Hotel Surya Kencana, Bangunan Tua di Pinggir Jalan Tuparev - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Hotel Surya Kencana, Bangunan Tua di Pinggir Jalan Tuparev

Hotel Surya Kencana, Bangunan Tua di Pinggir Jalan Tuparev

Written By Mang Raka on Selasa, 16 Agustus 2016 | 16.00.00

ADA yang bilang makin tinggi pohonnya semakin kencang anginnya. Jika tidak kokoh akar yang menopang maka tumbanglah pohon pohon tersebut.
Itu juga berlaku terhadap Hotel Surya Kencana, hotel pertama di Karawang dan berada di Jalan Tujuh Pahlawan Revolusi (Tuparev). Hotel ini gagal menahan kencangnya tuntutan jaman, hingga akhirnya pasrah tergilas dahsyatnya kemajuan. Lantas, bagaimana nasib hotel itu sekarang? Inilah hasil penelusuran wartawan Radar Karawang, Olan PH Sibarani.
Jumat (12/8) siang, aroma khas Tuparev sebagai kawasan bisnis begitu kentara mewarnai sepanjang jalan itu. Panas dan berdebu. Sejumlah orang berseragam kekuningan dan biru mudah dibalut rompi berwarna gelap sibuk melakukan aktivitas mengatur motor-motor milik pengunjung pertokoan yang parkir dipinggir jalan. Mereka juru-juru parkir yang bekerja untuk pengelola-pengelola perparkiran yang jadi mitra Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika.
Toko-toko di sepanjang jalan itu memang tidak memiliki tempat parkir sehingga harus menggunakan bahu jalan untuk tempat parkir. Malah bisa melebar hingga badan jalan jika pengunjung lebih ramai dan memaksa area parkir hingga sampai tiga lapis. Tidak banyak memang yang diamati RAKA, selain padatnya arus lalulintas di ruas jalan itu. Maklum kendaraan yang melintas disanapun sudah overload. Sementara panjang dan lebar justru makin menciut. Alhasil Tuparev yang dulu terkesan lega kini jadi terasa sempit.
Paling tidak inilah realita yang harus diakui, dan siang itu RAKA memang sudah janji bertemu dengan Euis (39) dan Yahya Setiawan (61), saksi hidup yang mengetahui secara persis perjalanan Hotel Surya Kencana hingga akhirnya berhenti beroperasi. Baik Euis maupun Yahya tidak dapat memberikan alasan yang jelas penyebab hotel itu bangkrut. Namun banyak dugaan yang beredar saat itu, diantarnya karena tingginya biaya operasional sementara tamu yang datang semakin mengalami penyusutan.
Diibaratkan pepatah lebih besar pasak dari tiang, seperti itulah dugaan yang berkembang, pihak manajemen hotel menilai sudah tidak mampu lagi membiayai operasional, dan jalan satu satunya adalah berhenti beroperasi.
Memang tidak langsung drastis menghentikan operasi, karena masih berusaha bertahan diantara biaya belanja yang semakin besar. Kalau saja pada saat itu ada kegairahan kunjungan tamu mungkin akan mengubah nasib Hotel Surya Kencana. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, tamu bukannya bertambah melainkan terus berkurang, hingga akhirnya pemilik hotel menyerah dan menghentikan operasi hotel.
Kini kondisi bangunan Hotel Surya Kencana sudah tidak terawat. Dari puluhan kamar yang dahulu selalu penuh sekarang hanya tiga kamar yang masih bisa dimanfaatkan. Itupun sebatas menjadi kontrakan. Sisanya sebagian menjadi kandang ayam dan dibiarkan terlantar. Menurut Euis ketiga kamar tersebut dimanfaatkan menjadi tempat tinggal karyawan pemilik hotel. "Untuk ruangan depan hotel yang dulunya dipakai tempat receptionis, saat ini dipakai berjualan mie ayam," kata Euis, seraya menyebut nama  Yahya Setiawan, nama pengusaha mie ayam tersebut. Sementara sisa ruangan lainnya ada yang digunakan sebagai tempat bermain play station dan sebagian lagi dibiarkan begitu saja tanpa ada penghuni.
Sayangnya ketika RAKA bertanya tahun persisnya Hotel Surya Kencana berdiri Euis sama sekali tidak bisa menuturkan. Tetapi berdasarkan cerita Yahya Setiawan saat dirinya lahir hingga beranjak dewasa, hotel Surya Kencana sudah ada. Yahya malah memperkirakan hotel tersebut sudah berdiri sejak jaman Belanda. "Kalau tidak salah berdasarkan cerita ayah saya, sebelum jadi hotel, lokasi tersebut sebelumnya merupakan bangunan rumah sakit. Saya sendiri juga masih sempat lihat suster-suster belanda itu," kenangnya
Sebelum pengoperasian hotel tersebut ditutup, Yahya sempat membawa tamu dari Korps Kapasus TNI AD. "Kalau tidak salah waktu itu tarifnya bukan rupiah melainkan bath," katanya singkat.
Sampai saat ini penyebab bangkrutnya Hotel Surya Kencana tetap menjadi teka teki. Rumor tamu yang sepi dan tingginya biaya operasional hingga mengakibatkan hotel pertama di Karawang itu berhenti beroperasi, itupun diantara dugaan yang mencoba memberi jawaban.
Terlepas dari itu, yang jelas sejak tenggelamnya pamor Hotel Surya Kencana sebagai hotel tertua dan termegah di jamannya itu, setelah itu bermunculan hotel hotel baru menggantikan posisi Hotel Surya Kencana.
Seperti dikatakan mantan Ketua PHRI Karawang H. Diding Syarifudin, MH, selain Hotel Surya Kencana setelah itu juga berdiri hotel-hotel lain. Seperti  Hotel Dewi II di Jalan Pasar Rumput misalnya. Sekarang nama jalan itu berubah menjadi Jalan Dewi Sartika. Eks bangunan hotel Dewi II sekarang berubah menjadi Pabrik Roti Dewi. Kemudian muncul Hotel Sinta dan Sandi di Johar dan Hotel Cendrawasih di Sadamalun. Setelah tiga hotel tersebut mulailah bermunculan hotel hotel yang lain seperti Hotel Omega, Fajar Indah, Dewi I dan Hotel Bestin.
Diantara Hotel tersebut Hotel Bestin menjadi hotel yang pertama menyandang hotel berbintang dengan predikat hotel bintang tiga. Meski begitu, Bestin yang dibangun di tahun 1992 itu saat ini tak jauh beda dengan hotel kelas melati. Pasca kerusuhan Karawang, kata Aju (34) manager hotel Bestin, tingkat okupasi hotel tempatnya bekerja menurun drastis. Tamu tamu asing yang sebelumnya menginap dan menjadi tamu andalan, menghilang. Akibatnya, pendapatan hotel menurun dan semakin sulit bersaing dengan hotel hotel lainnya. "Dari 101 kamar yang ada, tinggal 50 persen yang layak jual," katanya. (ops)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Nama Saya Agung Dwi Budianto...dulu Saya tinggal di lingkungan Hotel Surya Kencana karena kebetulan orang tua bekerja di Hotel tersebut.Masa2 SD dan SMP saya di Karawang dan tinggal di Hotel Surya Kencana.Lalu setelah lulus SMP tepat nya thn 1996 Hotel itu dijual dan akhirnya saya dan seluruh keluarga pindah ke kampung halaman si Pekalongan

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template