Taman Serempak Hal Mustahil - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Taman Serempak Hal Mustahil

Taman Serempak Hal Mustahil

Written By Mang Raka on Sabtu, 25 Juni 2016 | 14.30.00

TELAGASARI, RAKA - Setiap musim, secara simbolis selalu digalakan program percepatan tanam serempak jelang masuknya masa tanam gadu maupun rendeng. Namun, pemakaian istilah tanam
Serempak tidak sesuai dengan kondisi pesawahan di Karawang. Selain simbolisnya selalu mundur lebih dari 2 bulan, pengairan dengan sistem penyekatan golongan membuat tanam tandur di Karawang selalu bertahap di jalankan. Apalagi, kondisi buruh tani pun semakin langka.
Dikatakan petani asal Telagasari, Wawan Kawista najwa kapanpun, sulit rasanya di Karawang ada tanam serempak. Kecuali tanam serempak dalam satu golongan air.
Alasannya sebut Wawan adalah faktor pengairan yang bertahap di Karawang. Sehingga satu golongan dengan golongan lain pasti berbeda. Ada yang tanam ada yang sedang panen. Sehingga walaupun ada acara simbolis, petani tetap memundurkan jadwal tanam lebih dari 2 bulan. Untuk itu, istilah tanam serempak dimintanya agar tidak digunakan lagi dalam program. Ada baiknya saran Wawan, gunakan istilah tanam bertahap atau tanam serempak di satu golongan air. "Sulit pak kalau tanam serempak mah, di kita tanam sementara tetangga masih panen bagaimana, apalagi yang kita andalkan itu kan air," tandas dia.
Lebih jauh penyelia tanaman Kawista ini menambahkan selain faktor air, tanam serempak juga tidak melihat kondisi upah kerja dan buruhnya yang semakin langka. Alasan mundur, karena di Karawang Selatan mulai tanam. Sementara di utara tengah panen, sehingga buruh yang rata-rata berasal dari utara, lebih memilih jasa panen ketimbang tanam.
Disinggung menggunakan transplanter atau mesin tanam padi yang saat ini sudah banyak bergulir di kelompok tani, Wawan pesimis petani, orang dinas sampai penyuluh sekalipun bisa mengoperasikannya. Sementara, produsen transplanter sendiri selama ini tidak pernah memberikan pembinaan, penyuluhan dan pelatihan kepada petani tentang cara tepat tanam padi yang benar menggunakan alat tersebut. "Bisa pake alat tanam padi, masa orang dinas atau BP4K yang ngasih tahu mengoperasikannya, harusnya produsen dong beri pendampingan ke petani bagaimana cara mengoperasikannya," kata dia.
Buruh tani tambah Wawan, layaknya seperti buruh outsourching yang hilang setelah tanam, karena terus menjurus ke wilayah utara dan beralih menjadi kuli masa panen. Kelangkaan ini tambahnya, harusnya di koordinir maksimal, mulai dari pembibitan, upah kerja sampai jadwal tanamnya. Karena selama buruh langka, jangan harap tanam serempak itu berwujud maksimal. "Buruh juga langka, mereka kan seperti outsourching, datang tanam pergi lagi dan sulit nyarinya sekarang mah, ya jadwal juga makin mundur saja," keluh dia. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template