Saksi Pernikahan Prabu Siliwangi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , , » Saksi Pernikahan Prabu Siliwangi

Saksi Pernikahan Prabu Siliwangi

Written By Mang Raka on Selasa, 16 Agustus 2016 | 17.00.00

-Masjid Tertua di Pulau Jawa

KARAWANG, RAKA - Islam masuk di Karawang ditandai dengan datangnya seorang wali asal Campa Syekh Hasanudin atau yang akrab dikenal Syech Qurotul ain Putra dari Syech Yusuf Sidik Waliyullah asal Malaka. Peradaban Islam di Karawang, juga ditopang dari keberadaan bangunan masjid pertama yang dibangunnya dari tahun 1340 Saka atau 1418 Masehi.  Masjid tertua yang berlokasi di Alun-Alun Barat Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang barat ini di namai " Masjid Agung Karawang".
Namun, bangunan yang tegak diabad 15 ini dulunya merupakan Musala kecil dan Pesantren Quro tempat Nyi Subang Larang menimba ilmu menikah. Walaupun awalnya berbentuk bangunan Joglo bertiang utama (soko guru) yang memiliki empat tiang utama, bentuk atap Limas bersusun Tiga yang melambangkan, Iman, Islam dan Ihsan. Kayu-kayu peninggalan bangunan masjid ini masih tersimpan rapih dilantai bangunan Masjid Agung saat ini. "Dulunya dari cerita, Masjid yang dibangun Syech Murshadatillah ini akrab disebut orang lokal dengan nama Manggil, Manggul, kalau kalau sekarang kan akrabnya disebut Masjid Agung," ungkap Juru Pelihara Masjid Agung Dodi kepada Radar Karawang.
Dia bercerita, bahwa Masjid Agung ini banyak penyebutannya, seperti Masjid Syech Quro, Masjdi Kaum maupun Masjid Alun-Alun, tapi yang jelas masjid ini adalah masjid paling tua di Karawang. Dalam Replika yang ditunjukan, Dodi menyebut bahwa Masjid Agung ini sudah mengalami 3 kali perbaikan, pertama sebutnya sejak didirikan 1418 M, kemudian 1635 Masehi oleh Adipati Singaperbangsa dan direhabilitasi lanjutan  Raden Mangku Tohir Mangkudijoyo tahun 1954 hingga yang terakhir bangunan dibenahi lagi oleh Bupati Sumarno Suradi bersama para ulama tahun 1994. Meskipun berubah wujud dari tahun ketahun, tapi limbah bangunan lama yang terbuat dari kayu-kayu balok besar dan kuat masih tersimpan rapih dilantai atas Masjid. Bahkan, kekuatan kayu-kayu abad 15 itu sangat tahan rayap dan sulit digergaji dan di paku. Ada satu keanehan sebut Dodi, saat bagian kayu tersebut hendak digergaji berulangkali untuk menyempurnakan pintu atas untuk didaur ulang, malah gergajinya yang selalu patah. "Walau Masjid berganti fisik bangunannya, tapi kayu-kayu peninggalan Syech Quro saat mendirikan masjid diabad 15 itu masih tersimpan rapi," katanya.
Masjid yang menjadi saksi atas pernikahan Nyi Subang Larang putrinya Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon dengan putra mahkota kerajaan Pajajaran putra dari Prabu Angga Larang yang bernama Raden Pamanah Rasa tahun 1422 M ini sebut Dodi, juga terdapat makam-makam para leluhur dibagian belakang Masjid, salah satunya adalah Syekh Abdurahman yang banyak di ziarahi. Syekh Abdurahman sendiri, disebut-sebut sebagai tangan kanannya Syekh Quro, bahkan banyak anggapan kuat pula bahwa disamping makam Syech Abdurahman di Masjid Agung juga ada makam Syech Quro yang menempel di pondasi bangunan belakang Masjid. Sementara yang di Kecamatan Lemahabang acapkali disebut sebagai Maqom alias patilasan syekh Quro. "Wallahu'alam kalau makam asli dimana, tapi banyak yang beranggapan juga disamping Syeh Abdurahman ini adalah makam Syeh Quro," kata dia.
Sementara itu, Budayawan binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang, Engkos Kosasih menuturkan, Masjid Agung Karawang ini merupakan masjid tertua di Karawang. Sang pendiri, yaitu Syech Quro datang ke Karawang lewat pendaratannya di Pelabuhan Bunut Kertayasa atau sekarang akrab dengan kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat saat ini. Peradaban islam di Karawang itu dimulai dari kedatangan seorang ulama dahulu yang kemudian bermukim, hingga mendirikan masjid untuk pengembangan Dakwah. Tidak heran, tua nya satu masjid itu sering akrab dengan istilah "Kaum", maka Masjid Agung ini juga sering disebut Masjid Kaum. Namun, ada juga nama lain, karena dulu juga dikenal sebagai Masjid Manggil, Manggal dan Manggum atau Panggilan Adzan, ibadah dan duduk Iktikaf.
Selama berdiri, sudah 3 kali masjid ini berubah arsitektur dan kali ke empatnya di tahun 2010 an. Sejarah detailnya ada dalam catatan buku sejarah kabupaten karawang dari tim penulis Prof Dr Nina Herlina Lubis M.s. "Masjid ini berdiri sejak syeh Quro datang, banyak tokoh yang merehabilitasi masjid Agung dari tahun ke tahun, ini merupakan masjid tua, lebih tua dari Masjid Demak," tandas dia.
Prof Nina Herlina Lubis M.s dalam tulisan buku Sejarah Kabupaten Karawang terbitan 2011 lalu mengatakan, bahwa sumber lokal penyebaran islam di Karawang adalah Syech Quro. Dalam naskah Purwaka Caruban Nagri, Syeh Quro merupakan putra ulama besar dari Campa yang bernama Syeh Yusuf Sidik. Ditahun 1418 sebut Lubis, Syeh Quro yang memiliki nama lain Syeh Hasanudin ini tiba di Muara Jati Cirebon dan Ke Karawang mendirikan Pesantren.
Menurut Dra. Eny Suhaeny dan Drs. Tugiyono  dalam bukunya "Sejarah terbentuknya Kabupaten Karawang" halaman 22, Drs Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa masjid Agung Karawang menggunakan model, bentuk dan kontruksi pasak yang sama modelnya dengan masjid Demak, meskipun besar bangunannya tidak sama. Penataan suatu kantor kabuipaten dengan memasukan unsur Alun-alun dan masjid serta kantor-kantor pendukung lainnya adalah sejalan dengan sistem pemerintahan kesultanan Islam pada masa itu atas gagasan Sunan Kali Jaga salah seorang anggota Wali Songgo yang menjadi penasehat kesultanan Islam pertama Bintoro atau Demak.
Sebagaimana dimaklumi bahwa Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya dimana Karawang dipersiapkan sebagai pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC atau Kompeni di Batavia, dan Karawang juga harus menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir selama 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung. (rud)

Peristiwa Masjid Agung Karawang
• Tempat pernikahan Syeh Quro dengan Sri Ratna Sondari
• Tempat menuntut Ilmu Nyi Subang Larang Putri Ki Gedeng Tapa Muarajati Cirebon
• Tempat bergurunya Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem asal Baghdad kepada Syech Quro setelah beradu ujian keilmuan spiritual.
• Tempat Pernikahan Putra Kerajaan Pajajaran Prabu Angga Larang bernama Raden Pamanah Rasa (Prabu Siliwangi) dengan Nyi Subang Larang tahun 1344 Saka atau tahun 1422 Masehi dan sebagai penghulunya pada waktu itu adalah Syech Hasanudin atau Syech Quro Karawang.
• Komplek Kantor Adipati Singaperbangsa selama 44 tahun yang semula di Udug-Udug
• Tempat Makam Bupati Karawang ke V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV yang kemudian dipindahkan ke Manggungjaya tahun 1993
• Bupati Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950 - 1959, atas persetujuan para ulama dan Umat Islam, Mesjid Agung diperluas pada arah bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 meter ditambah menara ukuran kecil dan satu Kubah ukuran  3 x 3 meter dengan tinggi 12 m, atap dari seng adapun luas tanah mesjd termasuk makam adalah 2.230 meter.

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template