Peringatan Kemerdekaan Ala Pondok Pesantren Cipulus - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Peringatan Kemerdekaan Ala Pondok Pesantren Cipulus

Peringatan Kemerdekaan Ala Pondok Pesantren Cipulus

Written By Mang Raka on Kamis, 18 Agustus 2016 | 14.30.00

Santri Upacara Pakai Sarung dan Kopiah

PURWAKARTA, RAKA - Beragam cara untuk merayakan Hari kemerdekaan ke-71 Indonesia. Seperti halnya yang digelar ribuan santri di Pondok Pesantren Al Hikamussalafiyah, Cipulus, Desa Nagrog, Kecamatan Wanayasa, Rabu, (17/8).
Mengenakan pakaian ala santri, seluruh santri menggelar upacara bendera di lingkungan pesantren, tepatnya di lapangan yang berada di Lereng Gunung Burangrang.
Santri putra tampak menggunakan baju muslim dan sarung serta kopiah, demikian juga dengan santri putri yang mengenakan jilbab lengkap. Sebagian santri putri bahkan menggunakan pakaian yang bernuansa merah putih. Ribuan santri terlihat antusias dan telah bersiap sejak pagi.
Bertindak selaku inspektur upacara adalah H Ade Hadi Musa Said, yang merupakan Sekretaris Pondok Pesantren Alhikamussalafiyah mengaku, sebenarnya tiap tahun Pesantren Alhikamussalafiyah Cipulus Purwakarta selalu memperingati HUT Kemerdekaan Indonesia. Tapi baru mulai tahun ini pihaknya sengaja menggelar prosesi upacara bendera yang melibatkan seluruh santri. "71 tahun Indonesia merdeka, adalah pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang merelakan darah dan nyawanya demi kemerdekaan bangsa dan tanah air tercinta. Rois Akbar NU Hadratusyehk KH Hasyim As’Ari telah mengobarkan semangat perjuangan para ulama dan santri untuk bahu membahu berjuang dalam merebut kemerdekaan yang terkenal dengan Resolusi Jihad, Hubbul Wathon Minal Iman 'cinta tanah air sebagian dari iman' ini yang kita tanamkan sejak dini pada seluruh santri," kata dia.
Pesantren Al Hikamussalafiyah yang berdiri sejak tahun 1840, lanjut dia, tentunya telah ikut berperan dalam masa-masa perjuangan sebelum kemerdekaan Indonesia, peran para ulama, kiai, ajengan, ustadz, guru ngaji dan para santri tidak dapat dipungkiri dan itu adalah bentuk nyata dari kecintaan kita pada tanah air. "Kita lahir tumbuh dan besar di negara Indonesia, kita makan dan minum dari tanah dan air Indonesia dan kita mati dan meninggal insya Allah dikmakamkan di tanah Indonesia. Di atas tanah ini kami bersujud, berdiri dan rebah. Sehingga kita wajib hukumnya menjaga keutuhan tanah dan air Negara Kesatuan Rebubplik Indonesia, NKRI. Siapapun yang tidak setuju dengan NKRI harus pergi dari Indonesia, bagi kaum pesantren NKRI adalah hasil final dan Marga mati," tegas Ade.
Upacara bendera ala santri ini, menurut Ade, akan menjadi tradisi yang terus dirawat untuk meneguhkan bakti santri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kaum santri mempunyai sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Jiwa dan semangat juang ini ingin kami teruskan kepada santri-santri masa kini. Santri itu kan kepanjanganya, Satukan Amanat Nusantara Terhadap Republik Indonesia, menjaga tradisi dengan mengaji, menjaga NKRI dengan mengabdi," pungkasnya. (awk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template