Limbah Pabrik Purwakarta Masuk Karawang - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Limbah Pabrik Purwakarta Masuk Karawang

Limbah Pabrik Purwakarta Masuk Karawang

Written By Mang Raka on Rabu, 22 Juni 2016 | 20.30.00

KARAWANG, RAKA - Sungai-sungai di Kabupaten Karawang sudah tidak sehat lagi. Selain Cibeet dan Citarum, sungai-sungai kecil juga tidak luput dari limbah pabrik. Parahnya, yang mencemari sungai tersebut justru pabrik dari kabupaten tetangga. Purwakarta dan Subang.
Sungai Cipangulah misalnya, sudah satu minggu ini terlihat berwarna biru. Padahal, sebelumnya sungai yang melintasi Desa Pangulah Utara, Kecamatan Kotabaru, itu tidak pernah berubah warna apalagi berbau. "Setiap hari Selasa selalu berwarna. Jika dibiarkan bisa merusak kesehatan warga," ungkap tokoh masyarakat Perumahan Eka Mas Permai, Desa Pangulah Utara, Tuntun kepada Radar Karawang, Selasa (21/6) kemarin.
Ia melanjutkan, pencemaran sungai ini diduga dilakukan oleh pabrik di Desa Cibodas, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta. Ia meminta Pemkab Karawang mendesak Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Jawa Barat, melakukan tindakan terhadap pabrik yang mencemari Sungai Cipangulah. "Jika tidak segera ditindak, warga pasti bertindak," tandasnya.
Hal serupa juga dialami Sungai Cilamaya. Berdasarkan catatan Radar Karawang, pencemaran sungai yang membentang dari Kabupaten Subang, Purwakarta, Karawang hingga laut Jawa, itu semakin parah sejak 10 tahun lalu. Berkali-kali sampel air sungai tersebut diambil oleh BPLH Kabupaten Karawang maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat, berkali-kali pula aktivis lingkungan melakukan kajian, namun hasilnya selalu nihil. Lima perusahaan yang diduga kuat membuang limbah berbahaya ke sungai tersebut, yaitu PT Assosiated British Budi (ABB) yang memproduksi frustose dan glucose, PT Gede Karang (GK) yang memproduksi kertas koran dan PT Sanfu juga memproduksi kertas serta pulp, industri kertas Papertech dan PT Budi Makmur Perkasa (BMP), tidak pernah tersentuh. Akibatnya, sungai yang mengaliri 250 hektare tambak di Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, semakin pekat, berbau dan beracun.
Dampak dari limbah cair beracun itu kini semakin terasa. Jika masuk musim hujan, masyarakat Cilamaya khawatir terkena penyakit gatal-gatal, karena Sungai Cilamaya kerap meluap dan menenggelamkan pemukiman mereka. Sementara saat musim kemarau, masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Cilamaya, seperti Desa Tegalwaru, Mekarmaya, Cilamaya dan Muaralama, itu terpaksa menghirup bau menyengat. "Saking sangetnya bau tersebut mengakibatkan saya kehilangan keseimbangan. Jadi kayak orang mabok aja," kata Fani Anwar (43), warga Dusun Bojong RT 01/03 Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan.
Sementara Kepala BPLH Karawang Setya Dharma mengatakan, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memberikan teguran kepada perusahaan di Purwakarta dan Subang. "Untuk wilayah Purwakarta dan Subang ada di kewenangan BPLH Jawa Barat," ungkapnya. (psn/rud/dri)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template