Unang Naik Haji Lewat Jalur 'Bin Ladin' - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Unang Naik Haji Lewat Jalur 'Bin Ladin'

Unang Naik Haji Lewat Jalur 'Bin Ladin'

Written By Mang Raka on Rabu, 08 Juni 2016 | 18.26.00

Pingsan Ketika Pertama Malihat Kabah

Bisa mengerjakan rukun Islam yang kelima, ibadah haji jadi impian setiap orang Islam. Namun, untuk melaksanakan ibadah yang satu ini tidak mudah.
Selain harus sehat jasmani, para calon haji juga wajib mengeluarkan uang yang cukup lumayan agar bisa berangkat ke tanah suci.
Tapi hal tersebut tidak jadi jaminan seseorang bisa berangkat ke Mekkah. Pasalnya, mereka harus menunggu antrean bertahun-tahun karena keterbatasan kuota haji Indonesia. Bahkan, tidak sedikit para calon jemaah yang keburu dipanggil Sang Ilahi, lantaran proses pemberangkatan memakan waktu lama.
Tapi, bagi mereka yang berangkat menjalankan ibadah haji banyak cerita manis, haru dan duka yang mereka bawa sepulang dari tanah Arab. Ada cerita berkesan selama mereka menyempurnakan rukun Islam yang kelima itu. Seperti yang di ungkapkan H. Unang Sutisna (49), warga Kecamatan Plered. Selama di tanah suci, Unang mengaku mengalami kejadian-kejadian aneh. "Seperti tiba-tiba ada yang mukul dari belakang saat salat. Terus tersesat di jalan padahal tenda atau camk udah ada di depan mata dan banyak yang lain," ujarnya kepada Radar Karawang.
Bermodal berangkat dengan menggunakan jalur 'Bin Ladin' (berhaji sambil bekerja) pada tahun 2013 lalu. Unang tidak sepenuhnya fokus menunaikan ibadah haji. Dia harus membagi waktu antara ibadah dan bekerja. Hal itu, dilakukan dengan tujuan bisa berangkat ke tanah suci dengan cepat tanpa menunggu lama. "Untuk biaya saya kemarin keluar uang hampir Rp 25 juta, walaupun disana saya sambil bekerja dengan durasi kontrak satu tahun lebih. Disana saya kerja jadi tukang bersih-bersih di Masjidil Haram. Saya sengaja ikut Bin Ladin karena tidak harus menunggu lama untuk berangkat, meskipun disana sambil bekerja," ujarnya.
Bapak lima anak ini menceritakan kenangan yang hingga kini selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. "Yaitu saat pertama kali melihat wujud Kabah. Lutut bergetar badan lemas, dan saya pun langsung jatuh pingsan," ungkapnya
Bagi dia, bisa menginjakan kaki di tanah suci menjadi sesuatu yang sangat berhaga semasa hidupnya. Meski begitu, warga Desa Cibogogirang ini mengaku menyimpan rasa sesal yang mendalam. "Saya nangis pas pulang. Saya menyesal kenapa selama waktu di tanah suci tidak dimanfaatkan untuk fokus ibadah. Malah banyak bekerja," pungkasnya. (gan)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template