Industrialisasi di Karawang Dimulai 1964 - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Industrialisasi di Karawang Dimulai 1964

Industrialisasi di Karawang Dimulai 1964

Written By Mang Raka on Selasa, 16 Agustus 2016 | 14.30.00

Sempat Terbakar, Bangkrut Disita Bank

Tidak banyak orang tahu jika industrialisasi di Kabupaten Karawang dimulai sejak tahun 1964. Saat itu, alih fungsi lahan pertanian menjadi pabrik terjadi. Tepatnya di Kampung Gorowong Timur, Kelurahan Adiarsa Timur, Kecamatan Karawang Timur.
Adalah Kadarusman, orang pertama yang membangun fondasi industri dekat dengan bantaran Sungai Citarum tersebut. Lelaki keturunan Tionghoa asal Surabaya, itu menamai pabriknya PT Librano. Perusahaan yang memproduksi minyak sayur non kolesterol bermerek Libraco.
Seperti yang dikatakan Warga Kampung Gorowong Timur RT 03/01, H. Uci (75), jauh sebelum PT Pindo Deli berdiri, PT Librano sudah dibangun. Meski tidak menyebut tahun pasti pendirian pabrik tersebut, Uci mengatakan perusahaan yang letaknya persis di belakang rumahnya, dulu adalah lokasi pesawahan yang kurang bagus. Berbeda dengan Pindo Deli yang dibangun di atas pesawahan berkualitas bagus. "Saya gak tahu tahun berapa PT Librano dibangun. Saya hanya mengingat nama mantan pekerjanya, ketika pabrik itu sudah tidak lagi memproduksi minyak sayur. Dulu pabrik itu sempat dikenal sebagai pabrik bajaj, karena dijadikan tempat untuk memperbaiki bodi bajaj. Kalau mau tahu, coba temui pak Jhon yang rumahnya tak jauh dari sini. Dia dulu pernah kerja disana," katanya kepada Radar Karawang.
Meski begitu, Uci yang sudah tinggal di Gorowong sejak tahun 1961, sempat mengetahui nama produk PT Librano. "Dulu nama produknya libraco dan Aricoco. Libraco bahannya dari sawit dan Aricoco dari bungkil kacang tanah," ucapnya.
Tapi, setelah pabrik itu bangkrut, karyawannya banyak yang melamar kerja ke Pindo Deli. "Iya, setelah bangkrut karyawannya pada ngelamar ke Pindo," ujarnya.
Jhon Fernando (48) mantan karyawan perakitan bodi kendaraan roda tiga itu awalnya sedikit tertutup. Namun, lama kelamaan mulai terbuka terutama setelah ayah mertuanya Pepen Supena (65) ikut nimbrung dalam percapakan tersebut. Menurut warga Gorowong Kaum RT 02/02 ini, perusahaan tempatnya bekerja merupakan sebuah proyek koperasi pengganti becak ke becak motor. Sayang, Jhon tidak mengingat secara jelas, kapan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. "Saya lupa, tapi saya sempat kerja sekitar lima tahun lebih disana," kata Jhon.
Informasi yang pasti justru diperoleh Radar Karawang dari Pepen. Ia sempat menjadi karyawan di perusahaan tersebut, meski sudah lupa berapa gaji yang pertama kali diterima saat bekerja disana. Menurutnya, proyek pembangunan PT Librano dimulai sekitar tahun 1964. Ia sendiri diterima dan bekerja di perusahaan tersebut tahun 1968 hingga tahun 1974. "Saya kerja disana dua periode, yakni 1968-1970 dan 1972-1974," katanya.
Ia melanjutkan, PT Librano memproduksi minyak sayur dengan bahan baku dedak, dan diklaim non kolesterol dengan nama produk Libraco. Namun, pabrik tersebut sempat terbakar, hingga akhirnya pemilik pabrik Kadarusman menutup pabrik tersebut tahun 1970. "Selama dua tahun tidak ada aktivitas di pabrik tersebut," ujarnya.
Kemudian, tahun 1972, pabrik tersebut kembali beroperasi, tetapi bahan baku dan nama produknya pun berubah. Sepanjang tahun 1972-1974, nama produk pabrik tersebut adalah Aricoco tanpa klaim non kolesterol. Pasalnya, bahan baku minyak sayur merek Aricoco berasal dari bungkil kacang tanah.
Setelah pabrik bangkrut dan disita Bank Exim, lanjut Pepen, pabrik tersebut dibeli oleh Sutikno Wijoyo, pengusaha etnis Tionghoa asal Semarang. "Malah, kalau ga salah lokasi pabrik tersebut masih digunakan oleh kerabat Sutikno, sebagai tempat untuk memproses rumput laut," terang Pepen yang tengah mempersiapkan diri untuk berangkat ke tanah suci. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template