Bangun Kebon Binatang di Karawang Selatan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Bangun Kebon Binatang di Karawang Selatan

Bangun Kebon Binatang di Karawang Selatan

Written By Mang Raka on Senin, 20 Juni 2016 | 15.30.00

TEGALWARU, RAKA - Selain potensi-potensi yang saat ini sudah ada, potensi lain yang belum tergali seperti sumber daya hutan Tegalwalru perlu dikembangkan. Misalnya dengan pengembangan hutan sebagai wisata kebun buah-buahan dan lahan pertanian menjadi wisata pertanian. Kedua sektor itu saat ini memiliki daya jual yang tinggi. Selain wisata religius yang juga tak kalah banyak peminatnya.

Hal itu diungkapkan pemerhati pariwisata Sinatra Maiden, beberapa waktu lalu. Dalam surat elektroniknya dia mengatakan untuk mewujudkan Kecamatan Tegalwaru sebagai sentra pariwisata bukan hal yang tidak mungkin. Hanya saja memang perlu dukungan pemerintah daerah, baik secara moril maupun materil. Terutama dalam hal perbaikan infrstruktur dan perubahan ke arah yang lebih baik dan untuk kepentingan masyarakat.
"Pariwisata di Tegalwaru tidak terlepas dengan keberadaan sejumlah situs purbakala yang ada di wilayah tersebut. Seperti Situs Kebonjambe, sawah batu dan situs kuta tandingan. Untuk wisata alam, objek-objek wisata itu juga tak kalah banyaknya. Bahkan hampir secara merata tersebar di dua kecamatan Tegalwaru maupun Pangkalan," tambah Sinatra.
Dia menyebutkan sejumlah objek wisata seperti wisata air terjun tujuh curug yang selama ini menjadi target kunjungan wisata wisatawan. Curug Ciegeuntis misalnya dengan keindahan air terjunnya atau Curug Bandung yang tak kalah bagusnya. Itu baru dua dari tujuh curug yang menjadi kebanggaan masyarakat karawang selatan, selain goa alam citaman yang menjajikan keunikan alam yang mengukir isi goa dengan pemandangan yang menakjubkan.
Selain itu, potensi-potensi lain yang patut dikembangkan juga potensi ekowisatanya melalui pengembangan sumber daya hutan dan pertaniannya. Misalnya dengan pengembangan hutan sebagai wisata kebun buah-buahan dan lahan pertanian menjadi wisata pertanian. Selain wisata alam lainnya seperti curug dan wisata sejarah. Jika keseluruhan potensi tersebut bisa dikembangkan bukan hanya bisa menjadi salah satu penyumbang PAD potensial tetapi juga turut memicu peningkatan perekonomian masyarakatnya, melalui pengembangan usaha rumahan yang pastinya akan turut terpicu.
Malah jika dicermati lebih seksama lagi, wilayah inipun berpotensi untuk kehadiran kebon binatang. "Kalau saya jadi bupati, di Pangkalan atau Tegalwaru ini akan saya buat kebon binatang. Potensinya cukup bagus karena terintegrasi dengan potensi wisatanya. Jadi saya akan buat wilayah ini jadi sentra pariwisata Karawang," ucap  Charli Joper, komentator Kapling Rakyat. Dia mengomentari status andai anda bupatinya menyaksikan besarnya potensi wisata di Kecamatan Tegalwaru dan Pangkalan, apa yang mesti anda lakukan.
Charli optimis, apa yang diungkapkannya itu bukan hanya mimpi. Terlebih jika mencermati potensi kecamatan Tegalwaru dan Pangkalan yang kaya dengan wisatanya. Sementara untuk sumber dananya bisa memanfaatkan dana-dana CSR yang selama ini mengalir dari kawasan-kawasan industri di Karawang. Bisa dibayangkan dengan dana CSR yang sangat besar itu Karawang akan memiliki kebun binatang setingkat Ragunan di Jakarta yang menjadi sumber PAD tidak sedikit bagi pemerintah DKI Jakarta.
Senada itu, Akam, pemerhati infrastruktur di daerah itu, menambahkan keterlibatan pemerintah daerah dalam pengembangan sektor pariwisata tidak terlepas dari perbaikan infrastruktur, termasuk petugas yang menegakkan peraturan. Dia memperumpamakan aktivitas truk-truk pada saat musim kunjungan wisatawan, itupun perlu ditertibkan. Selama ini selain kondisi jalan, wisatawan juga banyak mengeluhkan lalulalang truk-truk di jalan utama Badami Loji yang merupakan jalur utama wisata menuju Karawang Selatan. "Sudah saatnya pemerintah menegakan aturan yang benar di Karawang Selatan ini. Tak ubahnya masyarakat yang patuh pada peraturan hendaknya seperti itu juga pemerintah tegas menegakan aturan yang ada," tegasnya.
Bukti kepatuhan warga seperti yang dilakukan para sopir angkutan umum, mereka melengkapi statusnya sebagai sopir dengan surat-surat kendaraan berikut legalitas pengemudi, hingga mengikuti aturan-aturan lainnya yang dikeluarkan oleh pihak Organda. Sementara mobil perusahaan yang jelas-jelas melanggar sepertinya terus dibiarkan, malah terkesan didukung oleh aparatur pemerintah yang seharusnya menegakan aturan.
Hingga kini Kondisi jalan Badami-Tegalwaru sudah seperti jalan proyek dan bukan jalan umum. Padahal jelas jalan tersebut milik pemerintah yang mutlak untuk dirawat dan diperuntukan sebagai penunjang kebutuhan peningkatan ekonomi masyarakatnya. Kini kondisinya jika melihat sekilas sudah seperti jalan milik swasta atau seperti jalur proyek dimana masyarakat selaku pemilik dari jalan tersebut sudah seperti menumpang pada jalan milik swasta. (ari)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template