Dulu, di Blok Nangka Ada 40 PSK - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Dulu, di Blok Nangka Ada 40 PSK

Dulu, di Blok Nangka Ada 40 PSK

Written By Mang Raka on Selasa, 16 Agustus 2016 | 13.30.00

LOKALISASI yang pertama kali di Karawang ada yang menyebutnya Seer. Namun sebagian orang justru mengatakan bahwa Blok Nangka yang kini secara administratif dikenal dengan Kampung Kumejing Babakan Cianjur RT 01/31, Kelurahan Nagasari, Kecamatan Karawang Barat, itu kali disebutkan sebagai lokasi prostitusi.

RAKA sempat kesulitan untuk mendapatkan informasi soal tempat praktek maksiat ini. Namun, secara tidak sengaja, akhirnya terungkap saat mengumpulkan informasi soal hotel, bioskop yang pertama di Karawang. Yahya Setiawan (61) yang lahir dan besar di Karawang menyebut jika blok nangka merupakan lokalisasi yang pertama kali di Karawang. Ia mengetahui hal itu bukan karena dia pernah jadi pelanggan melainkan karena lokasi tersebut berada di belakang rumahnya. "Dulu, rumah orangtua saya dilokasi Toko Baru sekarang. Jadi, waktu kecil kami sering main kesana karena lokasinya memang tepat dipinggir sawah," katanya.
Bagi pendatang khususnya anak muda yang baru tinggal di sekitar Babakan Cianjur belum tentu mengetahui dimana letak Blok Nangka. Buktinya, saat RAKA melakukan investigasi, juga secara tidak sengaja ketemu dengan seorang anggota Polres Karawang, dan menanyakan tujuan RAKA. Namun setelah tahu RAKA mencari nama lokasi Blok Nangka, dia justru mengatakan tidak ada Blok Nangka dilokasi tersebut. "Blok nangka mah ga ada disini," jelasnya sembari berlalu.
Selang beberapa menit kemudian, seorang lelaki yang rambutnya  sudah mulai dikelilingi uban mengatakan, bahwa blok nangka letaknya persis ditempat RAKA bertegur sapa dengan anggota Polres Karawang tersebut. "Ini blok nangka," ucapnya tanpa ragu.
Lelaki yang belakangan diketahui bernama Pipin (65) warga setempat tak menampik jika blok nangka pernah menjadi tempat lokasi prostitusi. "Kalau tidak salah, sekitar tahun 60-an, ada beberapa warga yang menjadikan daerah ini sebagai tempat prostitusi," ucapnya.
Namun, praktek maksiat tersebut akhirnya hilang seiring dengan pembangunan langgar (musala) Al Muhajirin. "Begitu langgar dibangun, orang-orang itu pergi," tuturnya. RAKA yang ingin tahu dimana letak mushola tersebut ketemu dengan seorang nenek Asih (60) dan memperlihatkannya. Musala tersebut memang berdiri di gang yang cukup  sempit dan bangunan depan mushola hanya berjarak satu meter dengan bangunan rumah lainnya. Apalagi, papan nama mushola tersebut yang biasa dipasang dipinggir jalan memang sengaja dicabut karena ada proyek perbaikan drainase.
Asih mengakui jika disekitar bangunan musala tersebut sempat atau ada bangunan yang sangat sederhana. Bangunan tersebut sempat dijadikan sebagai tempat mesum. "Iya, dulu disini memang sempat jadi tempat orang orang nakal. Tapi itu dulu, ya puluhan tahun lalu lah," katanya sembari berlalu.
Baik pengakuan Yahya maupun Asih diperkuat keterangan Nana, lelaki kelahiran tahun 1952 yang mengaku warga setempat. Hanya saja, ia tidak mengetahui secara persis kapan daerah tersebut dijadikan sebagai tempat prostitusi. "Saya lupa, seingat saya waktu saya sudah umur lima belas tahun orang-orang nakal itu sudah ada disini," ucapnya sembarti asik mengecat bodi becaknya menggunakan telunjuk kanannya.
Terakhir, Mang Aca (61) warga setempat menjelaskan, lokalisasi itu ada dibawah tahun 1970. Soalnya sebelum mushola dibangun, perempuan-perempuan nakal itu sudah menghilang. Jika ia tidak salah ingat, musala tersebut selesai dibangun sekitar tahun 1973. Pembangunan musala itu sendiri melalui tiga tahapan dan berlangsung selama beberapa tahun. Bahkan, sambungnya, sebelum musala itu dibangun, lokasi tempat bangunan musala sempat dijadikan sebagai tempat latihan warga untuk bermain sandiwara. "Iya, lokasi itu sempat dijadikan sebagai tempat sandiwara dulu," ucap Aca yang dibenarkan Guntur (54) yang juga warga setempat.
Baik Pipin, Nana maupun Aca, mengatakan, jumlah PSK dilokasi tersebut berkisar antara 15-20 orang dengan usia antara 20-40 tahun. "PSKnya orang jauh tapi germonya  orang sini dan mereka sudah meninggal," tambah Aca.
Praktek lokalisasi disitu hilang setelah wakil (ketua RW) dijabat oleh wakil Uca. "Pak RTnya waktu itu klo ga salah adalah RT Mursid. Jadi, wakil Uca lah yang meminta mereka pindah dari sini," terangnya.
Meski begitu, Aca belum bisa memastikan apakah blok nangka yang pertama kali sebagai lokalisasi di Karawang. Sebab, dari jaman dahulu, kata dia, seer juga sudah dijadikan sebagai tempat. Para PSK, sebuat dia memanfaatkan gerbong-gerbong kosong untuk menerima tamu. Selain blok nangka, lokalisasi di sekitar Karawang sempat ada di Kampung Senot di sekitar Kampung Anjun atau belakang pabrik es. Ada juga di jalan miring, buahasem hingga peundey. "Dulu, ada beberapa titik tempat disini," timpal Guntur Stigma negatif Goyang Karawang menurut Yahya, muncul dari lokalisasi pendeuy. Soalnya, blok nangka merupakan lokalisasi kelas teri. Sedangkan peundey merupakan lokalisasi yang cukup besar.
pada zaman itu, Kampung Peundey sering dikunjungi para sopir-sopir truk yang beristirahat disana sembari makan. "Dulu disana banyak rumah makan dan tidak sedikit yang menyiapkan perempuan nakal. Yah, tidak jauh bedalah dengan kondisi pantura saat ini," terang Yahya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template