Bebera Garung, Lahan Pertanian yang Gagal - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Bebera Garung, Lahan Pertanian yang Gagal

Bebera Garung, Lahan Pertanian yang Gagal

Written By Mang Raka on Selasa, 16 Agustus 2016 | 15.00.00

PREDIKAT lumbung padi yang melekat dari nama besar Kabupaten Karawang tidak terlepas dari sejarah yang pernah ada di kabupaten ini. Jika mengacu kepada itu, di Karawang sendiri ada dua sistem pertanian, yakni pertanian darat dan pertanian bukit. Keduapun memiliki pola bertani yang berbeda, meski sama-sama mengandalkan sumber air.
Jika pertanian darat tentu akan mengacu kepada wilayah pesisir utara yang lebih banyak daerah rawanya, untuk sistem pebukitan yang jadi acuan adalah sumber mata air pegunungan dan air hujan. Sistem pertanian kedua ini yang menjadi penelusuran RAKA sebagai bahan tulisan tentang sawah pertama pebukitan yang digarap penduduk di jaman itu. Hanya saja, karena kebetulan wilayah Karawang Selatan merupakan daerah yang daratannya paling tinggi untuk kabupaten Karawang, perhatianpun tertuju ke wilayah tersebut.
Sejumlah sumber menyebutkana nama Bebera Garung, itu nama lokasi yang letaknya ada di Kampung Calingcing, Desa Cintalaksana. Pendekatan tahunnya memang belum pasti, namun pendekatan fakta mengatakan amat memungkinkan disitu ada lahan pertanian karena merupakan satu-satunya lokasi paling aman untuk dijadikan markas logistik tentara perang. Mengacu dari bukti itu, sumber-sumber yang mendukung pun membenarkan lokasi itu dulunya memang merupakan daerah pertahanan tentara Indonesia semasa perjuangan melawan penjajah.
Sumber-sumber yang ditelusuri RAKA menyebutkan Bebera Garung merupakan lahan pertanian perbukitan dimana tentara rakyat yang sekarang disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan masyarakat di sekitaran Wilayah itu membuat lahan tanam untuk persediaan makanan mereka. Sementara sumber air yang digunakan berasal dari aliran Sungai Cikumpeni yang mengalir melintas wilayah itu. Tidak ada yang mengetahui secara berapa lama lokasi itu dijadiakan sebagai benteng pertahanan pada waktu itu. Namun menurut sumber lokasi itu kemudian ditinggalkan begitu saja.
Tetapi RAKA yang menelusuri lebih dalam mendapatkan informasi, jika ternyata lokasi itu gagal dikembangkan menjadi areal pertanian. Sehingga penduduk yang membuka area itupun akhirnya berpindah ke daratan yang lebih rendah, yang dikenal dengan sebutan Lebak (bawah) yang juga masih diwilayah perkampungan tersebut. Luas lahan sekitar kurang lebih 5 Hektare di yakini oleh warga sekitar menjadi pusat kegiatan bercocok tanam oleh para leluhur masyarakat Desa Cintalaksana. Itu bisa dilihat dari kontur tanah serta areal yang ada seperti pernah ada satu perkampungan dilokasi itu.
Bebera Garung tadinya memang dipersiapkan untuk lahan pertanian yang diyakini pada waktu itu memliki sumber air yang sangat bagus yaitu Sungai Cikumpeni. Sebetulnya bukan sungai tetapi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan sebuah sodetan yang dibuat penduduk disana waktu itu menjadi aliran sungai hingga sampai ke wilayah Gungung Patuha. Disebelah Barat di atas air terjun Cikoleangkap.
Namun sayang sumber air yang dimaksud tepat di Perbukitan Tapal Piring ternyata alirannya tidak optimal sehinggas pada saat itu selain masyarakat juga Tentara Rakyat menangguhkan niat mereka mengembangkan Bebera Garung sebagai pusat pertanian kala itu. Namun, karena keburu dibuka penduduk pun akhirnya memaksakan lokasi itu dengan mengubah sistem bertaninya dengan mengadopsi pola tanam padi sengkedan, yakni seperti berkebun namun yang ditanam padi. Sementara airnya mengadalkan pada air gunung dan hujan selain aliran air sodetan Sungai Cikumpeni. Sistem pertanian inilah yang saat ini dikembangkan warga di lokasi itu.
Seperti diungkapkan Basir (82), warga Kampung Pasir Cangkudu, Desa Cintalaksana. Kakek buyutnya pernah menceritakan kepada dirinya bahwa di tempat itu (Bebera Garung) pernah ada areal persawahan di wilayah itu ada pertama kali. Akan tetapi gagal dipergunakan karena air yang diharapkan tidak mengalir. Saat itu dirinya menceritakan Kakek nya menjadi bagian dari Tentara Rakyat yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Tapi setelah dirinya berusia 10 tahun, kakek buyutnya menyudahi pindah-pindahnya dan memilih menetap di areal tersebut karena selain aman juga lahan sangat subur. "Yang saya ingat pada saat itu usia saya perkirakan sekitar 11 tahun dan saya mengingat semua karena kakek saya dan bapak saya lah dengan rombongan dari Jawa (Cirebon) mencoba mencari zona aman. Dan Bebera Garung saat itu masih hutan belantara yang selain masih sepi juga dirasa aman dari kejaran Belanda," ucapnya.
Basir dan keluarga serta keluarga-keluarga lain yang sama-sama pelarian pada saat itu memilih menetap di Bebera Garung. "Kami mencoba hidup di hutan Bebera Garung.
Dan saya ingat saat itu Bebera Garung akhirnya berkembang menjadi lahan tanam padi jenis Huma yang malah tumbuh subur dan baik di Tegalan tersebut," paparnya.
Sekarang di Bebera Garung sudah terdapat sekitar 20 Petani Huma yang sengaja membuka ladang pertanian di tempat itu. Bahkan tanah ladang cukup baik dan bisa membuka satu perkampungan yang di isi oleh beberapa keturunan dari para pejuang yang leluhurnya ternyata dari wilayah Cirebon. Kini pertanian tersebut hanya cukup bisa di tanam padi sebanyak dua kali dalam satu tahunnya. Perkampungan yang ada pun sekarang disebut dengan nama Perkampungan Calincing yang masuk dalam administratif Desa Cintalaksana, Kecamatan Tegalwaru.
Sekarang Kecamatan Tegalwaru membawahi sembilan desa dan 30 dusun, 40 RW dan 111 RT. Sementara batas wilayah kecamatan yaitu Sebelah Utara Kecamatan Pangkalan di Selatasn Kabupaten Cianjur, sebelah Barat Kecamatan Pangkalan dan sebelah Timur Kecamatan Ciampel yang sebagian masuk Kabupaten Karawang dan sebagian lagi Kabupaten Purwakarta. Sedang luas wilayahnya ± 10.165.592 hektar terdiri dari tanah darat ± 7.580.363 Ha dan tanah sawah kurang lebih 2.214.820 hektar. Sedang desa-desa yang ada yakni Desa Cintalaksana, Cigunungsari, Mekarbuana, Wargasetra, Cintawargi, Cintalanggeng, Kutalanggeng, Kutamaneuh dan Desa Cipurwasari. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template