Sekolah Lesehan Ala SDN Pancakarya 1 - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sekolah Lesehan Ala SDN Pancakarya 1

Sekolah Lesehan Ala SDN Pancakarya 1

Written By Mang Raka on Rabu, 27 Juli 2016 | 14.30.00

-APBD Triliunan, tak Mampu Beli Kursi dan Meja

TEMPURAN, RAKA - Bagi para orangtua era 1970 an, mungkin masih belum asing dengan istilah 'Sekolah Dapang'. Istilah dapang sendiri merupakan belajar menulis sambil lesehan dan telungkup. Ternyata, istilah itu masih ada di salah satu SD di Kecamatan Tempuran. Adalah SDN Negeri 1 Pancakarya Kecamatan Tempuran yang merupakan sekolah induk dengan fasilitas sangat minim. Bahkan mebeler seperti kursi dan meja pun mereka tidak punya. Buktinya, sudah beberapa tahun terakhir siswa yang duduk di kelas VI, harus sekolah lesehan saking tak adanya bantuan pemerintah bagi sekolah di wilayah pesisir ini. Beberapa sarana kelas seperti pintu, jendela hingga mebeler lainnya juga nampak lapuk.
Dikatakan Kepala SDN Pancakarya 1, Tayumi S.pd, total siswa di sekolahnya mencapai 230 siswa dengan rincian 33 diantaranya duduk dibangku kelas VI. Sayangnya, menjelang sibuk-sibuknya persiapan Ujian Nasional (UN) kedepan, para siswa kelas VI ini harus mengalah lantaran banyaknya siswa baru yang mendaftar tahun ini. Sehingga, di ruangannya, hanya ada sekitar 4-5 meja saja itupun sudah reot. Sementara sisanya sebut Tayumi, para siswa harus belajar lesehan. Tak ayal kondisi ini menuai banyak keluhan dari para orangtua/wali murid karena keterbatasan sarana membuat pihak sekolah kelimpungan. Disinggung RAKA terkait alokasi dana BOS, DAK dan PPMS, Tayumi mengaku itu belum cukup menambah sarana yang ada. Debab, dalam setahun dirinya yang juga harus ngencleng pada orantua/wali murid untuk mendapatkan 10 bangku saja. Kadang antara bangku lama dan baru juga tidak seimbang. Saat masuk 10 unit meja baru, ada 20 unit lama sudah reot lagi. "Kita inginnya jangan nunggu UN, kalau ada dermawan atau darimanapun sumbernya, dimohonkan untuk dipenuhi sarana parasarana ini," harap dia.
Kades Pancakarya, Atta Sutisna Jilun mengatakan anaknya bersekolah di bangku kelas VI SDN Pancakarya. Ia mengaku prihatin lantaran anaknya harus bergiliran naik turun kursi layaknya shift di pabrik-pabrik. Apakah dirinya yang harus membelikan meja kursi khusus anaknya saja di sekolah?. Maka dari itu, ia sangat mengharapkan ada perhatian serius untuk SDN Pancakarya 1 ini. Setidaknya menyempurnakan kekurangan meja kursi di SD yang sudah berdiri sejak 1968 ini. "Ya istilah sekolah dapang mah dulu, nah sekarang kok masih ada? Terjadi di sekolah di desa saya lagi," kesal dia.
Melihat kondisi SD induk di Pancakarya, Wakil Ketua DPRD Karawang, Sri Rahayu Agustina mengaku kaget. Pasalnya, di era yang sudah maju dengan program wajib Dikdas bahkan 12 tahun, masih ada sekolah yang siswanya belajar dengan lesehan semacam ini. Di saat sekolah-sekolah di kota penuh fasilitas sampai memiliki belasan toilet, justru ia memprihatinkan sekolah di pesisir utara kondisinya jauh dari yang diharapkan.
Apalagi sesal Sri, SDN Pancakarya ini merupakan sekolah induk yang seharusnya lebih bagus dari hasil merger sebelumnya. Di satu sisi, guru dan anak dituntut belajar maksimal untuk hasilkan generasi berkualitas, tapi disisi lain pelayanan dan fasilitas yang ada justru mencerminkan tidak maksimalnya upaya tersebut. Apalagi di kelas-kelas lainnya, sampai berdesakan duduk satu meja bertiga. Bagaimana bisa efektif belajar, yang satu tidak ada meja, yang satu dipakai padat-padatan? Atas kondisi ini sebut sosok yang santer menjadi Ketum DPD Partai Golkar Karawang ini, ia akan mengarahkan semua legislator turun gunung menyisir sekolah-sekolah mana saja yang kondisinya serupa. Entah kurang fasilitas, kerusakan maupun lainnya, agar DPRD bisa memperhitungkan kalkulasi bantuan di sektor pendidikan ini lebih optimal. "Kondisinya cukup parah, inilah potret bahwa pemerataan sarana prasarana pendidikan di wilayah pesisir itu memang sangat minim," jelas dia.
Sri menambahkan, dirinya masih ingat betul aksi Wakil Bupati Karawang yang bertekad mengatur regulasi CSR berbagai perusahaan untuk pemerataan sarana prasarana sekolah. Karenanya, melihat kondisi di SDN Pancakarya 1 ini, dirinya balik menantang Cellica-Jimmy agar bisa menuntaskan persoalan kekurangan sarana ini. Tidak usah sebut Sri, sekolah berbondong-bondong diberi porsi pemagaran, pavingblock dan lainnya, sementara yang prioritas seperti sarana belajar di kelas-kelasnya masih jelek dan kekurangan. DPRD juga mendorong ada penambahan dari angka sebelumnya Rp 21 miliar menjadi Rp 30 miliar. "Persoalan ini wajib dikroscek oleh eksekutif dan ditindaklanjuti agar dituntaskan Cellica-Jimmy. Bagaimana agar anak-anak kita bisa nyaman bersekolah kalau kondisinya hancur seperti ini," tandas dia. (rud)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. sok atuh semua kerja kerja kerja tuntaskan segala persoalan masyarakat bangun fasum sarana pendidikan dan ibadah yg bagus dab baik agar tertata tataruang yg nyaman di karawang tercinta ini.berbuat yg bermanfaat jangan bersikap lintah darat dan pejabat gunting pita doang

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template