Mengejar Ilmu Sampai Tiongkok - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Mengejar Ilmu Sampai Tiongkok

Mengejar Ilmu Sampai Tiongkok

Written By Mang Raka on Jumat, 17 Juni 2016 | 19.31.00

Musim Panas, Puasa 16 Jam

Berbeda dengan waktu Indonesia yang rata-rata hanya berpuasa menahan lapar dan haus sekitar 13 jam dari pukul 04.30-17.50, berpuasa di negeri tirai bambu Tiongkok justru berlangsung selama 16 jam. Dari pukul 04.30 sampai pukul 19.30 waktu setempat.
Bukan saja waktu yang lama, masyarakat muslim di sana juga diuji dengan musim panas yang mencapai 40 derajat celcius. Namun, ujian itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Regy Sukma, mahasiswa asal Kampung Poponcol, Desa Ciwulan, Kecamatan Telagasari, yang saat ini kuliah di Universitas Liuzhou City Vocational College (LCVC), Liuzhou, Guangxi, Tiongkok Selatan.
Berpuasa di negeri orang memang baru dialaminya tahun ini. Melalui sambungan Blackberry Messenger, mahasiswa jurusan teknik mesin itu berbagi pengalamannya.
Alumni SMAN 1 Telagasari ini menceritakan, di negeri tirai bambu selama puasa dan Idul Fitri tidak ada hari libur sama sekali. Sehingga selama Ramadan dan Idul Fitri, dirinya pastikan tidak bisa mudik ke Tanah Air. Karena waktu perkuliahan di kampusnya terus berlangsung. "Di Tiongkok waktunya (puasa) lebih panjang 3 jam," ujarnya.
Tidak itu saja, terus mahasiswa yang tinggal di Kota Liuzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok Selatan, ini dari kontrakan ke masjid jaraknya lebih dari 20 kilometer. Sehingga selama puasa dirinya kesulitan untuk salat tarawih berjamaah, karena lokasi masjid begitu jauh. "Kalau dicontohkan jaraknya seperti dari Lemahabang ke Lamaran," katanya.
Bahkan sebatas buka puasa saja, ia tidak pernah mendengarkan kumandang azan. Melainkan hanya melihat jam dinding. "Alhamdulillah saya tetap lancar berpuasa, karena fasilitas kampus sangat nyaman ruang belajarnya. Cuma godaannya itu, wanita China saat musim ini kulit kuning langsat kelihatan," candanya.
Penerima beasiswa dari PT Saic General Motor Wuling (SGMW) ini menambahkan, meski belum lancar berbahasa Tiongkok, namun komunikasi dengan rekan lainnya normal-normal saja. Karena selain dirinya juga banyak mahasiswa asal Indonesia kuliah di kampus ini. Hanya saja, sebagai orang muslim yang berpedoman kepada ayat suci Alquran dan Hadist, dirinya mengaku sulit memperdalam ilmu agama di sini. Terlebih warga Tiongkok berideologi komunis. "Saya harus hati-hati memilah olahan makanan, karena tidak ada label halal dan haram," ungkapnya.
Ia melanjutkan, mayoritas penduduk Tiongkok, 70 persen mengkonsumsi daging babi. Karena menjadi menu utama rakyat Tiongkok, harganya 4 kali lipat lebih murah dari daging sapi. "Pokoknya daging-dagingan mah 70 persen haram. Yang halal dimakan cara nyembelihnya beda, apalagi yang banyak seperti daging babi. Makanya saya kalau sahur dan buka makanannya paling telur sama sayur saja," keluhnya.
Lebih jauh pemuda asli Kampung Poponcol ini menambahkan, selama puasa dan Idul Fitri tidak ada kalender orang Tiongkok tanggalnya merah. Bahkan kampus-kampus juga aktif saja saat Idul Fitri. Untuk kali pertama baginya, mungkin tidak akan menikmati puasa di kampung halaman begitupun Idul Fitri. Meski begitu, Regy mengaku tetap semangat menuntut ilmu. Ia harus tangguh walaupun saat Idul Fitri tidak bisa berjumpa dengan orangtua dan saudara. "Nangis mah mungkin. Tapi ya ini resiko petualang. Harus tangguh. Karena puasa dan Idul Fitri tidak bisa pulang kampung," pungkasnya. (rud)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Bole minta nomor wechat atau QQ atau pin bbm nya? Mau tanya2 lbh detail ttg belajar disana. Trima kasih.

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template