Satu RT, Tujuh Orang Kena DBD - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Satu RT, Tujuh Orang Kena DBD

Satu RT, Tujuh Orang Kena DBD

Written By Mang Raka on Kamis, 21 Juli 2016 | 20.10.00

JATISARI, RAKA - Serangan demam berdarah di Kabupaten Karawang belum usai. Di Jatisari misalnya, dalam dua minggu terakhir ada 7 orang dalam satu RT di Desa Balonggandu, terkena penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk aedes aegypti.
Kondisi itu bahkan menyebabkan Kepala Desa Balonggandu, Kecamatan Jatisari, Suhana naik pitam. Karena permohonan fogging tidak ditanggapi UPTD Puskesmas Jatisari dan Camat Jatisari. "Kami sudah menyampaikan berkali-kali kepada kepala Puskesmas dan camat. Agar segera dilakukan fogging. Tapi gak ada tanggapan sama sekali. Padahal sudah ada 7 warga dalam 1 RT yang terserang DBD," ujar Suhana dengan nada tinggi, Rabu (20/7).
Dia menyampaikan, warga yang terserang DBD itu berada di Dusun Kampung Kertajaya, Desa Balonggandu. Dia meyakini kondisi kesehatan warga terancam, karena korban yang berjatuhan semakin banyak. "Tadinya 6 orang dirawat di rumah sakit. Setelah yang 6 pulang ke rumah. Ada satu orang lagi yang baru 2 hari ini diserang DBD, dia dirawat di rumah sakit," paparnya.
Ia melanjutkan, saat meminta Puskesmas Jatisari melakukan fogging, pihaknya justru diminta untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Padahal yang dia pahami, ketika ada warga dalam satu lingkungan terkena DBD lebih dari satu orang, maka Dinas Kesehatan harus melakukan fogging. "Kalau PSN kami rutin kok melakukannya. Kan ada kerja bakti seminggu sekali. Tapi ternyata tetap saja yang kena DBD banyak," ujarnya.
Bahkan ada alasan lain, tambah Suhana, alokasi atau kuota fogging di Karawang sudah tidak ada. Artinya, meski di Balonggandu banyak warga yag terserang DBD, akan dibiarkan begitu saja. "Warga juga akhirnya banyak yang protes ke desa. Dikiranya kami tidak melakukan tindakan apa-apa," ujarnya.
Atas kondisi tersebut, pihak desa akan mengalokasikan anggaran yang diambil dari APBDes untuk pembiayaan fogging. Sehingga saat terjadi serangan DBD, pemerintahan desa bisa langsung melakukan tindakan tanpa menunggu Puskesmas atau pemerintah kecamatan. "Kejadian ini menjadi acuan penentu kebijakan pemerintahan desa. Tahun depan, kami akan masukan dalam APBDes untuk pembelian mesin fogging dan anggaran kebutuhan fogging," ujarnya.
Sedangkan untuk penanganan yang cepat dalam kasus DBD, dia akan melakukan musyawarah dengan berbagai pihak, mulai dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala dusun, RT, RW dan tokoh masyarakat. "Kami akan lakukan musyawarah, untuk mencari solusi agar fogging tetap bisa dilakukan," ujarnya.
Sementara Kepala Puskesmas Jatisari Hj Een Nuraeni, sampai berita ini diterbitkan belum memberikan keterangan.(zie)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template