Pedagang Sarankan Impor Sapi Ketimbang Daging - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pedagang Sarankan Impor Sapi Ketimbang Daging

Pedagang Sarankan Impor Sapi Ketimbang Daging

Written By Mang Raka on Selasa, 10 Mei 2016 | 13.00.00

KARAWANG, RAKA - Pedagang daging sapi Karawang menolak rencana Badan Urusan Logistik (Bulog) pusat mengimpor daging sapi untuk memenuhi permintaan kesiapan bulan ramadan. Pedagang khawatir pembeli sulit membedakan mana daging segar yang mereka jual dan mana daging impor yang tidak segar.

Seperti diungkapkan Fahrul (24) pedagang sapi Pasar Johar, Senin (9/5) daging sapi impor adalah daging yang tidak segar, sementara konsumen yang berasal dari pedagang olahan daging penjual bakso dan penjual makanan lainnya menggunakan daging segar sebagai bahan olahan. Ditakutkan, mereka tidak bisa membedakan mana daging impor dan mana daging segar. "Tidak masalah jika konsumen tahu yang mereka beli daging impor atau daging segar. Jadi mereka tahu mana produk daging lokal dan yang dari luar," tandas Fahrul.
Selain itu, lanjut Fahrul, harga yang beredar di pasar akan sulit diatur karena pesanan berkurang sedangkan stok tersedia. Jelas kita tidak akan menggunakan daging impor. Kalau misalnya pake impor jangan banyak-banyak dan jangan lama-lama juga," ujar Fahrul.
Sementara itu, untuk menyelamatkan stok daging dan harga murah dipasaran, kata Fahrul, pemerintah harus segera menyediakan sapi melalui impor dengan stok yang mencukupi pertumbuhan pasar di Indoneseia. "Kalau memang mau, mending perbanyak sapi impornya, karena sapi impor lebih murah dari sapi lokal," ungkapnya.
Sedangkan untuk memenuhi target pemerintah bahwa harga daging sapi dibawah Rp 90.000 per kilogram, bisa dipenuhi sejumlah pedagang asalkan pemerintah berani menetapkan nilai jual sapi ekor impor di sejumlah perusahaan penampung sapi impor yang dipercaya pemerintah dengan harga Rp 35.000 per kilogram. "Biasanya stok sapi impor langsung disebar kepada para penampung untuk dipelihara selama 3 bulan. Setelah itu mereka jual dengan harga Rp 43 Ribu per kilogram yang kita beli dalam bentuk ekoran. Sedangkan kalau misalnya harganya Rp 35.000 per kilogram kita dapat menurunkan harga dibawah Rp 90.000 per kilogram pada konsumen. Kalau sapi lokal malah lebih mahal bisa mencapai Rp 50 Ribu per kilogramnya di petani," tuturnya.
Fahrul berharap, untuk menjaga kestabilan harga daging di Indonesia, pemerintah perlu memperhatikan tiga hal yakni stok sapi, penentuan harga pada penampung sapi impor dan rantai pembelian sapi. Fahrul menambahkan, harga daging sapi saat bulan Ramadan nanti dipastikan tidak akan mengalami kenaikan harga yang sangat melambung. "Paling tetap diangka Rp 120.000 per kilogram ketika naik. Karena para penjual disini takut kehilangan konsumen," pungkasnya.(ega)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template