Nelayan Pastikan Tidak Ada Tambang Pasir Laut di Karawang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Nelayan Pastikan Tidak Ada Tambang Pasir Laut di Karawang

Nelayan Pastikan Tidak Ada Tambang Pasir Laut di Karawang

Written By Mang Raka on Selasa, 09 Agustus 2016 | 14.00.00

CILAMAYA KULON, RAKA - Gelombang pasang yang sempat membuat rob di daratan pesisir Karawang, memunculkan banyak spekulasi penyebab tangan jahil yang mengakibatkan beberapa desa di pesisir tersapu rob. Selain gejala alam tahunan, ada yang berpendapat bahwa gelombang yang biasa datang setiap awal Agustus itu akibat aksi penamabngan pasir ilegal di laut Karawang.
Pernyataan ini diungkapkan langsung oleh Wakil Bupati Karawang Jimmy Zamakhsyari. Tak ayal ucapan wabup membuat sejumlah Kelompok Pengawas Masyarakat Peisisir (Pokmaswas) kebingungan, bahkan mengundang reaksi Kabid Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Karawang (DPK) angkat bicara.
Kata Pokmaswas Pasirputih Sahari, menurutnya tidak ada penambangan pasir di laut Karawang selama ini. Jika pun ada, dipastikan nelayan akan melaporkannya ke Pokmaswas, atau Pokmaswas sendiri yang memberikan keterangan. Jangankan yang ilegal, yang legal pun tidak ada. "Di laut Karawang gak ada penambangan pasir, kalau ada pasti Pokmaswas miliki laporan termasuk dari nelayan, tapi sampai saat ini nelayan tidak pernah melihat penambangan pasir di laut Karawang," jelas dia.
Senada diungkapkan Pokmaswas Arya Bahari Cemarajaya, Nurhaen, sepanjang yang ia ketahui, tidak ada penambangan pasir di laut Karawang baik legal maupun ilegal. Tapi, kalau pasir berkualitas itu memang banyak terdapat dilaut Pakisaja. Bahkan, di tengah lautnya juga ada gundukan pasir layaknya pulau. Namun, sejauh terus dijaga dan tidak ada aktivitas penambangan sama sekali. Kalau ada penambangan, nelayan dan pokmaswas pasti mengetahuinya. "Gak ada penambangan, tapi kalau potensi pasir di Karawang yang besar itu ada di Pakisjaya," tandas dia.
Sementara itu, Kabid Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Karawang, Durahim Suarli mengatakan, rob merupakan gejala alam, karen ada pasang bulanan, tahunan dan lima tahunan. Kemarin, gelombang pasang yang terjadi itu tertinggi selama lima tahun terakhir. Proses abrasi dan akresi itu hal yang lazim dalam proses alami. Namun tidak ada gejala yang dapat menimbulkan bencana jika tidak ada tangan-tangan jahil manusia. Sebut saja bangunan laut dan green belt atau kerusakan mangrove, bisa mempengaruhi rob dimana air laut masuk ke daratan tak terbendung. Atau, sambung dia, bisa juga karena ada pengaruh penambangan pasir. Hanya persoalannya, sepanjang yang ia tahu tidak ada penambangan pasir di laut Karawang, baik ilegal maupun yang legal. Mungkin saja sebut Durahim, yang dimaksud bukanlah penambangannya, tapi pencurian pasir laut. Itu memang sempat ada pada tahun 2010 dan kini sudah tidak ada lagi. "Bukan penambangan mungkin, tapi kalau pencurian pasir laut sempat ada di tahun 2010 lalu," jelasnya.
Kalau ada penambangan di laut, pasti perizinan juga akan ditempuh karena menggunakan perlatan dan teknologi canggih, yang mana proses perizinannya pun haris ke provinsi. Mengingat wewenang laut sebagaimana UU 23 tahun 2013, laut sudah dibatasi kewenangannya dari kabupaten ke provinsi. Ia melihat sampai saat ini tidak ada lalu lalang kapal-kapal besar di perairan Karawang. Sehingga dapat dipastikan aksi pencurian pasir laut sejak 2010 lalu sudah tidak ada lagi. Yang terpenting saat ini adalah, Karawang harus menjaga keseimbangan laut agar bencana rob dan abrasi tidak menerjang lebih besar ke daratan. Solusinya yakni menanam mangrove, Geo Tub dan bangunan laut agar alam bisa seimbang sebagaimana diterapkan di Jepang. "Kalaupun ada dan tidak ada penambangan, urusan izin sudah menjadi wewenang provinsi, tapi setahu saya tidak ada penambangan di laut Karawang," pungkas dia. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template