Kerusakan Green Belt Pemicu Utama Rob - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Kerusakan Green Belt Pemicu Utama Rob

Kerusakan Green Belt Pemicu Utama Rob

Written By ayah satria on Senin, 01 Agustus 2016 | 17.59.00

Demi Tambak, Hutan Mangrove Dibabat

Banjir yang merendam pemukiman akibat gelombang pasang sudah biasa terjadi setiap tahun. Apalagi menjelang Agustus. Namun, kejadian alam berbuah bencana justru akibat ulah segelintir warga yang jahil merusak ekosistem pesisir.
Di pesisir Cilamaya, banyak warga yang mengabaikan lingkungan, di antaranya memburu tanah timbul untuk dijadikan pemukiman tak bertuan. Begitupun minimnya penanaman mangrove dan hutan bakau. Bahkan, hutan mangrove yang ada pun dibabat lantaran orientasi bisnis pertambakan.
Relawan penyelamat tanaman mangrove asal Desa Muarabaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Ahmad Fathoni mengakui, rob akibat air pasang yang terjadi tahun ini merupakan siklus pasang surut air laut yang melebihi kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya.
Pemicunya kata Fathoni, selain penyempitan dan pendangkalan sungai, yang paling utama akibat kerusakan green belt atau kerusakan hutan mangrove. Sehingga mendorong rob dan abrasi masuk ke daratan lebih jauh. Sebenarnya, baik rob maupun abrasi, bisa dihindari bila ada mangrove, soalnya kecenderungan tanah yang ditanami akan lebih tinggi dari pada yang tidak ada mangrove-nya.
Dia melihat, khusus di Dusun Praubosok, Desa Muara Baru, jelas-jelas green belt-nya masih belum maksimal. "Kerusakan mangrove menjadi satu dari sekian penyebab rob dan abrasi yang terjadi akibat air pasang laut," tandasnya.
Toni yang kerap menjadi pemateri metode tanam mangrove tingkat nasional ini menambahkan, belum lama ini dirinya menanam bakau di pesisir Muara Baru. Hanya saja karena usia tanam yang masih dini, belum bisa menahan air rob yang besar. Diakuinya, dirinya terus menanam mesekipun sering terjadi persoalan di lapangan, seperti ditebang dengan motif membuat tambak-tambak ikan. Sayangnya, dia tidak memiliki data luas tanaman mangrove yang ditebangi.
Biasanya, para penebang mangrove beralasan pemilik lahan timbul yang ditanami mangrove. Sehingga seenaknya membabat mangrove. "Oknum itu sering mengklaim bahwa pantai yang sudah ditanami mangrove itu sudah bertuan dan diperlakukan sesuai kebutuhan," ungkapnya.
Kata Toni, dirinya merasa risih, karena saat pohon masih kecil dan daratan masih rendah, warga ikut merawat sampai pohon tumbuh besar dan daratan lebih tinggi dari laut. sayangnya, setelah cukup untuk dibuat tambak, pohon-pohon itu ditebang dan selalu berulang sampai saat ini.
Untuk itu, jangan salahkan alam jika air rob sampai ke daratan. "Mereka ikut merawat, setelah usia tanaman mangrove mencukupi ditebang dan disulap menjadi tambak, namun saat rob tiba selalu beralasan gejala alam," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template