Demi Keluarga Rela Terserang Penyakit Ispa - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Demi Keluarga Rela Terserang Penyakit Ispa

Demi Keluarga Rela Terserang Penyakit Ispa

Written By Mang Raka on Selasa, 20 September 2016 | 15.00.00

PANGKALAN,RAKA - Di balik pabrik kapur yang menghasilkan asap dan menimbulkan masalah, ternyata ada beberapa orang yang sangat mengggantungkan hidupnya pada pabrik-pabrik tersebut. Demi bisa menafkahi keluarga mereka rela bekerja penuh resiko sebagai pekerja bakar kapur.

Memang, ini dilema. Disatu sisi keberadaan pabrik kapur meresahkan warga dan pengendara jalan, terutama ketika asap menutupi jarak pandang mereka ketika mengendarai kendaraan. Tapi disisi yang lain ratusan orang jadi buruh pekerja batu kapur menggantungkan hidupnya pada pabrik pembakaran batu kapur. Resiko besar yang dihadapinya bukan saja dari asap yang dihasilkan dari produksi pabrik batu kapur tapi kecelakaan kerja pun mengintai mereka. Bahkan tidak jarang hal itu mereka hiraukan dengan dalih asalkan bisa mendapatkan uang lebih. Jam kerja mereka pun variasi, kadang hingga larut malam.
Seperti dituturkan Iwang (40), Warga Kampung Lio, Desa Tamansari, Senin (19/9). Selain pabrik kapur sudah tidak ada lagi yang bisa diandalkan. Hidupnya hanya mengandalkan pabrik kapur sebagai mata pencaharian utamanya. Kini sekitar 10 orang satu kampungnya semua bekerja di pabrik yang penuh resiko itu. "Apa yang bisa saya kerjakan ya bekerja di pabrik kapur. Karena sawah tidak punya dan pendidikan rendah susah masuk kerja di pabrik kawasan. Maka andalan saya disini saja. Saya sudah bekerja hampir 5 tahun dan begitu pun teman-teman saya yang satu kampung mereka bekerja di sini pula. Hanya ini saja harapan saya mendapatkan rezeki," keluhnya.
Lain lagi dengan Ade (44) baginya peluang kerja di pabrik terbatas. Sementara hanya pabrik pembakaran kapur saja yang tersedia. Untuk bekerja di pabrik kapur tidak ada persyaratan formalnya. Yang penting kerja semangat dan mau kerja keras maka harapan bisa mendapatkan uang lebih pun bisa didapat. "Yang penting sehat saja.  Kalau sehat kan bisa kerja lembur hingga malam hari. Memang resikonya kami disini kotor-kotoran. Mau bagaimana lagi. Upaya saya cari kerja sudah ke mana-mana tapi hasilnya nihil," ungkapnya.
Di tempat terpisah, Nandang (39), pemilik salah Lio pembakaran batu kapur di Pangkalan, menuturkan, dirinya berharap pemerintah bisa menyimak agar ada solusi yang arif tentang keberadaan pabrik kapur yang sering dikeluhkan banyak pengguna jalan. Akses jalan pun menjadi pertimbangan utama para pelaku usaha batu kapur. Sementara banyak warga yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan pabrik. "Jika memang menjadi kendala produksi kami memang pembakaran batu kapur. Sementara jalan akses merupakan sarana mobilitas kami, dan warga yang menjadi pekerja banyak menggantungkan hidupnya pada keberadaan pabrik. Saya harap pemerintah bisa bijak menyikapi persoalan," tuturnya. (yfn)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template