Tiap Bulan Tiga Anak Diperkosa - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Tiap Bulan Tiga Anak Diperkosa

Tiap Bulan Tiga Anak Diperkosa

Written By Mang Raka on Kamis, 12 Mei 2016 | 15.00.00

KARAWANG, RAKA - Karawang jadi kabupaten yang mengerikan bagi para kaum perempuan dan anak-anak. Setiap bulannya, para predator seks menumbalkan tiga korban. Pemerintah kabupaten tidak boleh memandang remeh persoalan ini.
Sesuai data yang didapat Radar Karawang dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), selama kurun waktu lima tahun terakhir sudah terjadi 162 kasus pelecehan seksual. Atau jika dirata-ratakan per bulannya terjadi tiga pelecehan seksual terhadap anak.
Pengurus P2TP2A Karawang, Ine Mulyati mengatakan, kasus kekerasan atau pemerkosaan terhadap kaum perempuan memang terus bermunculan. Selain korbannya mengalami trauma, juga masa depannya hilang. Parahnya, hukuman yang diterima pelaku tidak setimpal dengan dampak yang diderita korban. Padahal jika dibandingkan dengan negara lain, kata Ine, predator seks bisa dihukum 20 sampai 30 tahun. Ini membuat jera bagi para pelaku yang sudah tega menghancurkan para korban. "Kita memang tidak bisa menyalahkan hakim 100 persen, karena undang-undang yang ada terbatas," ujarnya.
Ia melanjutkan, kedepan pemerintah harus mengubah undang-undang tersebut dengan hukuman maksimal. Jika perlu hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual. "Untuk kasus pelecehan seksual sendiri baru ada 2 yang masuk pengadilan. Dan sisanya selain kurang bukti, sebagian berujung pada perceraian bagi kekerasan rumah tangga, dan sisanya musyawarah," tuturnya.
Sementara itu, seorang ibu korban pemerkosaan, Pindriawati mengaku anaknya trauma. Kini masa depan anaknya sudah hancur. "Kondisi anak saya trauma. Setiap melihat laki-laki langsung ketakutan, dan bahkan berteriak minta tolong ayahnya," kata Pindriawati kepada Radar Karawang.
Selain masih trauma, DP sendiri harus rela kehilangan masa depan untuk bisa belajar seperti anak-anak lain di usianya saat ini. Ia seharusnya belajar di bangku sekolah SLTA. "Untuk sekolah saja terpaksa berhenti, karena DP merasa minder," terangnya. (dri)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Cabul dan pemerkosa tidak cukup ditambah dengan kebiri ... kasus yg lebih berat lagi harus dipotong titit

    BalasHapus

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template