Petani Bingung Harga Gabah Ditawar Rendah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Petani Bingung Harga Gabah Ditawar Rendah

Petani Bingung Harga Gabah Ditawar Rendah

Written By Mang Raka on Jumat, 22 Juli 2016 | 14.00.00

PEDES, RAKA - Petani Kecamatan Pedes telah memanen gabah hasil tanam dilahan sawahnya. Namun, gabah hasil panen mereka kini tidak sanggup mencapai harga pasaran yang memuaskan, ditambah harga maksimal yang harus diterima petani dilapangan, dari harga penawaran seorang calo. Hal ini jelas memicu keprihatinan petani setempat. Mereka terpaksa berjibaku banting tulang dengan harga penawaran terendah yang ditawarkan tengkulak.
Sedikitnya dua petani mengungkapkan permasalahan itu, saat RAKA berkunjung ke Desa Puspasari Kecamatan Pedes. "Kami hanya mempunyai satu pilihan harga. Harga gabah kering pungut (GKP) di pasaran saat ini Rp 3.700 per kilogram, akan tetapi harga penawaran tertinggi dilapangan tetap ditentukan oleh calo, sekitar Rp 3.400 per kilogram. Kami tidak bisa menjual ke tengkulak lain yang berani menawar harga lebih tinggi, karena setiap tengkulak memiliki calo di lapangan. Setiap calo menguasai areal sawah tertentu. Gabah yang terkumpul disetor kepada tengkulak masing-masing,"Kata Darma (45), ditemui dilokasi panenan.Menurut Darma, dengan cara itu, petani yang kerap dirugikan dengan tidak adanya persaingan penawaran dari para tengkulak, dan lagi petani tidak berani menjual kepada tengkulak lainnya. Sebab petani takut karena para calo berlaku seperti preman. Mereka seolah punya wilayah kerja dengan harga penawaran masing masing di bawah harga pasar.
Menurut Warsa (50), petani  lainnya, keterbatasan modal dan sarana pengeringan membuat petani terpaksa menjual gabahnya segera setelah panen. Bahkan, gabah tetap dijual meski di bawah harga pasaran. Warsa menilai, harga GKP yang terjadi di lapangan masih jauh lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah Rp 3.400 per kilogram. Namun, agar petani untung pemerintah daerah ikut membantu memecahkan masalah. Sebab, keluhan ini sudah disuarakan petani setiap beberapa kali memasuki bulan panen. Petani di Kecamatan lainnya juga, mengeluh ulah preman yang memungut hasil panen dengan mengatasnamakan diri sebagai calo gabah atau pemuda kampung.
Menurutnya, jumlah calo diperkirakan terus bertambah dan meluas ke desa-desa lain. Mereka memang sudah ada sejak beberapa tahun terakhir, tetapi kini semakin banyak dan kasar. Dulu pernah ketika harga di luar desa atau di pasaran masih Rp 3.300-Rp 3.400 per kilogram, gabah milik petani hanya dihargai Rp 2.600 per kilogram. Karena takut dan terdesak kebutuhan, petani terpaksa menjualnya.
Menurut dia, selisih harga sebesar Rp 250-Rp 350 per kilogram sangat signifikan bagi pendapatan petani. Dengan hasil panen sebanyak 5 ton per hektar, potensi pendapatan petani yang hilang akibat selisih harga mencapai RTTp 1,25 juta-1,75 juta. Ia menegaskan, tingginya angka pengangguran turut memicu maraknya premanisme di sawah. Minimnya lapangan kerja mendorong sebagian pemuda pengangguran di desa bekerja sebagai tangan kanan tengkulak di daerahnya. Dengan adanya pungutan tersebut, beban petani semakin bertambah. Selain kenaikan biaya produksi.(fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template