Sawah Pesisir Dikuasai Orang Luar - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sawah Pesisir Dikuasai Orang Luar

Sawah Pesisir Dikuasai Orang Luar

Written By Mang Raka on Jumat, 30 September 2016 | 13.30.00

-Mayoritas Petani Tidak Sejahtera

CIBUAYA, RAKA - Profil pertanian karawang sungguh sangat diluar dugaan, pasalnya daerah lain memandang Kabupaten Karawang adalah sebagai lumbung padi yang bisa menyejahterakan masyarakatnya. Tetapi kenyataan yang ada, pendapatan petani sangat kecil dan miskin akibat banyaknya buruh tani ketimbang pemilik sawah asal pribumi Karawang. Perbandingannya bahkan cukup tajam yakni 70 persen warga luar kota 30 persen asli pribumi.
Hilman Tamimi, warga Cibuaya yang juga seorang aktivis ini membenarkan banyaknya buruh tani ketimbang pemilik sawah terjadi sejak lama. Pendapatan kuli tani sangatlah minim, apa lagi sekarang proses panen bisa dilakukan menggunakan mesin bukan manual seperti sebelumnya, ini sangat berpengaruh dengan pendapatan. "Yang mendapatkan untung hanya pemilik sawah sedangkan para buruh tani hanya sebagai penggarap dengan hasil 6 berbanding 1. Bisa di bayangkan berapa yang di dapat penggarap," ujarnya.
Ini, lanjut Hilman, bisa menjadi persoalan sangat serius jika terus dibiarkan tanpa adanya perhatian dari pemerintah daerah. Sebab, kesenjangan yang ditimbulkan sejatinya akan memicu kecemburuan sosial serta berdampak sistemik tatkala sesuatu yang tidak baik menimpa pemilik lahan ataupun hasil produksi mereka. “Misalkan, kalau yang punya tanah kena kasus, penggarap otomatis akan kehilangan mata pencahariannya karena tidak ada yang mau menggaji mereka. Nah, yang paling lazim biasanya ialah, jika panen gagal. Dengan sistem bagi hasil, jika panen mengalami kegagalan, otomatis hasil yang mereka idam-idamkan sekian bulan lama akan buyar seketika. Mereka akan mendapatkan sesuai hasil panen saja, padahal selama 3 bulan mereka bekerja mati-matian agar lahan mereka bisa menuai hasil maksimal,” tandas Hilman.
Taraf kesejahteraan para buruh tani pun setali tiga uang. Dasuki (45) warga Dusun Cibarusah RT 12/06, Desa Gempolkarya, Kecamatan Tirtajaya, mengakui bahwa sebagai buruh tani penghasilannya didapat dari bekerja sebagai penggarap sawah milik warga Bandung yang memiliki area sawah seluas 3 hektar dengan rincian pendapatan bagi hasil. "Saya hanya penggarap. Kalau berhasil dapat bagian 1 per  6, satu buat saya, 6 untuk pemilik, karena modal semua ditanggung pemilik. Memang sih tidak seberapa kalau dibandingkan dengan buruh harian , kalau harian sudah pasti dapat bayaran rutin,sedangkan saya kalau panen saja, seandainya fuso atau hasil panen kita diganggu hama, ya kami cuma bisa gigit jari," sesalnya. (fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template