Lawan Kaki Gajah, Butuh Rp 3,8 Miliar - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Lawan Kaki Gajah, Butuh Rp 3,8 Miliar

Lawan Kaki Gajah, Butuh Rp 3,8 Miliar

Written By Mang Raka on Kamis, 29 September 2016 | 19.23.00

-Sudah 47 Orang Lumpuh, 4 Meninggal

CILAMAYA KULON, RAKA - Filariasis atau penyakit kaki gajah memang tidak mematikan. Namun jika tidak ditangani, penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini bisa membuat cacat.
Anggaran yang dikeluarkan untuk melawan penyakit itu juga tidak sedikit, yaitu Rp 3,8 miliar per tahun. Dana tersebut berasal dari pemerintah pusat sekitar Rp 1 miliar, dan sisanya ditanggung Pemerintah Kabupaten Karawang Rp 2,2 miliar.
Kepala UPTD Puskesmas Pasirukem Kecamatan Cilamaya Kulon, Dedi Sugandhi SKm mengatakan, pengadaan obat filariasis untuk masyarakat Karawang merupakan anggaran terbesar. Meski obat kapsul jenis albendazole dan diethylcarbamazine murah yaitu Rp 1.700 per orangnya, jika dikalikan distribusi masyarakat Karawang sebanyak 2.247.347 jiwa, maka total anggaran untuk pengadaan obat tersebut mencapai Rp 3,8 miliar. "Penyakit Kaki gajah bisa menyerang kaki, tangan hingga alat kelamin. Paling banyak terjadi di Kecamatan Pedes yaitu sebanyak 6 kasus, sementara di Cilamaya Kulon baru menemui 3 kasus, yaitu di Desa Tegalurung, Manggungjaya dan Sumurgede," ungkapnya kepada Radar Karawang, Rabu (28/9) kemarin.
Tahun ini, kata Dedi, memasuki tahun ke empat upaya pemerintah mencegah penularan penyakit kaki gajah. Untuk itu, sosialisasi Pencanangan Pemberian Pencegahan Obat Massal (POMP) akan kembali digelar pada bulan depan. Karena penyakit yang disebabkan nyamuk dari 3 spesies filaria ini, dapat jadi vektor yang membahayakan. "Nyamuk itu hidup di rawa-rawa, hingga lingkungan rumah.
Gejala klinisnya bisa menyerang dengan demam berulang dan benjolan di paha," ujarnya.
Sementara Kepala UPTD Puskesmas Jomin Hj Aas Suparidah A,SKM meminta masyarakat mewaspadai oknum yang memanfaatkan pemberian obat pencegahan kaki gajah. Pasalnya, bisa jadi obat tersebut ilegal. "Makanya masyarakat harus hati-hati. Ini program pemerintah, jadi gratis," ujarnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang mencatat, penderita fillariasis di wilayah ini semakin bertambah. Selama tiga tahun terakhir, terdata hanya 47 penderita. Tetapi, setelah pendataan baru jumlahnya bertambah jadi 51 orang. Dengan bertambahnya penderita penyakit ini, Karawang masih berstatus KLB penyakit kaki gajah.
Programmer Pengendali Penyakit Bersumber Binatang (P2BB) Dinas Kesehatan Karawang, Dadang Wahyudin mengatakan, dari 51 penderita itu empat orang di antaranya telah meninggal dunia. Tetapi, keempat warga ini meninggal bukan disebabkan penyakit kaki gajah. Melainkan, karena faktor usia yang telah lanjut. "Jadi, yang masih kita awasi tinggal 47 penderita lagi," katanya.
Menurutnya, dari 30 kecamatan yang ada, 15 kecamatan di antaranya endemis penyakit kaki gajah. Adapun, penderita terbanyaknya terdapat di Kecamatan Pedes. Penyakit ini, terjadi saat penderita terinfeksi mikro fillaria.
Mikro fillaria merupakan cacing yang berukuran sangat kecil. Cacing tersebut dibawa oleh nyamuk. Semua jenis nyamuk bisa menjadi vektor (pembawa) mikro fillaria ini. Jadi, saat nyamuk pembawa mikro fillaria itu menggigit bagian tubuh, maka warga yang digigitnya bisa menjadi penderita penyakit kaki gajah. (rud/zie/psn)

Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. jadi, kapan dilaksanakannya penyuluhan sosialisasi Pencanangan Pemberian Pencegahan Obat Massal (POMP)di daerah karawang?? Tempatnya dimana saja??

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template