Beli Gabah Petani, Bulog Ditantang Transparan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Beli Gabah Petani, Bulog Ditantang Transparan

Beli Gabah Petani, Bulog Ditantang Transparan

Written By Mang Raka on Kamis, 30 Juni 2016 | 15.00.00

CILAMAYA KULON, RAKA - Harga gabah yang anjlok di golongan air hilir sampai di bawahh Harga Pokok Pemerintah (HPP) Rp 3,7 ribu per kilogramnya, menjadi agenda pertanyaan masyarakat tani di Cilamaya Kulon dan Tempuran di sela-sela reses anggota DPRD Karawang.
Harga gabah yang rendah itu menjadikan Bulog Subdivre Karawang Bekasi, Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) mendapat sorotan tajam. Anggota Komisi B DPRD Karawang H Unang Sunandang mengungkapkan, selain soal infrastruktur yang banyak dikeluhkan, masyarakat juga banyak mengeluhkan harga gabah yang rendah di bawah HPP. Parahnya lagi, gabah yang sudah dipanen di wilayah hilir juga tidak laku dijual.
Unang mengaku prihatin, karena saat petani kesulitan, Bulog dinilainya tidak optimal mengejar target Serapan Gabah Petani (Sergap) sebagaimana programnya, bahkan data terakhir menyebutkan bahwa serapan gabah petani yang dibeli mitra-mitra bulog di lapangan belum sampai 40 persen.
Kata Unang, harusnya ada keseriusan dari Bulog menyerap gabah petani yang sudah anjlok dari hulu sampai hilir. Karena biar bagaimana pun, petani kadang-kadang pasrah harga rendah asal laku dijual karena untuk keberlangsungan modal selainjutnya. "Ternyata target Bulog ini 40 persen juga belum, lantas kemana selama ini peran dari para kontraktor mitra-mitra Dolog tersebut menyerap gabah petani?" tanyanya.
Kalah saingnya Bulog dengan para tengkulak, membuktikan bahwa Bulog masih belum optimal memenuhi targetnya. Meski demikian, Bulog yang merupakan kepanjangan tangan BUMN pusat, baik Pemkab maupun legislatif tidak bisa mengintervensi lebih jauh. Tapi setidaknya, Komisi B sudah memintai klarifikasi dan menyarankan agar lebih serius menggarap serapan gabah petani.
Unang juga mempertanyakan peran Badan Ketahan Pangan (BKP) Kabupaten Karawang yang juga memiliki wewenang membeli gabah petani dengan harga pasar. Pasalnya, BKP ini kabarnya sudah membentuk Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM), kepada 4 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), yang masing-masing diberikan modal dari APBD Provinsi senbesar Rp 200 juta untuk membeli gabah petani. Dia mempertanyakan transparansi BKP yang di lapangan yang melibatkan BP3K.
Sejauh ini pihaknya tidak tahu uang Rp 800 juta itu di kelompok mana saja dan untuk apa saja, padahal target swasembada pangan yang menjadi program BKP itu uangnya dimaksudkan untuk membeli gabah sesuai pasaran tanpa menunggu HPP. "Ada beberapa Gapoktan dapat bantuan LPMD ini sebagai target swasembada pangan, tapi tidak terlihat. Gapoktan mana yang membeli padi untuk meredam harga gabah selama ini?" ungkapnya.
Unang juga mempertanyakan apakah sasaran Gapoktan ini salah atau memang diberikan kepada gapoktan yang tidak memiliki fasilitas penggilingan padi? Menurutnya, cepat atau lambat pihaknya akan mengawasi persoalan ini lebih intensif lagi. "Apakah LPMD ini salah sasaran, kita akan inventarisir lebih lanjut nanti," pungkasnya.
Sebelumnya, beberapa petani termasuk kepala desa mempertanyakan harga gabah yang rendah. Itu semakin menjadi-jadi saat gabah tidak laku dijual, bahkan laku juga dihutang dari berbagai jenis varietas. "Kemana bulog yang katanya mau beli gabah petani teh, harga gabah sudah rendah, gak laku dijual pula, pusing petani mau lebaran juga ," Ungkap Kades Sumberjaya Kasman Ebod. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template