Pasien IGD Jatuh, Darah Berceceran - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Pasien IGD Jatuh, Darah Berceceran

Pasien IGD Jatuh, Darah Berceceran

Written By Mang Raka on Kamis, 18 Agustus 2016 | 21.06.00

-Dokter Jaga RSUD Dipindahtugaskan

KARAWANG, RAKA - Pelayanan RSUD Karawang kembali dikeluhkan. Kali ini warga Kalangsari, Kecamatan Rengasdengklok, membeberkan cara dokter dan perawat rumah sakit plat merah itu menangani pasien.
Safrah, keluarga pasien Agus mengatakan, sikap dokter yang saat itu sedang piket di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) tidak patut. Selain memberikan obat sambil marah, adiknya juga dibiarkan saat terjatuh hingga infusan lepas. "Awalnya dokter minta adik saya minum obat yang ditaruh di bawah lidah. Tapi obat itu tidak bisa ditelan, karena tensi darahnya sangat tinggi," ujar Safrah seraya mengatakan adiknya adalah pasien umum, bukan pasien pengguna BPJS atau KIS, Rabu (17/8) kemarin.
Ia melanjutkan, mendengar penjelasan keluarga pasien, sang dokter justru marah dan menjawab jika pasien di rumah sakit lain juga mengkonsumsi obat di bawah lidah. "Terus dokter jaga itu juga bilang kalau tidak mau minum obat, ya sudah biarin saja. Itu yang bikin saya sakit hati," kata dia menceritakan kejadian yang menimpa adiknya di depan Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana.
Kemudian, tambah Safrah, saat pasien hendak pergi ke kamar mandi, terjatuh. Dan tidak ada satu dokter atau perawat yang menolong. Bahkan, darah adiknya berceceran karena infusannya dilepas. "Saya bilang sama dokter, tapi dia menjawab bahwa yang dirawat bukan hanya adik saya saja. Tapi banyak pasien lain yang juga butuh perawatan. Dia juga bilang kekurangan tenaga medis. Padahal adik saya sudah tergeletak di lantai," tuturnya.
Dokter jaga RSUD, dr Primi mengatakan, sebelum masuk IGD, keluarga pasien melapor kalau Agus membutuhkan perawatan. Karena kamar ICU penuh, akhirnya pasien ditangani di IGD. "Saat itu pasien Agus masuk IGD pukul 23.00 WIB," ujarnya kepada Radar Karawang.
Menurut Primi, saat keluarga pasien bernada emosi dan ketus meminta pelayanan, dokter atau perawat tetap memberikan layanan sesuai prosedur. "Kita sudah lakukan pelayanan sesuai kode etik yang ada pada dokter," tuturnya.
Ia melanjutkan, kondisi pasien memang dalam keadaan panik, sehingga saat diobati selalu berontak. Infusan misalnya, berkali-kali perawat harus memasangkan kembali infus, karena terus dilepas pasien. Mungkin karena faktor kelelahan, perawat jadi sedikit terlambat memasang kembali infusan untuk kesekian kalinya. "Tangan saya juga sempat dihempaskan saat memasang infus. Tidak tahu apa tidak sadar, atau memang tidak mau dirawat," ungkapnya.
Termasuk saat pasien tidak bisa minum obat, kata Primi, keluarga pasien disarankan kembali membeli obat yang dimasukan dalam infusan. Saat itu, keluarga pasien malah meminta obat penenang, agar pasien tidak gelisah. "Hal tersebut (pemberian obat penenang) tidak dikabulkan, karena kondisi pasien sedang tensi tinggi, khawatir membahayakan," ujarnya.
Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana saat mempertemukan kedua belah pihak, dan juga menyaksikan rekaman CCTV yang diputar pihak RSUD Karawang, terlihat berbeda dengan rekaman yang beredar di dunia maya. Dalam pertemuan tersebut, Cellica meminta kedua belah pihak untuk saling memaafkan. Sedangkan kedua dokter yang disebut menelantarkan pasien itu, dipindahtugaskan. "Untuk sanksi pasti ada, bahkan teguran sudah ada. Kedua dokter ini kami pindahtugaskan, supaya jadi pelajaran bagi yang lain," kata Cellica. (dri)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template