Teror Asap Beracun - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Teror Asap Beracun

Teror Asap Beracun

Written By Mang Raka on Senin, 18 Juli 2016 | 17.57.00

-Pernafasan 23 Ribu Orang Bermasalah

KARAWANG, RAKA - Menjadi daerah industri ternyata tidak menguntungkan jika dilihat dari sisi kesehatan. Karena selama kurun waktu tiga tahun terakhir, sedikitnya 23 ribu warga Karawang menderita penyakit saluran pernafasan bagian atas.
Kalau dibiarkan, polusi udara hasil kolaborasi asap industri dan asap kendaraan, akan menjadi pembunuh massal. Sebut saja tragedi keracunan udara massal di Desa Anggadita, Kecamatan Klari, pertengahan tahun 2014. Peristiwa yang dipicu oleh asap pabrik PT Timuraya Tunggal dan PT DIC Graphic itu, sempat membuat geger warga. Tidak kurang puluhan orang keracunan. Ironisnya, perusahaan yang memproduksi bahan kimia ini mengelak.
Di Kecamatan Purwasari, sejak Januari hingga Mei tahun 2016, angka penderita ISPA lebih dari 200 orang. Masyarakat yang terkena ISPA diduga akibat polusi udara dari kawasan pabrik, yang berada di wilayah tersebut. “Penyakit tersebut masih dalam urutan tertinggi dari sepuluh jenis penyakit, yang dikategorikan sebagai penyakit terbanyak yang diderita warga," ucap Kepala Puskesmas Purwasari dr Iin Indriati.
Lain halnya yang terjadi di Kecamatan Pangkalan. Setiap hari warga yang lalu lalang di Desa Tamansari, harus merasakan siksaan asap hitam yang mengepul dari pembakaran ban di tempat pengolahan kapur. Alhasil, pada awal tahun 2016 hingga bulan kemarin, 30 warga terkena penyakit TBC dan 70 orang menderita ISPA. Jumlah tersebut kemungkinan akan terus bertambah, karena asap hitam itu tidak pernah berhenti meracuni warga setiap hari. "Khusus terhadap pengidap saluran pernafasan, saat ini penanganannya hanya 0,87 persen yang dirujuk ke rumah sakit daerah," ujar Kordinator UGD Puskesmas Tegalwaru, dr Bubun Bunyamin.
Berdasarkan hasil laporan bulanan 50 puskesmas di Karawang, ternyata peringkat pertama dari 10 penyakit terbesar yang dikeluhkan masyarakat adalah ISPA. "Posisi pertama penyakit di Puskesmas itu ISPA, itu kategori balita. Kalau dewasa itu paru-paru," ungkap Kasi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karawang Rina Harian.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka tentu sangat mengkhawatirkan. Karena tidak menutup kemungkinan, ada korban meninggal akibat penyakit paru-paru jika tidak diberikan pertolongan medis. "Bisa meninggal jika tidak diobati," tandasnya.
Pernyataan Dinkes Karawang ternyata selaras dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Menurut Kepala Subdirektorat Pengendali Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak, Kementerian Lingkungan Hidup Fitri Harwati, menduga buruknya kualitas udara di Kabupaten Karawang dipengaruhi oleh pencemar dari sektor industri. Padahal kalangan industri punya kewajiban untuk memantau emisi mereka. Ambang batas emisi yang keluar dari cerobong asap pabrik sudah ditetapkan, tidak boleh melampaui ketentuan. "Perusahaan yang menggunakan bahan bakar batubara berpotensi melakukan pencemaran udara lebih besar. Oleh karena itu perusahaan tersebut harus lebih waspada," ujarnya.
Kepala Sub bag Hukum, Humas, Pemasaran dan Promosi Kesehatan RSUD Kabupaten Karawang Ruhimin menuturkan, jika melihat dari data rekapitulasi yang ada, angka pasien penyakit paru-paru sangat tinggi setiap tahunnya. "Jika dirata-ratakan, tiap harinya ada sekitar 35 pasien penderita paru-paru datang ke RSUD Karawang," ungkapnya. (psn/yfn)

HOMO aSAPIENS
Visualisasi Karikatural Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan Yang Dicemari Kabut Asap Selama Puluhan Tahun

  • Bentuk Kepala mengecil di bagian atas menyesuaikan ukuran otak yang mengkerut dan tumbuh lambat karena kekurangan oksigen
  • Rambut jarang dan bewarna kelabu karena kekurangan pigmen
  • Hidung berbentuk masker yang sebenarnya sebuah masker yang dirancang untuk dipasang dan akan menyatu dengan wajah manusia dan menggantikan bentuk hidung sebelumnya setelah kurun waktu tertentu
  • Bulu mata lebih lebat dan bola mata berselaput yang berfungsi menghalangi partikel halus polusi udara
  • Alis mata lebih tebal berfungsi sebagai kanopi keringat yang membawa partikel asap dan debu dari kening.
  • Bibir kering dan pecah-pecah dan mengalami distrosi bentuk akibat kondisi udara yang sangat tidak sehat dalam waktu lama
  • Gigi jarang dan kecil karena kekurangan vitamin D
  • Paru paru bewarna kehitaman dan mengkerut karena oksigen bersih yang dihirup sangat sedikit. Paru paru juga mengalami perubahan fungsi yang bisa mengolah udara yang tercemar sebagai bahan baku pengolah makanan menjadi energi bagi tubuh manusia
  • Kulit bewarna pucat karena kekurangan oksigen. Kulit juga kering dan mudah lepas
  • Bentuk tubuh. Badan membungkuk karena pertumbuhan tulang yang tidak baik akibat kurang vitamin dan sinar ultra violet serta oksigen.
  • Sendi. Pembentukan tulang rawan tidak sempurna karena kekurangan vitamin D
  • Kuku bewarna pucat kekuningan dan mudah lepas karena kekurangan zat tanduk



10 Besar Penyakit di Karawang
Nasofaringitis Akut
(peradangan akibat infeksi virus di saluran pernafasan atas)
43.492 kasus
Dermatitis (peradangan hebat pada kulit)
26.649 kasus
Diabetes melitus (kencing manis)
27.051 kasus
Konjungtivitis (peradangan selaput yang meliputi bagian depan mata)
25.682 kasus
Demam Tifoid (penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi yang banyak hidup di makanan kotor dan tidak bersih)
20.383 kasus
Penyakit Saluran Pernafasan Bagian Atas
17.576 kasus
Gastroduodenitis (peradangan pada selaput lendir lambung)
17.977 kasus
Influenza
15.339 kasus
Gangguan gigi 
15.103 kasus
Hipertensi sekunder
14.248 kasus

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template