Awas Paham Anti Pancasila dan NKRI Tumbuh di Sekolah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Awas Paham Anti Pancasila dan NKRI Tumbuh di Sekolah

Awas Paham Anti Pancasila dan NKRI Tumbuh di Sekolah

Written By Mang Raka on Selasa, 13 September 2016 | 15.00.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Pondok Pesantren Ashidiqiyah di Desa Sukatani Kecamatan Cilamaya Wetan, sudah menerapkan kurikulum tambahan untuk menangkal pemahaman radikalisme yang anti Pancasila dan NKRI kepada ratusan santrinya beberapa bulan terakhir.
Pimpinan Pondok Pesantren Ashidiqiyah KH Hasannuri Hidayatullah, disela-sela pelantikan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Karawang Sabtu (10/9) kemarin.
Menurut Rois Syuriah PCNU Karawang ini, rata-rata orang sudah lantang menentang masjid-masjidnya mendadak diisi jemaah tertentu dewasa ini. Kemudian juga vokal menentang aliran-aliran yang anti pancasila maupun NKRI, pertanyaannya kemana saja jamaah yang dimiliki bangsa Indonesia itu sendiri? Menurut hemat dia, ada perilaku dan sistem yang tidak dijalankan selama ini sehingga masjid-masjid dan pemahaman bernegara ini lebih dikuasai golongan tertentu.
Makanya saat ini, umat islam Ahlussunnah Wal Jamaah harus dibentengi ilmu dan ketaqwaan, karena dengan modal, aliran-aliran yang non Aswaja itu akan terkikis dengan sendirinya. "Umat islam Aswaja bisa berbuat apa saat masjidnya sudah dikuasai golongan tertentu, apalagi yang anti pancasila dan NKRI? Maka membentengi itu semua, kita tidak bisa sembarang menangkalnya, kecuali harus dengan ilmu dan ketaqwaan," pesan dia.
Kiai yang digadang-gadang nyalon ketum Tanfidziyah PWNU Jawa Barat ini menambahkan di pesantrennya, para santri sudah dibekali pelajaran tambahan yaitu bela negara. Dimana aparat dari TNI dan kepolisian rutin melakukan pembinaan dan materi hukum dan kebangsaan guna memperkuat kecintaan pada tanah air. Makanya, IPNU dan IPPNU punya ruang yang jelas untuk mensosialisasikan program dan jaringan kaderisasi.
Karena basis banom NU termuda ini ada di sekolah-sekolah. Baginya sambung Gus Hasan, tidak begitu penting jika hanya membawa ikatan pelajaran saja, tapi yang dibawanya adalah nama dibelakangnya, yaitu Nahdlatul Ulama. Hal ini merupakan beban tersendiri, karena baik dan buruknya organisasi ini, IPNU dan IPPNU sudah membawa nama ulama yang wajib mencerminkan sikap-sikap para ulama.
Untuk itu, IPNU dan IPPNU harus menjadi corong mengawal eksistensi islam Ahlussunnah Waljamaah pelajar di masa-masa mendatang. Entah disadari atau tidak, ada saja materi soal di sekolah tingkat SMP ataupun SMA/sederajat yang menyinggung di luar ajaran ahlusunnah waljamaah. Entah karena pembuat soal yang tidak tahu, atau memang karena NU yang tidak faham. Makanya ilmu dan taqwalah yang bisa membentengi semua itu. "Di pesantren, santri saya diberi pelajaran tambahan, yaitu bela negara, yang ngisi materinya TNI dan Kepolisian, agar mereka dibekali ilmu yang cakap dalam bernegara," tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Tanfidziyah PCNU Karawang, Ir H Karyan menuturkan, IPNU dan IPPNU harus sejalan dengan visi misi organisasi NU, ia meminta pemahaman Peraturan Organisasi maupun AD/ART nya dimatangkan. Dirinya berharap, kegiatan-kegiatan IPNU dan IPPNU kedepan, semakin masif digelar di pesantren-pesantren. Karena di lembaga inilah, lahir ulama-ulama NU, sehingga minat tuan rumah berorganisasi di NU semakin tinggi.
Disamping juga terus meluaskan jaringan di sekolah-sekolah umum lainnya, agar roda organisasi bisa terus berjalan efektif, setidaknya untuk menangkal faham-faham radikal yang masuk lewat lembaga-lembaga dakwah di sekolah saat ini. "Harus sejalan dengan visi/misi dan AD/ART NU, semoga dalam menjalankan tugas 2 tahun kedepan, IPNU dan IPPNU semakin masif sambangi pesantren-pesantren," harapnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template