Ujian Kepala MTs Fathonul Burhan Saat Tawaf - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Ujian Kepala MTs Fathonul Burhan Saat Tawaf

Ujian Kepala MTs Fathonul Burhan Saat Tawaf

Written By Mang Raka on Senin, 06 Juni 2016 | 19.04.00

Dikira Bawang Merah Ternyata Bau Keringat

Tanah Suci Mekkah selalu melahirkan sejuta cerita. Peristiwa lucu, sedih, haru, aneh hingga menegangkan kerap dirasakan oleh jemaah haji atau umroh.
Seperti yang dialami Kepala MTs Fathonul Burhan Kecamatan Tempuran, Ajang Syaeful Khiyar S.PdI. Ia bersama istri menjalani umroh tanggal 7-15 April melalui KBIH NRA cabang Pesantren Baitul Burhan Lemahsubur. Sesampai di Mekkah, rasa haus melihat Kakbah lunas sudah. Pria berumur 30 tahun itu tidak kuasa menahan air mata, saat bangunan peninggalan Nabi Ibrahim AS itu berdiri tegak dihadapannya, dimana miliaran umat Islam menghadapnya di kala ritual salat sehari-hari.
Disana Ajang merasakan nikmatnya beribadah. Ia merasa rasa ikhlas dituntut dan kehinaan dipertontonkan di rumah besar Allah SWT. Bayangkan saja, jemaah harus rela datang ke Masjidil Haram 1 jam sebelum waktu salat. Dari sana ia banyak belajar, keikhlasan dan kesungguhan batin beribadah kepada Allah SWT yang jarang ia temui di tanah air.
Di kota ini tambah Ajang, wilayahnya begitu tandus. Tapi, lewat kebesaran Allah yang menjamin rizki dan kenikmatan makhluknya, sumber-sumber mata air, di kota yang dulunya disebut Makkah Al Mukarromah ini begitu Melimpah. "Allah itu menjamin rizki setiap makhluknya. Buktinya, di kota tandus saja Allah berkahi air-air yang melimpah. Maka saya teringat setiap keluhan-keluhan penyakit hati, yang selama ini selalu buruk sangka kepada Allah SWT," ujarnya kepada Radar Karawang, Minggu (5/6) kemarin.
Lebih lanjut Ajang bercerita, orang Indonesia selalu beranggapan bahwa Hajar Aswad dan Makam Rasulullah sulit ditempuh, karena berjubelnya puluhan ribu jemaah dari berbagai negera. Tapi, dirinya hanya yakin sejak di tanah air, bahwa dirinya harus mencium batu hitam yang sempat diperebutkan 4 kafilah di zaman Nabi Muhammad SAW itu. Keyakinan itu berbuah manis. Karena Allah SWT justru memberi jalan yang mudah hingga dirinya bisa melihat Hajar Aswad, dan menciumnya dengan penuh ketawadhuan.
Tidak itu saja, Makam Nabi Muhammad SAW di Raudhoh Masjid Nabawi juga disambanginya. Di tempat ini dirinya bertafakur selama 3 jam dengan memanjatkan doa dan salawat. Karena figur yang selama ini dibaca setiap salat, bahkan disanjung melalui berbagai karangan salawat, makamnya ada dihadapannya langsung. Entah apa yang dirasa tambah Ajang, antara bangga, haru, hina dan penuh harapan. Tapi yang jelas di lokasi ini dirinya dapati kesejukan, dan kedamaian yang tak pernah ia rasa selama di tanah air.
Semua itu ia jalani dengan keyakinan akan kesempurnaan ibadah selama di rumah Allah SWT. Karena tidak sedikit pula, rekan-rekan se-KBIH yang memang sebelumnya kurang yakin dan selalu berpikir dunia, acapkali mengalami kesulitan saat di Mekkah. ada yang lepas dari rombongan, ada pula orang yang barangnya selalu saja hilang, bahkan hingga sakit-sakitan saat di tanah suci, sementara di tanah airnya selalu sehat. Terlepas, balasan atau ujian, tapi dirinya mengakui kebesaran Allah itu nyata dirasakan di kota suci ini secara kontan. "Di Makam Rasulullah, ada kesejukan hati dan pikiran di sini. Semakin lama bersalawat, kerinduan terhadap figur yang dibaca setiap salat dan salawatan itu terjawab di Raudhoh ini. Subhanallah," ungkapnya.
Lebih lanjut Ajang menambahkan, selama di Mekkah, bukan tidak ada peristiwa lucu disana. Karena ada saja yang mengganggu kekhusyuan ibadah. Utamanya saat tawaf dan lari-lari kecil dari Shaffa ke Marwa. Karena jemaah sering berdesakan mengitari Kakbah, ia selalu mencium bau bawang merah. Usut punya usut, itu adalah bau badan dan keringatnya orang-orang Eropa dan sebagian Timur Tengah. Hal itu selain tidak membuat khusyuk, terkadang menimbulkan gelak tawa. Tapi karena fokus ibadah, semua pelaksanaan tetap berjalan normal.  "Serius, orang-orang luar berbadan tegap, bau badannya seperti aroma bawang merah," ujarnya.
Ada pula yang ia salut dari keseharian orang-orang Arab, yaitu terjaganya kaum perempuan. Disana kenang Ajang, tidak ada perempuan berkeliaran diluar secara bebas, menjaga kehormatan dan pamer kemolekan dengan pakaian yang negatif.  (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template