Pejabat Sindir MUI Soal Honor Guru Ngaji - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pejabat Sindir MUI Soal Honor Guru Ngaji

Pejabat Sindir MUI Soal Honor Guru Ngaji

Written By Mang Raka on Rabu, 22 Juni 2016 | 14.00.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Jufri As Salami yang menyatakan bahwa bantuan insentif guru ngaji distribusinya tidak beres, lantaran selain nominal yang rendah dan menghilangkan kewibawaan para ustad mendapat sindirian dari birokrat. Perhatian pemerintah kepada penggiat agama seharusnya didukung semua pihak.
"Pernyataan MUI itu tidak memahami birokrasi. Selama ini tidak ada ustad yang komplain walau harus antri mengambil insentif Rp 1,2 juta pertahun," ungkap Staf Kasie Kesejahteraan Sosial (Kesos) Cilamaya Wetan, H Nurhasan kepada RAKA.
Menurutnya, jika ada ustad atau guru ngaji yang komplain karena harus mengantri, dipersilahkan untuk menolak bantuan insentif. Karena, sepengathuannya dari tahun ketahun distribusi insentif guru ngaji, amal dan guru DTA ini berjalan normal.
Sehingga, semestinya terus Nurhasan, tidak ada pernyataan yang dikeluarkan MUI bahwa Pemkab tidak menghargai para guru ngaji. Justru ia menyarankan, guru ngaji termasuk MUI bersyukur terhadap perhatian pemkab karena sudah diberikan perhatian. "Jangan ada istilah Pemkab tidak menghargai guru ngaji, toh bantuan setiap tahun juga berjalan normal saja tanpa komplain," tandas dia.
Lebih jauh Nurhasan, menambahkan jika Kiai mengecam dengan membawa nama MUI, ia balik menanyakan, apa yang sudah dilakukan MUI selama ini terhadap umat dan guru ngaji. Baik secara pola pendidikan maupun pembinaannya? Pemkab terus Nurhasan, sejauh ini sudah bagus memberikan perhatian. Tinggal MUI mendorongnya untuk berperan lebih jauh dan jangan memberikan predikat pemkab atau pegawai kecamatan tidak menghormati guru ngaji.
Bantuan itu, tandas dia, tergantung orang melihat. Tapi setidaknya, tidak ada pembedaan dari pemerintah terhadap guru ngaji tanpa melihat status, apakah PNS, kaya dan tidak punya. Mengingat menjadi ustad atau guru ngaji adalah bentuk pengabdian yang sudah sepatutnya diperhatikan pemerintah. "Apa peran MUI sejauh ini dalam pembinaan umat dan guru ngaji di desa-desa, kan belum terlihat. Harusnya ada yang perhatian kepada tokoh agama ini didorong, bukan malah dianggap tidak hormat," kecam dia.(rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template