Pemda Diminta Relokasi Lio Pembakar Kapur - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pemda Diminta Relokasi Lio Pembakar Kapur

Pemda Diminta Relokasi Lio Pembakar Kapur

Written By Mang Raka on Sabtu, 04 Juni 2016 | 16.00.00

PANGKALAN, RAKA - Asap hitam yang diproduksi lio-lio pembakaran batu kapur disepanjang Jalan Badami-Loji kembali dikeluhkan. Bukan saja pemicu penyakit ispa (ganggung saluran pernapasan) tetapi juga karena kerap jadi penyebab terjadinya kecelakaan di ruas jalan tersebut.

Pengendara yang melintasi gumpalan bergulung dan menutup pandangan mengaku matanya perih begitu lolos dari buntalan asap, selain napas serasa sesak. Karena rata-rata pengendara selalu menahan napas ketika menembus gumpalan asap tersebut, dengan harapan tidak sampai menghirup asapnya karena amat berbahaya bagi pernapasan. "Perih mata pak, dan napas jadi sesak waktu melintasi kabut asap," ucap Pupu (45) pengendara motor yang sempat diwawancarai RAKA karena menghentikan motornya dipinggir jalan, kemarin.
Pupu sendiri merasa bingung dengan bahan bakar yang digunakan lio-lio pembakaran batu kapur. Karena kalau bahan bakarnya kayu atau sejenisnya asap yang ditimbulkan tidak akan seperih itu. Terus baunya juga amat menyengat seperti kabel terbakar. Demikianpun warna asapnya sangat pekat tidak seperti hitamnya asap akibat proses pembakaran kayu bakar.
Selain itu, jarak pandang pengendara juga terbatas ketika asap turun dan menutupi jalan karena mengalami penebalan. Karenanya, pengendara dihimbau agar berhati-hati ketika kondisi seperti itu, terutama saat melintas di wilayah wilayah Pakapuran, Desa Parunglaksana dan Desa Tamansari. "Yang mengkhawatirkan ketika asap tebalnya turun, waduh pandangan mata saya pun sulit melihat jelas ditambah lagi sesaknya, bikin pengap," ucap Pupu lagi. Dia berharap agar pemerintah bisa mengalokalisir lio-lio pengelolan batu kapur ke wilayah yang lebih aman, agar tidak membahayakan pengguna jalan.
RAKA yang menelusuri bahan bakar yang digunakan lio untuk membakar batu kapur tidak bisa menyalahkan prasangka yang dilontarkan Pupu. Sebab, lio-lio tersebut memang berbahan bakar bahan karet dan sejenisnya. Seperti ban bekas, limbah kain, dan juga plastik hingga limbah sendal jepit. Sehingga asap pun membuat para pengendara motor mengeluhkan perihal asap yang membuat sesak dan perih ke mata.
Hal senada diungkapkan Deden (37), pengendara motor dari Telukjambe, dirinya tidak ada masalah kalau hanya asapnya saja yang mengganggu penglihatan,  akan tetapi dirinyapun mempunyai hak selamat di jalan raya. Maka dia menyarankan agar pemerintah bisa persuasif melakukan pendekatan agar pihak pabrik bisa mengindahkan apa yang menjadi larangan operasi pabrik. "Pemerintah saya yakin bisa persuasif dalam menangani perihal tersebut agar pihak pengelola pun bisa melaksanakan kegiatan tersebut dan juga tetap melestarikan keberadaan pabrik kapur di wilayah tersebut. Ditambah pula sekarang nemang asap tebal yang dihasilkan oleh pabrik kapur lain dari tahun-tahun sebelumnya yang masih aman-aman saja," paparnya.
Di tempat terpisah, H.Ajim (40), tokoh masyarakat Desa Tamansari mengungkapkan, agar pemerintah bisa bersama-sama menganalisa dengan baik produk tradisional pengelolaan batu kapur agar produksi nya tidak menggunakan bahan yang sekarang banyak dikeluhkan banyak orang. Saat ini terselenggaranya pembakaran itu memang menjadi keluhan banyak pihak. "Saya yakin pasti ada formula yang tepat agar penggunaan bahan bakar batu kapur tidak mesti menggunakan bahan-bahan yang justru malah membahayakan banyak orang akan tetapi pemerintah pun harus bisa menjadi penengah permasalahan itu," tutupnya. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template