Ngabuburit Sering Jadi Ajang Balap Liar - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Ngabuburit Sering Jadi Ajang Balap Liar

Ngabuburit Sering Jadi Ajang Balap Liar

Written By Mang Raka on Rabu, 15 Juni 2016 | 14.00.00

CILAMAYA KULON, RAKA - Jauh dari keramaian kota, tidak menjamin kenyamanan masyarakat. Pasalnya, tradisi ngabuburit acapkali menjadi pembenaran dilakukannya aksi-aksi brutal seperti balap liar di jalanan.
Di jalur Syeh Quro Desa Bayurkidul-Kiara Kecamatan Cilamaya Kulon misalnya, jalanan sekitar 1 kilometer yang diapit pesawahan kanan dan kiri itu menjadi lokasi kumpul anak-anak untuk ngetrek motor.
Warga Kecamatan Cilamaya Wetan, Yudi Yudistira mengatakan sudah beberapa malam terakhir, banyak ABG nongkrong di depan pas jembatan sekitar lebih dari 20 orang. Aksi para pemuda tersebut meresahkan masyarakat karena sering berteriak tidak jelas sambil minum alkohol. Bahkan jika ada warga yang melintas selalu disoraki. "Rawan terjadi tawuran, rawan piributeun kalau dibiarkan," ujarnya.
Ia menambahkan, jika  di Karawang, ia sering melihat gencarnya patroli yang dilakukan polisi, tapi kalau  di tingkatan polsek justru jarang ia lihat kegiatan patroli di malam hari. Sebenarnya, sudah ada bagian-bagian sendiri di polsek termasuk soal jadwal patroli rutin. Namun justru terkesan diabaikan.
Aksi pemuda yang nekat menjadi ngabuburit jadi ajang balap liar ini juga terjadi di Dengklok, tepatnya di Dusun Cikelor Desa Amansari Kecamatan Rengasdengklok. Saat sore tiba di bulan puasa, sepanjang jalan Cikelor kerap dijadikan tempat balapan liar remaja. Beberapa Anak Baru Gede (ABG) ini kedapatan sedang melakukan aksi adu cepat di jalur yang ramai dilintasi warga tersebut.
Diat (30) salah satu warga setempat mengaku khawatir dan sangat terganggu dengan aksi balap liar itu. Sebab jalan yang dijadikan arena adu kencang itu banyak dilewati warga. "Saya suka kwatir aja, walaupun banyak warga yang melintas, balapan tetap dilanjut, kan bahaya," katanya.
Aksi yang banyak dilakukan remaja itu bukan hanya saat menjelang sore saja, namun saat malam tiba pun tempat itu kerap dijadikan ajang balapan. Aksi ini sering dilakukan karena tidak ada yang berani menghentikan kenakalan para remaja itu. "Pernah saya usir, tapi datang lagi-datang lagi," ungkapnya.
Di tempat yang sama Idoh (35) warga Cikelor mengaku sudah pusing dengan kelakuan para remaja nakal tersebut. Padahal jalan yang digunakan balapan itu sangat berbahaya, karena banyak jalan yang berlubang dan rusak. Namun kendati sudah diperingatkan, tetap saja banyak remaja melakukan aksi membahayakan pengguna jalan ini. "Padahal bahaya buat dirinya sendiri, tapi tetap aja banyak yang balapan," tuturnya.
Sementara itu, Dedi Junaedi warga Dengklok lainnya meminta polisi turun tangan mencegah kenakalan remaja tersebut. "Kalau memang diperingatkan sudah tidak bisa, sebaiknya polisi saja yang langsung turun," desak pria berkumis ini.
Baginya, jika terus dibiarkan, maka akan menjadi budaya turun temurun dan diwariskan pada generasi penerus. Apalagi bulan Ramadan seharusnya tingkat kejahatan dan kenakalan berkurang bukan malah bertambah. "Masa yang begini dibiarkan saja," tanya dia.
Ia juga mendesak agar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di kecamatan aktif memantau situasi. Anggota Linmas harus diberdayakan sebagai ujung tombak keamanan di tengah masyarakat. "Berdayakan Linmas aja, kalau ada yang mencolok dan tidak sanggup sendiria, segera lapor ke kecamatan. Kecamatan gak sanggup juga, minta tolong polisi," tutup dia. (fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template