Derita Tulang Bengkok, Tak Punya Biaya ke RSHS - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Derita Tulang Bengkok, Tak Punya Biaya ke RSHS

Derita Tulang Bengkok, Tak Punya Biaya ke RSHS

Written By Mang Raka on Selasa, 26 Juli 2016 | 17.54.00

Pasien Gakin Tiga Tahun Telantar

CILAMAYA KULON, RAKA - Sudah memiliki rumah di lahan orang dengan penghasilan sebagai buruh serabutan, Tasriah (28) dan Arim (35) warga miskin asal Dusun Pulolontas RT 04/05, Desa Sukamulya, Kecamatan Cilamaya Kulon, ragu membawa anaknya Krisna Aditiya menjalani pemeriksaan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Pasalnya, meski dijamin gratis saat pertama kali berobat di tahun 2012, keduanya tidak memiliki banyak uang untuk membawa bolak-balik anaknya yang menderita tulang bengkok di kedua kaki, lengan dan pinggangnya. Diketahui, bocah berusia 6 tahun yang lahir 2 Juni 2010 itu terlahir normal. Menginjak usia 2,5 tahun paska diinjeksi, Krisna yang tinggal di rumah hasil program rutilahu itu masih kesulitan berjalan, dan sering menerima ejekan dari teman-teman PAUD nya. "Usia anak saya sudah 6 tahun. Berat badannya cuma 10 kilogram, jalan juga ditopang kursi kecil. Tulang bengkok yang diderita Krisna sudah berlangsung sejak usia 2,5 tahun," kata Tasriah kepada Radar Karawang, Senin (25/7).
Ia melanjutkan, Krisna yang saat usia 2 tahun demam. Disuntik tim medis sampai akhirnya mengalami pembengkokan tulang. Berusia 2,5 tahun, anaknya dibawa ke RSUD Karawang. Di sana dengan mengantongi Jamkesmas, anaknya diperiksa dan bisa disembuhkan kembali. Hanya saja, di RSUD saat itu konon ada keterbatasan peralatan, sampai akhirnya dibuatkan rujukan agar Krisna dibawa ke RSHS Bandung.
Lebih jauh Tasriah yang didampingi suaminya Arim mengaku, anaknya saat ini sudah mengenyam pendidikan PAUD dari yang seharusnya bisa masuk SD. Di sekolah, anaknya sering diejek teman sebayanya dengan sebutan, "pincang", Gak bisa jalan dan lainnya. Hati mana keluhnya yang tidak miris mendengar anaknya diejek-ejek demikian. Di sisi lain, memang kenyataannya Krisna kesulitan berjalan karena tulangnya melengkung, sehingga harus ditopang kursi-kursi kecil.  Keinginan mengobati Krisna sudah ada sejak jauh-jauh hari. Tapi harapan tinggalah harapan. Ayahnya yang sebatas kuli serabutan tidak mampu berbuat banyak, untuk biaya Krisna jika bolak-balik ke Bandung.
Baru-baru ini, Krisna hanya diupayakannya ke ahli syaraf dan tulang di Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari. Bukannya sembuh, malah Krisna tidak ada perkembangan menggembirakan. Apalagi setiap terapi itu harus merogoh uang Rp 50 ribu. Uang segitu sebut Tasriah, baginya cukup besar dan bermanfaat, karena keluarganya berangkat dari ketidakmampuan.
Jika ada yang bisa memfasilitasi dan berkenan membantu, dirinya akan sangat berterimakasih. Karena impian anaknya sembuh seperti yang diungkapkan pihak RSUD, adalah keinginan kuatnya sejak lama. "Saya hanya terapi tulang dan syaraf saja, jasanya Rp 50 ribu. Uang segitu juga banyak menurut kami mah pak. Kalau ada yang berkenan membantu, saya ingin melihat anak saya sembuh sebelum dia masuk SD," harapnya.
Sementara itu, Ketua Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Cilamaya Kulon, Badrudin mengatakan, sebenarnya Krisna sudah dicover melalui Jamkesmas. Namun, keluarganya masih memikirkan bagaimana jika dibawa ke Bandung? Sementara jasa kendaraan dan operasional lainnya ragu bisa dibiayai. "Dia pakai Jamkesmas memang bisa mengcover biaya gratis. Tapi pulang pergi Bandung, kami bingung nyari uang kemana," pungkasnya. (rud)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template