Sadar Lingkungan Masih Rendah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sadar Lingkungan Masih Rendah

Sadar Lingkungan Masih Rendah

Written By Mang Raka on Kamis, 29 September 2016 | 14.00.00

-Tanggul Citarum Kerap Dirusak

RENGASDENGKLOK,RAKA- Potensi kerajinan batu bata di Desa Karyasari, Kecamatan Rengasdengklok cukup besar. Banyak masyarakat di desa ini menjadi perajin batu bata. Mereka memanfaatkan tanah di bantaran sungai Citarum sebagai bahan baku.
Rohmat, pemilik pencetakan batu bata di Desa Karyasari menyatakan, bahwa persediaan tanah yang digunakan warga Kampung Gudang Bata alias GB, berasal dari lokasi bantaran tanggul sungai Citarum. Logikanya, aktifitas produksi pembuatan batu bata di Dusun Krajan A dan B, Desa Karyasari, ditunjang oleh dampak sedimentasi aliran sungai terpanjang di Jawa Barat ini. "Untuk satu cetakan batu bata sisa pakai, pengusaha batu bata mematok harga 350 rupiah. Selanjutnya, pihak yang disebut sebagai penyedia batu bata memberikan penawaran harga mencapai 500 rupiah," terangnya.
Idealnya, sebut dia, sumber daya alam berupa tanah dengan pengelolaan di bawah aturan main Perusahaan Jasa Tirta Desa Karyasari, Kecamatan Rengadengklok, menyeragamkan jenis tempat tinggal penduduk setempat dengan tipe permanen. "Kalaupun bahan baku utama pembuatan batu bata yang dihasilkan warga Desa Karyasari dan desa desa lainnya sudah tersedia secara alami. Masalahnya, usaha jual-beli batu bata sulit berkembang dan maju akibat kesadaran sumber daya masyarakat setempat," terangnya lagi.
Senada diulas aktifis Grand Rangger asal Karyasari, Itho Bule, aktifitas galian tanah di sepanjang bantaran tanggul sungai Citarum, diakui menjadi nilai komersil yang begitu potensial. Mengingat, selisih pendapatan bagi pengusaha batu bata cukup besar melihat jumlah produksi batu bata. "Setiap tahun, jumlah batu bata siap pakai yang dihasilkan warga setempat ditaksir mencapai hingga ratusan ribu. Tapi, potensi keuntungan dari usaha batu bata kerap disesalkan, mengingat bentuk tanggungjawab instansi pengelola bantaran tanggul sungai terhadap sisa lokasi galian C,"terangnya.
Berdasarkan hasil monitoring instansi pemerintah desa dan kecamatan setempat, sisa-sisa aktifitas produksi batu bata yang dikerjakan para pengusaha dengan sistim pemberdayaan warga kerap melubangi kulit bumi dengan kedalaman hingga 5-10 meter. Ironisnya, pemahaman masyarakat terhadap dampak kerusakan kulit bumi sangat minim.(fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template