pihaknya tidak merasa menolak kedua pasien tersebut. "Pasien yang di rujuk ke IGD itu ada lima katagori P1 sampai P5. Semuanya punya tahap kekritisan masing-masing. Nah yang tersebut itu sebenarnya tidak termasuk, jadi hanya kami periksa dan diminta kembali besoknya untuk kembali melakukan cek media," katanya, Kamis (20/10).
Lukman juga menjelaskan secara terinci perlu adanya pemahaman bagi semua masyarakat terkait sistem pelayan di Karawang agar kejadian miss persepsi tersebut tidak terulang kembali."Yang terjadi bukan penolakan,namun memang pasieun tidak dalam kondisi kritis yang membutuhkan penanganan IGD,Pasieun perlu melakukan cek media karna secara rekam jejak pasieun sudah ada di RSUD sebelumnya," katanya.
Senada dengan RSUD,Rumah Sakit Mandaya (Cito) melalui dr.Aditya Angga Dharma,Medical Service Manager mengatakan kondisi pasien dalam keadaan tidak kritis atau tidak membutuhkan penanganan cepat."Kondisi pasien dalam keadaan normal,dalam artian memang penderita penyakit pelemahan otak kondisinya tulangnya kaku.Dan pasien hanya membutuhkan kemo terapi atau cek media," ungkapnya.
Terkait RSUD mungkin sudah memiliki rekam pasien sehingga pasien disarankan untuk datang keesokan harinya,tidak masuk ruang rawat inap."Di Mandaya memang ini pasien baru,sehingga kita terima rawat untuk melakukan berbagai proses cek lab," terangnya.
Kriteria pelayanan di IGD memang setiap rumah sakit memiliki standar yang sama,tapi terkadang komunikasi yang mungkin harus jelas pada pasien atau keluarga."Tidak sedikit memang akibat salah komunikasi,keluarga pasien menyalahkan pelayanan yang ada,seperti contoh,pasien yang teriak-terian lebih belakangan dilayani ketimbang pasien yang masuk dalam kondisi diam.Nah keluarga pasien kadang salah presepsi seolah rumah sakit tidak melayani pasien yang berteriak lebih dulu.Karena berdasrkan data kesehatan,yang berteriak masih memiliki kondisi lebih baik dibanding yang tadi diam," katanya.
Terkait dua pasien yang lain, dr.Aditya Angga Dharma menjelaskan pasien yang bernama Yahya (2) adik dari Indirani (9) masuk belakangan dengan keluhan panas kejang."Untuk Yahya memang masuk belakangan,dan kondisi pasien dalam keadaan deman tinggi dan kejang."Untuk Yahya keluhan deman tinggi dan kejang.Dan untuk Ramdhani gizi buruk.Dan saat ini ketiga pasien dalam perawatan di Mandaya," katanya.
Iin ibu pasien Indriani (9) mengatakan memang semalam di RSUD diminta kembali siang harinya untuk dilakukan cek media."Saat membawa Indriani,dokter di IGD meminta untuk membawanya kembali siang harinya melalui poli anak,"akui IIn kepada media. (dri)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template