Sebulan Tiga Kali Terjadi Pelecehan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Sebulan Tiga Kali Terjadi Pelecehan

Sebulan Tiga Kali Terjadi Pelecehan

Written By Mang Raka on Jumat, 17 Juni 2016 | 19.33.00

KARAWANG, RAKA - Pelecehan seksual yang menimpa anak-anak di Kabupaten Karawang tergolong parah. Dalam satu bulan saja, terjadi tiga kali pelecehan.
Berdasarkan data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), selama kurun waktu lima tahun terakhir sudah terjadi 162 kasus pelecehan seksual. Atau jika dirata-ratakan per bulannya, terjadi tiga pelecehan seksual terhadap anak. Pengurus P2TP2A Karawang Ine Mulyati mengatakan, kasus kekerasan atau pemerkosaan terhadap kaum perempuan memang terus bermunculan. Selain korbannya mengalami trauma, juga masa depannya hilang. Parahnya, hukuman yang diterima pelaku tidak setimpal dengan dampak yang diderita korban. Padahal jika dibandingkan dengan negara lain, kata Ine, predator seks bisa dihukum 20 sampai 30 tahun. Ini membuat jera bagi para pelaku yang sudah tega menghancurkan para korban. "Kita memang tidak bisa menyalahkan hakim 100 persen, karena undang-undang yang ada terbatas," ujarnya.
Seketaris Daerah Karawang Teddy Rusfendi mengatakan, hingga saat ini fenomena kekerasan terhadap anak, masih menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi seluruh pemerintah daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Karawang. “Kondisi ini perlu menjadi perhatian kita bersama," ujarnya.
Teddy menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dan OPD, harus mampu membangun gerakan bersama untuk mencegah dan menghapus tindakan kekerasan terhadap anak. Sekaligus membangun jejaring dan menggali potensi masyarakat, untuk mencegah dan menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Seorang ibu korban pemerkosaan, Pindriawati mengaku anaknya trauma. Kini masa depan anaknya sudah hancur. "Kondisi anak saya trauma. Setiap melihat laki-laki langsung ketakutan, dan bahkan berteriak minta tolong ayahnya," kata Pindriawati kepada Radar Karawang.
Selain masih trauma, DP sendiri harus rela kehilangan masa depan untuk bisa belajar seperti anak-anak lain di usianya saat ini. Ia seharusnya belajar di bangku sekolah SLTA. "Untuk sekolah saja terpaksa berhenti, karena DP merasa minder," terangnya. (dri)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template