Rawagede Berpotensi Jadi Tempat Wisata Sejarah - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Rawagede Berpotensi Jadi Tempat Wisata Sejarah

Rawagede Berpotensi Jadi Tempat Wisata Sejarah

Written By Mang Raka on Senin, 20 Juni 2016 | 16.00.00

RAWAMERTA,RAKA - Makam sejarah para pejuang dan korban penembakan warga sipil di Dusun Rawagede, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, masih menjadi primadona pariwisata sejarah di Karawang. Tempat ini menjadi salah satu tempat napak tilas sekaligus pembelajaran oleh sejumlah pelajar dan warga yang ingin mengetahui kisah dan perjuangan pada tragedi Rawagede.
"Yang dimakamkan disini kebanyakan warga sipil dari Desa Balongsari. Sehingga saat ini setiap minggunya banyak para pelajar sekolah SD-SMA turut datang ketempat ini untuk sekedar ingin tahu dan belajar sejarah disini," ujar Kemon, salah seorang penjaga monumen Rawagede.
Setiap minggunya, ulas dia, 300 pengunjung bisa datang ketempat ini, itu dapat dihitung dari banyaknya tiket masuk yang habis dijual. Pada hari-hari biasa, ada sekitar 150 orang saja yang datang ketempat ini mayoritas adalah para pelajar. Tetapi para pengunjung umum juga tak kalah banyak. Rata-rata mereka kesana hanya untuk sekedar foto-foto. "Harga tiket sendiri bervariatif untuk para pelajar hanya Rp 1000, untuk umum Rp 2000. Sedangkan untuk rombongan yang menggunakan mobil itu kita hitung per mobil. Tiket berkisar Rp 15000 saja," paparnya.
Dijelaskannya, monumen, Rawagede ini dibangun pada tahun 1996 yang digagas oleh Pangdam III Siliwangi Bandung H. Haryo Tarmadi, mengingat banyak para sanak saudara korban penembakan tersebut yang di tinggalkan terlantar.
Dengan membuat monumen sejarah itu diharapkan ada pengujung yang datang ketempat tersebut dengan dikenakan karcis sekedarnya. "Sehingga bisa sedikit membantu meringankan beban para sanak saudara yang ditinggalkannya. Hasil uang dari karcis ini kita kasih ke bendahara dan di berikan kepada yayasan serta selanjutnya akan diberikan kepada para anak dan saudara korban penembakan tersebut," jelas Kemon.
Dahulunya, papar dia, Rawagede ini merupakan salah satu markas dari para pejuang Indonesia. Setiap minggunya markas para pejuang tersebut berpindah-pindah dari lokasi satu kelokasi lainnya guna untuk mengelabui musuh, namun markas tersebut masih berada di dalam Desa Balongsari ini. Sedangkan dari 483 para korban yang ditembak oleh Belanda, yang di ketemukan dan dimakamkan itu sekitar 181 saja. Sisanya hanyut terbawa arus sungai saat sembunyi di dalam sungai. "Pasca serangan sejumlah warga bersembunyi didalam air sungai dengan mengikuti arus air bercampur sampah dan eceng gondok dengan wajag di keluarkan kepermukaan air untuk bernafas. Namun para tentara belanda selalu membawa anjing, maka setiap ada tumpukan sampah, anjing tersebut menggonggong dan para tentara Belanda pun menembaki tumpukan sampah tersebut, alhasil yang bersembunyi pun tertembak dan gugur ditempat," kisah dia.
Sementara itu, Dini (14) yang sedang berkunjung ke monumen makam sejarah para pahlawan tersebut mengatakan sering ada tugas dari sekolah perihal monumen Rawagede. "Sering datang kesini karena kebetulan biasanya dapat tugas dari sekolah," singkat Dini.
Walaupun dirinya berdomisili dari Rawamerta, tetapi ia mengaku baru kali ini datang ketempat monumen tersebut. Bahkan, saat di singgung mengenai kondisi jalan menuju monumen tersebut Dini mengaku sangat menyayangkan sekali, pasalnya akses jalan menuju monumen makan pahlawan itu rusak dan tidak terawat. "Tetapi dijalannnya yang membuat malas, selain becek dan licin saat diguyur hujan, juga banyak jalan berlubang. Sangat disayangkan sekali, akses menuju tempat bersejarah ini kok masih seperti ini," paparnya.(fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template