Orang Biasa, Melawan Negara - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Orang Biasa, Melawan Negara

Orang Biasa, Melawan Negara

Written By Mang Raka on Rabu, 01 Juni 2016 | 22.27.00

Tidak banyak orang yang berani melawan ketidakadilan, terlebih jika yang mereka hadapi adalah negara. Padahal, sejak reformasi meruntuhkan rezim Orde Baru, kran demokrasi terbuka lebar. Masyarakat bebas menyampaikan aspirasi di muka umum. Meski terkadang masih ada yang memanfaatkan hal itu untuk kepentingan pribadi. Di Hari Pancasila, Radar Karawang mengangkat kisah orang-orang biasa yang berani melawan ketidakadilan. Berani menyuarakan kebenaran. Dan membela kepentingan orang banyak.
Tiga tahun yang lalu di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon, pemilihan kepala desa yang awalnya berjalan tenang, tiba-tiba digegerkan oleh enam orang warganya yang berani menggugat hasil pilkades. Lawannya bukan hanya kades terpilih, tapi Pemerintah Kabupaten Karawang. Mereka bukan sosok yang berlatar belakang sarjana hukum atau tokoh berduit tebal. Tapi dengan semangat kerjasama, para penggugat itu berhasil membuat kikuk dan geleng kepala para pejabat Pemkab Karawang. Persidangan yang dijalani selama tiga tahun akhirnya dimenangkan oleh mereka. Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memutuskan jika Pemkab Karawang harus menggelar ulang pilkades Sumurgede. Sedangkan Mahkamah Agung menolak kasasi bahkan peninjauan kembali yang diajukan oleh pemkab. Enam orang itu adalah Tatang (mantan kades), Nanang Koswara (petani), Dedi Mulyadi (buruh pabrik), NU Syamsudin (wiraswasta), Asep Arifin (pedagang air mineral), dan Alwi Jabarudin (pedagang kelapa). Meski dalam perjalanannya Asep dan Alwi mundur. Tatang meninggal dunia. Tapi keyakinan mereka jika pilkades dilakukan dengan curang, ternyata membuahkan hasil. "Kami punya massa, jika mau, gampang saja kami kerahkan untuk anarkis. Tapi tidak kami lakukan. Karena kami bertahan ingin membuktikan bahwa para penggugat adalah semua figur yang sadar hukum," ungkap Nanang kepada Radar Karawang, Selasa (31/5) kemarin.
Selama proses persidangan tiga tahun terakhir, dirinya bersama para penggugat lainnya bukan tidak pernah ada gesekan. Karena sesekali karena kesibukan pekerjaan atau silang pendapat, sempat bersinggungan. Bahkan dua diantaranya memilih mundur dalam barisan penggugat. "Itu tidak menjadi soal, kami terus maju," ujarnya.
Ia melanjutkan, berapa pun uang yang sudah dikeluarkan, keadilan harus tetap diperjuangkan. Meski salah satu rekannya yang sama-sama berjuang mencari keadilan, Tatang meninggal. Dalam pesan terakhirnya, Tatang yakin eksekusi pilkades ulang di Sumurgede pasti akan dilakukan. "Jelang tutup usia saja, seorang penggugat pilkades melontarkan pesan perjuangan, dan optimisme bahwa eksekusi cepat atau lambat pasti dilakukan," ungkapnya.
Lain lagi dengan Tata (46). Pria yang menempati tanah milik negara di wilayah hutan Kutatandingan, adalah salah satu dari 96 kepala keluarga yang memilih  bertahan di lahan tersebut. Ia mengatakan, warga sempat memaksa pihak Badan Pertanahan Nasional untuk menerbitkan sertifikat tanah. "Sebenarnya sebagian warga siap pindah dari lokasi itu, karena mereka juga sadar itu tanah negara. Tapi warga meminta difasilitasi pindah ke lokasi lain, atau diganti rugi karena bangunan rumah dibuat kan pake uang juga," ujar Tata.
Sementara di Kabupaten Purwakarta, perjuangan warga Pasar Rebo di Kelurahan Nagri Kidul, Kecamatan Purwakarta, masih terus berlanjut. Warga pasar sampai saat ini tetap menolak rencana relokasi yang direncanakan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta sejak Tahun 2006 silam. Bahkan warga pasar tersebut, lebih memilih untuk tetap bertahan dan berjualan di pasar yang sampai saat ini mereka tempati. Tentu saja bukan hal yang mudah. Warga pasar sejak 10 tahun lalu dihantui oleh teror relokasi yang diagendakan pemerintah setempat. Perjuangan untuk tetap bisa berjualan dan mengais rezeki di pasar tersebut. Dari unjuk rasa ke unjuk rasa mereka lakukan. Demonstrasi ke pemda dan DPRD Purwakarta menyampaikan aspirasi sebagai bentuk penolakan juga dilaksanakan. Sampai warga pasar ini juga menempuh jalur hukum. Beberapa kali nyaris kontak fisik, dengan pihak yang berupaya melakukan pembongkaran lapak-lapak warga di pasar ini.
"Dari awal sampai sekarang, sekitar 10 kali mungkin rencana pembongkaran pasar. Terakhir langsung dipimpin oleh Bupati Dedi. Tapi Alhamdulilah, berkat kekompakan dan niat baik kami, rencana relokasi bisa terus dicegah," kata Ketua Ikatan Warga Pasar (Iwapa) Pasar Rebo H. Zaenal Muttaqien.
Mempertahankan Pasar Rebo lanjut Zaenal, merupakan upaya yang terus akan dilaksanakan. Karena selain tidak menyalahi aturan, tidak ada ketentuan yang mengharuskan dan mengatur Pasar Rebo harus direlokasi. Pasalnya, warga pasar pada Tahun 2014 yang mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) menghasilkan keputusan NO atau tidak ada keputusan. "Dalam amar putusan itu tidak ada kalimat atau kata-kata yang membolehkan Pemda Purwakarta melakukan relokasi Pasar Rebo," ujar Zaenal.
Dia menjelaskan, pihaknya bersama warga pasar lainnya akan terus mempertahankan keberadaan Pasar Rebo yang menjadi sumber pendapatannya untuk mengidupi keluarga dan anak-anaknya. "Selain upaya kita mengkompakan pedagang, menempuh jalur hukum dan menempuh jalur musyawarah. Kami juga seminggu sekali melaksanakan doa bersama seluruh warga pasar, agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mempertahakna pasar ini," ujar dia.
Senada dikatakan H. Zaenudin, salah seorang pedagang Pasar Rebo. Dia bersikukuh untuk tetap mempertahankan keberadaan Pasar Rebo yang selama ini menjadi lahan untuk mengais rezeki. "Kalau mau, pemerintah mending melakukan renovasi dan revitalisasi. Karena sampai saat ini Pasar Rebo justru belum pernah diperbaiki oleh pemerintah. Kalau terus dibiarkan begini kita bakal kalah bersaing dengan tempat-tempat lain yang justru lebih bagus," ungkap Zaenudin. (ega/awk/rud)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template