Dua Bupati Berebut Simpatik - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Dua Bupati Berebut Simpatik

Dua Bupati Berebut Simpatik

Written By Mang Raka on Senin, 13 Juni 2016 | 21.38.00

TELAGASARI, RAKA - Pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Barat masih menyisakan setahun lagi. Karawang sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk 2,2 juta jiwa, terus dibidik sejumlah bakal calon (balon) gubernur pengganti Ahmad Heryawan.
Dua bupati asal Jawa Barat yang digadang-gadang maju, mulai getol menyambangi Kota Pangkal Perjuangan ini. Sebut saja Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta yang kini menjabat Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat mulai getol konsolidasi, melalui kegiatan safari pengajian Ramadan. Terhitung Sabtu dan Minggu, Dedi ngaji bersama KH Jujun Junaedi bersama masyarakat Cilamaya Wetan. Sementara Minggu malam Senin, bupati kelahiran Subang itu juga menggelar kegiatan serupa di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon.
Hal serupa dilakukan Bupati Tasikmalaya UU Ruzhanul Ulum. Dalam sepekan terakhir juga menyambangi Karawang. Selain menyapa para sopir angkot, kader muda Nahdlatul Ulama Jawa Barat ini juga mengunjungi sejumlah pesantren dan para kiai. UU mengatakan, menjadi gubernur bukan tekad utamanya. Selama memimpin Tasikmalaya dengan jumlah penduduk 2 juta jiwa, dirinya hanya ingin memberikan manfaat bagi masyarakat, karena itu yang digariskan Allah SWT.
Jika dirinya ditakdirkan menjadi gubernur, maka yang dianggap baik oleh masyarakat Jawa Barat yang sudah ditorehkan Ahmad Heryawan, dirinya bertekad meneruskannya. "Menjadi gubernur itu bukan menjadi tujuan utama. Yang penting saya luruskan niat agar bisa membawa manfaat bagi orang banyak," ungkapnya kepada Radar Karawang.
Lebih jauh balon yang sudah menggandeng Effendi Ghozali sebagai konsultan politiknya ini menambahkan. Misi utama jika dirinya ditakdirkan sebagai gubernur, adalah menggerakan pembangunan desa. Sebab, desa merupakan miniatur ketercapaian pembangunan kecamatan, kabupaten maupun provinsi.  Karena terus UU, adalah sia-sia jika kabupaten dan provinsi maju, tetapi desa masih termarjinalkan. Perlu jalan untuk menentukan arah yang jelas bagi sumber daya alam, dan sumber daya manusia di desa-desa. Jangan sampai kesejahteraan yang dicita-citakan sejak lama sulit diwujudkan, karena kedua potensi itu tidak tercapai. "Desa adalah miniatur pembangunan. Sia-sia saja jika kabupaten dan provinsi maju jika desa masih ada yang termarjinalkan," ujarnya.
Lebih jauh pria yang akrab disapa Kang Uu ini menambahkan, sebagai wujud ikhtiar, gerakan membangun desa menjadi prioritas misinya. Ia menjamin pemberdayaan dan prilaku gotong royong di desa. "Bukan tidak ada potensi di desa, tetapi ini harus ditopang dengan inovasi dan kreatifitas masyarakat desa. Sehingga tidak melulu ketergantungan ke bantuan kabupaten, provinsi atau pusat dalam menggelorakan ekonomi desa," ungkapnya.
Ia melanjutkan, semua fasilitas udah dirasakan masyarakat desa. Listrik misalnya, semua sudah menikmatinya. Ini harus dimanfaatkan untuk menggerakan ekonomi desa. Karena menjadi peluang ekonomis bagi anak-anak muda yang kaya inovasi. Misalnya dengan usaha produktif. Sehingga dengan inovasi itu, turut serta menekan angka yang mengesankan sumber ekonomi selalu tertumpu di kota-kota, dan tega meninggalkan desanya. Padahal, sebut UU, 50 persen ekonomi dan pembangunan di perkotaan hanya dikuasai perorangan saja. Dari sini tambah kader muda Pesantren Manonjaya ini, gerakan desa dibangun untuk kemaslahatan masyarakatnya di masa mendatang. "Desa itu identik dengan gotong royong. Indikator pembangunannya harus dipecahkan dengan inovasi baik di pendidikan, kesehatan, pemberdayaan hingga ekonomi di desa-desa," ujarnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template