Cemarajaya-Sedari Masih Putus - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Cemarajaya-Sedari Masih Putus

Cemarajaya-Sedari Masih Putus

Written By Mang Raka on Jumat, 22 Juli 2016 | 12.30.00

-Harus Berputar Sangat Jauh

CIBUAYA,RAKA- Sepanjang 71 Kilometer bibit pantai yang ada di Kabupaten Karawang, 51 kilometer diantaranya berada dalam kondisi kritis, alias tidak memiliki hutan mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi. Ironisnya, hingga kini Pemerintah belum memiliki regulasi peraturan tentang pelestarian pantai. Sehingga, para petani tambak leluasa membuat tambak kendati berada tepat di bibir pantai yang seharusnya di gunakan sebagai zona hijau hutan mangrove.Data terakhir, di tahun 2008, 50 km dari 71 km panjang pantai karawang kondisinya kritis. Hancurnya sarana infrastruktur penghubung ke dua desa di Pisangan-Sedari menjadi contoh nyata. Imbasnya, kedua desa itu hingga kini masih terisolir.
Penanaman mangrove salah satu upaya pelestarian kawasan pantai yang gagal, karena tidak sedikit masyarakat yang kurang memahami pentingnya hutang mangrove di bibir pantai. Mereka menganggap, hutan mangrove menjadi penghalang dalam usaha pertambakan. Faktor lainnya, bibit tanaman mangrove tumbang oleh ombak dan dimakan ternak.
Sementara, dampak abrasi menyebabkan kondisi akses jalan di kawasan pantai menyempit digerus abrasi, dan juga air laut pasang. Tidak jarang, rusaknya infrastruktur menghambat proses pengiriman hasil laut. Diantaranya, putusnya akses jalan melalui pantai pisangan yang menghubungkan Desa Cemarajaya dengan Desa Sadari menyebabkan ribuan warga yang bermukim di Desa Sadari terisolir.
Bahkan, akses jalan yang digunakan untuk pengiriman hasil laut ini semakin menyempit akibat air pasang pekan lalu. Padahal, jalan ini dimanfaatkan oleh warga dua desa, yakni Cemarajaya dan Sadari untuk menopang aktifitasnya mencari kesejahteraan. Selain itu, jalan ini juga menjadi akses utama warga dan pengusaha di bidang pertambakan.
Akibat putusnya jalan ini, menurut petambak asal Desa Sadari, Jun (34) kepada RAKA, aktivitas ribuan warga dari Desa Sadari maupun Pisangan menjadi terhambat. Terlebih, ketika posisi air laut sedang mengalami pasang seperti kemarin. "Dalam kondisi normal, untuk sementara ini akses jalan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Itu pun harus ekstra hati-hati. TerKecuali jika gelombang air pasang semakin meningkat, jalan ini putus total,"jelasnya.
Beberapa aktifitas warga, lanjut dia, selain hanya menggunakan roda dua, mereka harus mengunakan perahu untuk menuju ke Desa Sadari akibat putusnya jalan darat di lokasi Pantai Pisangan. Pasalnya, akses jalan setapak di Desa Sadari sudah tidak memungkinkan digunakan untuk pengiriman hasil laut meski terbilang paling ekonomis.
Sementara itu, jika ini dibiarkan, perekonomian warga otomatis lumpuh total. Sebelum putus digerus abrasi, akses jalan ini memang satu-satunya jalur yang paling hemat bagi warga kedua desa menuju pusat kota maupun sebaliknya. Kata dia, ketika aktifitas harus menggunakan jalur laut, maka para nelayan juga petambak harus merogoh lebih banyak biaya operasional perjalanan. "Untuk mengirim hasil laut seperti ikan laut, udang laut, dan juga hasil budi daya tambak, warga menggunakan jalan ini. Sehingga praktis dengan kondisi ini perekonomian macet," kata dia.
Karena itu, ia dan nelayan maupun petambak meminta kepada pemkab untuk segera menangani serius terkait jalan yang putus ini. Karena jika hanya ditanggung oleh pemerintah desa, hal itu sangat sulit dilakukan mengingat anggaran yang dimiliki pemdes sangat kecil.(fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template