Transmigran Cilamaya Sengsara di Kalimantan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Transmigran Cilamaya Sengsara di Kalimantan

Transmigran Cilamaya Sengsara di Kalimantan

Written By Mang Raka on Rabu, 21 September 2016 | 15.00.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Sepuluh kepala keluarga (KK) asal Karawang yang dikirim ke Kalimantan Barat dalam program transimgrasi tahun 2010, nasibnya memprihatinkan.
Berbeda dengan transmigran asal kabupaten/kota lainnya yang masih mengucurkan uang saku untuk keberlangsungan ekonomi di wilayah hutan Kalimantan, Pemkab Karawang justru menutup mata. Akibatnya, 7 dari 10 KK yang dikirim ke Desa Kamboja, Kecamatan Pulomaya, Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat itu memilih kembali ke Karawang karena faktor ekonomi.

Salah seorang warga Transmigran asal Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Harun (45) mengatakan, dirinya bersama istri dan satu anaknya ikut program transmigrasi ke Kalimantan Barat bersama 9 KK lainnya. Meskipun disediakan lahan garapan sawah 2 hektar, namun 5 tahun menetap di Kalbar, dirinya balik merasa gundah gulana.
Musababnya, dirinya sering ngiri pada warga transmigran dari asal kabupaten/kota lain di Jawa yang berada di Kalimantan. Dinas Transmigrasi kota asalnya sangat perhatian. Selain sesekali menengok memastikan kemajuan ekonomi, juga rutin memberikan uang saku selama menjadi warga di sana.
Sementara dirinya yang sudah mempelopori pembuatan jalan 8 kilometer hutan ini, tidak mendapatkan apa-apa dari kota asal, Karawang. Bahkan, akibat himpitan ekonomi, modal utama seperti ladang sawah dan peralatannya sudah dijual, tak ayal faktor ini yang menjadi penyebab gagalnya program transmigrasi, sehingga banyak diantara KK asal Karawang kembali lagi. "Kita diberi garapan sawah dan modal, awalnya Rp 1,5 tahun saja, itupun gak tahu dari pusat atau kabupaten/kota setempat, selebihnya ya kita benar-benar bingung," ungkapnya.
Lebih jauh Harun menambahkan, dirinya baru 3 hari berada di Cilamaya dan akan kembali ke Kalbar minggu depan. Dirinya pulang dulu ke Karawang selain masih ingin bersilaturahmi dengan sanak saudara, juga ingin curhat soal perhatian Pemkab Karawang selama ini. Seolah-olah, dirinya ikut program transmigrasi ini dibuang cuma-cuma, bukan malah menambah minat masyarakat miskin pindah ke Kalimantan untuk mandiri dan menciptakan lingkungan wilayah transmigrasi lebih maju, justru himpitan ekonomi yang semakin dirasakan.
Harun menyebut, beberapa kabupaten yang perhatian serius adalah Grobogan Jawa Timur dan kota lain di Jawa Tengah. Mereka, sampai memberikan uang saku rutin Rp 2-3 juta per bulannya, tapi dirinya malah menjual tanah demi bertahan hidup. Padahal, ia sendiri mempelompori jalan Teluk Batang yang sebelumnya ditumbuhi ilalang dan tanaman, dibuat menjadi jalan selebar 2 meter dan panjang 8 kilometer.
Meskipun jauh dari hotmix atau coran, tapi itu dilakukan demi kebutuhan jual beli hasil bumi di wilayah itu. Karenanya ia berharap ada perhatian khusus soal ini dari Karawang. "Yang ada saya jual tanah demi bertahan hidup, malah susah di sana pak, yang lain juga bukan soal gak betah, tapi faktor ekonomi penyebabnya," pungkasnya.
Staf Kesos Cilamaya Wetan H Nurhasan mengaku prihatin atas kondisi transmigran yang kesannya dipindahkan cuma-cuma. Sejahtera di awal, miskin kembali setelah bertahun-tahun tinggal dan menetap di sana. Dikatakan, tujuan transmigrasi ini adalah untuk meningkatkan taraf hidup, jika program ini sukses, bisa jadi ajang promosi pada warga-warga miskin lainnya dari Karawang untuk bertransmigrasi.
Namun, bagaimana bisa dipromosikan jika hidupnya tidak pernah dilihat di lokasi tempatnya tinggal. Harusnya memang, Disnakertrans kerjasama dengan Disnakertrans kota tujuan transmigran, untuk memantau kesejahteraan masyarakat transmigran. "Kalau sukses kan bisa jadi promosi, tapi kalau begini siapa yang peduli," ungkapnya. (rud)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template