Tinggi Angka Kecelakaan Anak Dibawah Umur - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Tinggi Angka Kecelakaan Anak Dibawah Umur

Tinggi Angka Kecelakaan Anak Dibawah Umur

Written By Mang Raka on Kamis, 12 Mei 2016 | 15.30.00

*Pemda Dimintai Solusi soal Angkutan Umum

TEGALWARU,RAKA - Tingginya angka kecelakaan lalulintas belakang ini terjadi di sejumlah ruas jalan di wilayah Kecamatan Tegalwaru yang melibatkan anak dibawah umur, membuat para orang tua di wilayah itu dilanda kegelisahan. Mereka berharap ada tindakan dari pihak-pihak terkait yang mampu menekan angka tersebut.

Seperti berlangsung di wilayah Karawang selatan, rata-rata para pelajar dan pemuda usia pelajar mengendarai motor sebagai moda transportasinya. Sementara etika mengendarai kendaraan bagi mereka kurang diperhatikan hingga rentan kecelakaan. Cici (34) misalnya warga kampung Cidoro, Desa Cigunungsari, menyampaikan, dirinya prihatin dengan perkembangan sosial saat ini, karena banyak pelajar yang mengendarai kendaraan roda dua bersikap arogan dan tidak pernah mengindahkan kepentingan pengguna jalan lainnya.
"Jawabannya sebetulnya ada di orang tua masisng-masing. Pengawasan terhadap anak-anaknya terlalu longgar hingga mereka menjadi seperti itu. Kalau mecermati usia mereka rata-rata masih muda sepertinya belum memiliki SIM. Itu saja sudah membuktikan kalau mereka belum mengerti aturan-aturan lalulintas," ucap Cici, Rabu (11/5). Karenanya, Cici berharap ada sosilisasi hukum dilakukan aparat dan dinas terkait langsung ke sekolah, untuk memberi pengertian agar tidak membawa motor sebelum memiliki SIM.
Hal itupun ditegaskan Surya (56) tokoh masyarakat Desa Wargasetra. Menurut dia, kondisi seperti itu harus disikapi dewasa oleh semua pihak, karenanya perlu pengawasan semua pihak. Semua harus saling bersinggungan, sementara ketegasan belum berjalan secara serius di wilayah Karawang selatan baik oleh pemerintah maupun oleh lingkungan. "Pengawasan itu bukan milik kepolisian saja akan tetapi milik semua aspek agar mereka mentaati perlu kiranya duduk bersama dan membahasnya dengan serius agar bisa menjadi solusi yang tepat agar mereka lebih taat aturan menggunakan kendaraan bermotor khususnya roda dua," paparnya.
Sementara Jaelani (40) menerangkan, malah menjadi dilema bagi masyarakat jika mereka tidak mengendarai motor. Sampai sekarang belum ada angkutan umum yang masuk ke pelosok desa membawa para pelajar untuk bersekolah. Kalau tidak menggunakan kendaraan sendiri bagaimana siswa bisa sampai ke sekolah. "Bagi kami yang tinggal di pelosok serba salah dengan kondisi seperti itu. Bukan hanya persoalan bagaimana sampai ke sekolah tetapi juga sosialisasi kami sebagai pelosok tanpa angkutan umum bisa berbuat apa. Itu juga berlaku bagi anak-anak sekolahnya," ucapnya.
Kendati demikian Jaelani mendukung semua program yang diberlakukan pemerintah. Termasuk larangan mengendarai motor kepada anak-anak sekolah yang tidak memiliki SIM. Tertapi sebelum kebijakan itu diberlakukan, pemerintah daerah juga memberikan solusi terhadap kebutuhan angkutan umum ke wilayah-wilayah pelosok yang selama ini belum terjangkau angkutan umum. (yfn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template