Dikejar-kejar Wanita Bercadar di Masjidil Haram - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Dikejar-kejar Wanita Bercadar di Masjidil Haram

Dikejar-kejar Wanita Bercadar di Masjidil Haram

Written By Mang Raka on Sabtu, 11 Juni 2016 | 16.30.00

Pulang Dihadiahi Sajadah dan Kitab Tafsir


Nani Rustini (45) warga Dusun Bengle RT 01/01, Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, bersyukur dapat berangkat menunaikan ibadah umrah tanggal 2-9 Maret lalu.
Lelah selama 9 jam berada di pesawat menuju Arab Saudi, dijawab sudah setelah seorang ibu rumah tangga ini melihat langsung Kabah. Dan bisa beribadah di tanah haram tersebut.
Pegal-pegal, rasa cepat lelah dan kesemutan yang sering dirasakan saat berada di tanah air, mendadak hilang seketika saat menginjakan kaki di tanah suci selama 8 hari. Syarat dan rukun umrah dipenuhinya satu persatu lazimnya jemaah lain. Tanpa banyak pikiran, Nani mengaku di waktu paling bersejarah dalam hidupnya itu, begitu mudah dan lancar beribadah. Bahkan longgar mencium Hajar Aswad, telapak kaki Nabi Ibrahim AS sampai Makam Rasulullah SAW di Raudhoh. "Lelah, pegal dan kesemutan hilang semua saat di tanah suci. Karena izin Allah, berhasil masuk ke tempat-tempat penting dan menciumnya. Alhamdulillah," ujar Nani kepada Radar Karawang.
Dirinya mengaku tidak kuasa menahan haru, karena bisa melaksanakan tiga tawaf sangat lancar. Baik tawaf wajib, tawaf sunah dan tawaf wada. Karena mencium Hajar Aswad itu hanya bisa dilakukan saat tawaf sudah selesai. Dirinya berupaya terus menerobos dengan mudah menginginkan Kabah itu dipeluknya. Aroma wangi dan kesejukan bisa mencium dan memeluk Kabah tidak bisa diceritakan secara logika. Begitupun dengan mudahnya ia mencium Hajar Aswad dan telapak kaki Nabi Ibrahim AS.
Dirinya melihat, telapak kaki nabi yang digelari Kholilullah itu tiga kali lebih besar dari telapak manusia saat ini. Kebesaran Allah terus mendetak jantungnya dengan lisan tak henti-henti berzikir mengagungkan asma Allah.
Di Raudah Masjid Nabawi sebut Nani, dirinya menghadap makam Rasulullah dan melantunkan doa-doa salawat atasnya. Dengan salat sunah mutlak dirinya penuh harapan syafaatnya atas orang yang diagungkan umat Islam, dan nabi akhir zaman itu. Hanya saja, di lokasi ini begitu sangat berdesakan. Bahkan baru salat satu rakaat saja, kadang-kadang sudah berdesakan dan sulit sesempurna yang dibayangkan. "Di Raudhoh saya nangis lama di hadapan makam Nabi. Saya berdoa untuk keluarga dan keberkahan," ucapnya.
Ada cerita menarik terus Nani, saat di Masjidil Haram. Dirinya melihat wanita kulit hitam dengan cadar hitam sedang lari-lari entah siapa yang dikejar. Namun anehnya, justru yang dituju adalah dirinya. Ternyata wanita Arab itu hanya sebatas mau memberikan sajadah padanya, kemudian pergi lagi. Entahlah terus Nani keheranan, ada saja yang berbuat baik. Karena saat dipikirkan, dirinya saat berangkat memang tidak membawa sajadah. Tapi sempat menggerutu saat di Mekkah. Dirinya menyesal tidak membawa sajadah saat hendak ke tanah suci. Kontan sebut Nani, sajadah itu ada yang ngasih saat di Masjidil Haram.
Kejadian serupa juga terjadi di Masjid Nabawi. Seorang pedagang kitab memanggil-manggilnya, entah apa yang dimaksud dirinya kurang paham bahasanya. Namun tidak lama ia keluarkan dua kitab tafsir bernama Tafsir Al 'Isyrul akhir, dan diberikan kepada Nani untuk sering dibaca. Karena dirinya tidak mengerti maksudnya, ia terima saja. "Mungkin ini balasan amal saat di tanah air. Saya diberi sajadah, kitab tafsir sampai kacamata, sama orang-orang yang sebenarnya tidak saya kenali," ujarnya.
Di akhir hari umrohnya, Nani melakukan tawaf wada alias perpisahan dengan Baitullah. Hatinya tersayat akan selalu rindu dengan tanah tempat kiblat kaum muslim ini. Beragam cerita diakuinya akan selalu dikenang, dimana setiap tempatnya dijanjikan amal kebaikan dilipatkan. Doa diijabah dan lisan yang selalu basah dengan zikir. Jika ada rezeki lagi, dirinya tidak akan pernah kapok untuk kembali ke tanah suci untuk ibadah haji.
Baru sesampainya di rumah usai umroh, dirinya kembali pegal dan kesemutan seperti biasa. "Ya sudah di rumah lagi, eh pegel dan kesemutan ada lagi," tutupnya. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template